Alhamdulillah, hari ini usia saya tepat menginjak 21 tahun (berdasarkan penanggalan Masehi). Masih cukup muda kalau umur 21 itu disandang oleh seorang atlet sepak bola internasional, peraih medali emas Olimpiade, pembalap Formula 1/ motoGP, atau seorang artis peraih Grammy Awards serta piala Oscar. Tapi sudah sangat tua bagi seorang siswa sekolah menengah atas. Dan alhamdulillah, saat ini saya sudah tidak berstatus anak SMA, melainkan sudah menjadi seorang mahasiswa yang sudah memasuki tahun-tahun terakhir di kampus (amin).

Nomor 21

Diumur yang ke 21 ini, sesaat saya merenung apa saja yang pernah saya lakukan. Kebaikan, dan keburukan. Sepertinya saya tidak bisa menghitung semua nya. Tapi alhamdulillah, sejauh ini saya sudah berusaha untuk menjadi seorang pemuda yang baik, berbakti kepada orang tua, rajin belajar, rajin masuk kuliah, rajin mengerjakan tugas, rajin tertawa, tapi tidak rajin menabung. Tapi saya punya banyak alasan untuk tidak menabung tentunya.

Perjalanan menjadi seorang pemuda yang lebih baik

“Pendidikan yang baik adalah salah satu jalan terbaik untuk meraih masa depan yang baik pula”

Saya sangat setuju dengan kutipan diatas. Banyak orang yang sukses karena telah mendapatkan pendidikan yang baik. Dan entah karena terbawa arus, atau karena terbawa oleh inisiatif sendiri, saya juga berusaha menjadi pemuda yang baik dengan berusaha mendapatkan pendidikan yang baik pula. Saat ini saya sedang menjalani pendidikan di Universitas Hasanuddin, yang merupakan salah satu jalan untuk memperoleh pendidikan yang baik.

Meskipun sempat mengalami beberapa masalah soal passion ber kuliah, akhirnya inisiatif untuk memperbaikinya muncul, dan berusaha untuk dapat menyelesaikan kuliah dengan baik. Kuliah memang bukan satu-satunya jalan untuk memperoleh masa depan yang cerah, saya juga mengakui itu benar. Karena itu saya juga aktif menambah pengetahuan diluar kampus dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang edukatif, dan memperluas pergaulan diluar. Karena jaringan juga sangat menentukan kesuksesan seseorang kedepannya.

“Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”

Saya yakin anda pernah mendengar atau membaca kalimat tersebut. Kalimat tersebut dikutip dari Albert Einstein, salah satu ilmuwan terbesar di dunia (Bukan bahasa Indonesia tentunya). Selama beberapa tahun ini, alhamdulillah saya sudah berusaha mengamalkannya, dan mudah-mudahan menjadi semakin baik. Yakin bahwa yang mengangkat derajat itu salah-dua nya adalah iman dan ilmu. Semakin baik iman dan ilmu, semakin baik pula kita dimata Allah SWT. Syukur juga, karena selama 21 tahun ini saya tidak pernah terlibat pergaulan bebas, narkoba, dll.

Mau jadi apa saya?

Diusia yang sudah tidak lama lagi menjelang usia pertengahan ini, tantangan pun semakin berat kedepannya. Banyak pertanyaan yang sering terbayang dibenak saya belakangan ini. Salah satu yang paling berat untuk dimintai jawabannya adalah, “Mau jadi apa saya?” sudah lebih dari tiga tahun ber kuliah, tentu saja pertanyaan ini layak dipertanyakan oleh orang tua. Beliau (ortu) sudah sering menanyakan mau jadi apa nanti kalau sudah selesai kuliah? Beberapa alternatif ditawarkan (dimintai, tepatnya) diantaranya:

  1. Mau lanjut S2?
  2. Mau jadi Pegawai Negeri Sipil?
  3. Atau apa?

Sejujurnya, saya memang sudah sering memikirkan mau jadi apa saya ini nanti? Inilah yang sering mengganggu tidur ku dimalam hari, dan mengganggu makan ku di siang hari (lebbay). Terbayang beberapa tahun nanti kebutuhan hidup yang semakin bertambah, dan semakin kompleks, apalagi kalau  ditambah dengan perkara yang satu itu (menikah) wah wah wah…. Jadi tambah berat kepala ini, padahal S1 saja belum selesai. Terus terang, saya sangat ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (S2) namun mengenai bidang apa, saya juga belum yakin ingin melanjutkan ke bidang yang sama dengan sekarang ini (saat ini saya mengambil Prodi Pengembangan Wilayah dan Kota) atau kah bidang lain yang lebih menyenangkan. Mudah-mudahan ini bisa terjawab dalam waktu dekat.

Menjadi PNS adalah impian banyak orang, tapi entah kenapa kalau ditanyakan mau jadi PNS oleh ortu, yang terbayang adalah keluarga saya harus pandai me lobby pejabat-pejabat (negative thinking lagi) untuk meloloskan saya untuk jadi PNS. Tapi, rasanya saya sangat tertarik untuk menjadi seorang dosen (bagaimana mau jadi dosen, jadi mahasiswa saja masih belum beres). Kalau belum bisa jadi dosen, yang penting suatu saat nanti saya bisa terlibat dibidang pendidikan. Saya sangat setuju kalau mengajar itu menghasilkan amal yang tak terputus-putus sepanjang itu diamalkan atau disampaikan demi kepentingan yang baik.

Atau apa?

Aha, kalau ini saya juga punya alasan. Saya juga sangat tertarik menggeluti dunia entrepreneur. Saya punya cita-cita untuk membuat/menyediakan lapangan pekerjaan untuk orang lain. Lebih baik daripada sekedar menjadi pengisi lapangan pekerjaan. Dan ini sangat sejalan dengan upaya pemerintah dalam menumbuhkan semangat kewirausahaan masyarakat, sehingga dapat menekan masalah-masalah kependudukan yang timbul karena alasan ekonomi. Di dunia entrepreneurship ini, saya melihat bahwa siapa saja bisa bersaing, sejauh daya kreativitas kita dalam berkompetisi. Dan yang menjadi poin penting nya adalah kebebasan dalam mengelola usaha sendiri.

So, apa resolusi saya di usia yang ke 21 ini?

Bingung juga menjelaskannya secara detail. Pokoknya menjadi lebih baik, kuliah nya lebih baik, mainnya lebih baik, belajar nya lebih baik, ibadahnya lebih baik. Memulai dari yang kecil-kecil saja dulu lah. Karena terus terang banyak juga ide-ide saya yang belum terealisasi karena tidak memulai melakukannya. Final words, Terima kasih ya Allah, engkau telah memanjangkan umurku sampai dengan saat ini. Keluarga-keluarga, Teman-teman ku sekalian, tidak akan sampai disini saya kalau tidak ada kalian. Terbaik bagi mu, terbaik bagi mu, terbaik bagi mu!

Assalamu alaikum wrahmatullahi wabarakatuh.

*kayak pidato saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *