It might be boring for you

Setelah mengingat-ingat sambil mengayuh sepeda saat pulang tadi, bisa dikatakan secara umum malam mingguan di Rotterdam hanya saya habiskan di dua tempat.

Yang pertama, tentu saja di kamar saya. No surprise, for sure.

Yang kedua, di Indisische Stichting Rotterdam, atau yang biasa disingkat dengan ISR, atau bisa dibilang sebagai mesjid Indonesia di Rotterdam. Walaupun sebenarnya bentuknya secara fisik nampak seperti bangunan konvensional. Semua/ sebagian besar mahasiswa muslim dari Indonesia yang kuliah di Rotterdam pasti pernah mendengarnya. Tapi, sayang sekali tidak banyak yang pernah kesana.

Di ISR inilah salah satu tempat yang paling sering saya datangi saat malam Minggu di Rotterdam. Saya biasa ikut pengajian disana, hanya saja tantangannya adalah: bahasa pengantar ceramahnya sebagian besar dalam bahasa Belanda. Oh iya, ya, pengajiannya diadakan setiap malam minggu 🙂

Sambil tadi mengingat-ingat, saya hampir tidak pernah hangout malam mingguan di Rotterdam. Mungkin saya pernah beberapa kali ke tempat lain, itupun sekedar keliling naik sepeda, ke tempat yang kadang saya sendiri tidak mengerti kenapa bisa sampai kesana.

Sometimes my curiosity lead me to some srange places.

Kembali ke ISR tadi, kadang ada perasaan rindu ingin berkumpul dengan orang-orang keturunan Indonesia dalam suasana yang religi. Sambil tetap menjaga persaudaraan dengan orang-orang yang mungkin tidak akan pernah lagi saya temui dalam waktu beberapa bulan mendatang. Insha Allaah saya akan wisuda S2 bulan depan, dan setelah itu kemungkinan besar saya akan pulang ke Indonesia.

Saat ikut pengajian di ISR saya melihat beberapa hal yang unik, beberapa diantaranya adalah suami isteri campuran Belanda – Indonesia, dan mereka muslim. Sang suami orang Belanda, dan Isterinya orang Indonesia. Mereka kadang membawa anak-anak mereka, dari yang sudah dewasa seperti saya, sampai balita. Anaknya lucu-lucu dan menggemaskan. Kadang saya ingin mencubit pipi mereka.

I love kids and babies, anyway. They’re cute, in a pure way.

Hal unik lain yang baru-baru ini saya lihat adalah, Orang Belanda yang mengimami solat kami. Saya cukup terkejut ketika salah satu bapak-bapak bule maju kedepan dan memimpin solat berjamaah kami (walaupun jamaahnya hanya beberapa orang saja). Pengucapan ayat-ayatnya memang terdengar berbeda, bahkan kadang terdengar lucu, tapi yah itu lah, tidak semua orang dikaruniai dengan kefasihan membaca ayat Al Qur’aan seperti orang Arab. Tapi bagi saya tidak masalah, berani memimpin solat seperti itu sudah lebih dari cukup. Bapak-bapak bule tadi pasti sudah banyak berlatih membaca ayat Al Qur’aan, bacaan solat, dan gerakan-gerakan solatnya. Dan semua hal tadi saya pikir sudah dilakukan dengan benar.

Hal unik lain selain diatas adalah, makanan halal yang gratis. Tentu saja saya senang dengan hal ini, tapi ini bukan motivasi utama saya untuk ikut pengajian disana. Berkumpul dan kembali menyegarkan ingatan tentang ajaran agama adalah hal yang membuat saya bersedia meninggalkan apa yang saya lakukan dan mengayuh sepeda saya selama 25-30 menit adalah motivasi utama saya. Percakapan-percakapan dengan bapak dan ibu-ibu disana pun saya senang meladeninya, walaupun temanya kadang mengarah ke politik 😀 Tapi, siapa tau diantara tema-tema yang biasa diperbincangkan bisa memberikan saya pelajaran yang mungkin suatu hari nanti akan berguna.

I enjoyed those conversations, though 😀

Anyway,
Sekarang sudah jam 1:21 dinihari. Hari Minggu sudah mulai, tapi sebelumnya saya ingin istirahat dulu. Selamat tidur, dear me.

One thought on “Malam Mingguan di Rotterdam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *