Sejak kecil saya punya keinginan untuk memiliki sepeda sendiri. Meski ketika pindah tinggal bersama kedua orang tua kandung saya, bapak saya sudah punya sepeda. Tapi sayang, bukan sepeda yang cocok dikendarai anak seusia saya waktu itu. Kadang saya juga mengendarainya, tapi dengan menyesuaikan posisi tubuh saat mengendarainya. Dan itu tidak mudah.

Semuanya menjadi sedikit lebih baik ketika nomor undian bapak saya naik dan mendapatkan sebuah sepeda. Sebuah sepeda Mustang dengan rangka yang lebih mudah dikendarai. Sepeda ini kemudian menjadi sepeda saya. Tapi sebenarnya sepeda ini bukanlah sepeda yang “bisa diandalkan”, namanya juga sepeda hasil menang undian. Beberapa bagian pada rangka nya penyok dan stir nya juga sering mengalami masalah. Secara keseluruhan sepeda ini memang bisa dikatakan sepeda dengan kualitas rendah. Tapi biar bagaimana pun, itu lah sepeda pertama saya (selain sepeda tiga roda waktu masih balita).

Sepeda Mustang merah inilah yang selalu menemani saya. Ke sekolah, ke lapangan, atau pun ke tempat main game. Pernah suatu ketika, saya terkejut ketika sepeda ini tidak saya temukan ditempat dimana saya memarkirnya waktu main game. Saya sangat khawatir waktu itu, pasalnya kalau sepeda itu hilang, bagaimana dapat gantinya? Untungnya beberapa menit kemudian, sepeda itu kembali. Dan memang ada yang sempat pakai, tanpa minta izin. 🙁

Waktu SD saya sangat ingin memiliki satu sepeda custom, sebuah sepeda bermodel BMX, meskipun sepeda bekas. Tapi, uang saya tidak pernah cukup waktu itu, entah tabungan saya habis karena belanja apa. Mungkin karena dulu pas musimnya mobil Tamiya, jadi banyak uang dipake buat ongkosi mobil-mobilan itu.

BMX-Idaman
BMX

Sepeda BMX tidak kesampaian, akhirnya sisa masa-masa SD sampai SMP sepeda saya cuma si Mustang merah itu. Tapi terus terang, saya sudah jarang mengendarainya. Beberapa bagian rusak, dan saya kesulitan memperbaikinya. Jadi kira-kira, tinggallah dia di dalam rumah menjadi sarang laba-laba. Dan beberapa lama kemudian, sepeda ini berpisah dengan saya dalam damai. Paman saya membawanya ke kampung.

Sudah tidak punya sepeda lagi, masa SMP berjalan lancar-lancar saja. Alhamdulillah, sekolah SMP saya tidak jauh dari rumah. Saya bisa kesana dengan berjalan kaki sekitar lima menit saja.

Sampai dengan SMA, keluarga saya tidak pernah melakukan pembelian sepeda lagi, atau menang undian sepeda, atau mendapat pemberian sepeda. Singkatnya, waktu itu saya sungguh “bikeless”. Jauh didalam lubuk hati saya, saya merindukan sepeda. Sepeda, I missed you so much.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *