Sharing Pengalaman Dari Survey Lapangan (My Experience)

Ada banyak pengalaman yang telah saya alami selama melakukan survey lapangan (lokasi). Beberapa memberikan pelajaran/hikmah yang dapat dipetik untuk introspeksi diri. Survey yang telah saya lakukan sejauh ini berkaitan dengan kuliah (berhubung karena saya adalah seorang mahasiswa Teknik Pengembangan Wilayah dan Kota) atau pun berkaitan dengan survey proyek penataan ruang, perencanaan, pengembangan wilayah (urban and regional development/planning).

Land-Surveying-GPS-Rizqi-Fahma

Ilustrasi

Berbagai macam tempat menjadi lokasi survey saya (juga teman-teman lain). Mulai dari lokasi yang berada di tengah perkotaan, daerah pedesaan, perumahan/pemukiman, daerah kumuh, pertanian, peternakan, jalan, persampahan, sampai dengan daerah pesisir. Semuanya memberikan pengalaman tersendiri.

Sedih juga melihat mereka

Salah satu pengalaman yang paling berkesan dan cukup mengharukan adalah ketika saya melakukan survey di Kab. Sidrap. Tepatnya di kawasan peternakan sapi milik PT. BULI. Disana saya melihat bagaimana para pekerja melakukan pekerjaan yang menurut saya saya sendiri tidak mampu bertahan lama bekerja disana. Mereka bekerja memelihara sapi dengan menjaga pasokan makanannya, mengolah rumput gajah menjadi makanan sapi, membersihkan kandang sapi yang kotor, menjaga kesehatan sapi, dan lain-lain.

Pengolahan-Rumput-Gajah-BULI-Ranch

Pengolahan Rumput Gajah

Sejauh yang saya amati, mereka hanya melakukan hal yang itu-itu saja. Pasti bosan saya melakukan pekerjaan mereka itu. Berada ditengah pedalaman seperti itu membuat suasananya sangat berbeda dari yang saya alami selama berkuliah. Beberapa diantara mereka adalah perantau yang jauh dari keluarga. Mereka mungkin saja memimpikan pekerjaan lain yang lebih baik dari itu. Karena terbatas nya pilihan mereka, ditambah dengan tingkat pendidikan rendah membuat mereka “barangkali” terpaksa memilih menjadi pekerja di kandang sapi. Tapi, dari beberapa kali melihat bagaimana mereka melakukan pekerjaan mereka, sepetinya mereka tidak terlihat “benci” dengan pekerjaan mereka.

Mereka terlihat senang dengan apa yang mereka kerjakan. Berbeda dengan sebagian orang yang sudah bekerja di tempat yang lebih baik, dengan gaji yang lebih dari cukup, hidup dengan fasilitas mumpuni, namun tetap merasa banyak yang kurang dari itu semua. Sepertinya, bukan gaji yang besar dan fasilitas lengkap yang menjamin 100 % para pekerja peternakan menikmati pekerjaan mereka. Mereka sudah bersyukur dengan pekerjaan mereka. Salut melihat mereka melakukan pekerjaan mereka.

Teamwork itu mutlak!

Survey lapangan/lokasi biasanya mengharuskan kita untuk bekerja bersama tim. Disini lah dibutuhkan kerja sama tim (teamwork) yang baik. Bagaimana teknik pengambilan data, pembagian tugas, sampai dengan mengurusi perlengkapan survey. Terus terang saya juga selalu mengalami hal yang sama, seperti bagaimana cara mewawancarai penduduk setempat, masyarakat sekitar, hingga pegawai sebuah instansi yang sering berbeda dengan rekan se-tim. Biasa nya hal ini memakan waktu yang tidak sedikit, hanya untuk mendapatkan sedikit informasi yang kita butuhkan.

Buang jauh-jauh rasa malu

Pepatah yang mengatakan: “malu bertanya sesat dijalan” sangat berlaku di dunia survey lapangan. Pasti! Beberapa survey yang saya lakukan berada di tempat yang sama sekali belum pernah saya datangi sebelumnya. Jarak yang jauh, masuk pedalaman, dan jalan yang rusak adalah sesuatu yang lumrah. Suatu waktu saya dan seorang rekan saya mendapat proyek survey di sebuah kecamatan di sebuah kabupaten yang jaraknya ratusan kilo meter. Yang kami ketahui hanya nama kecamatan, nama kabupaten, dan apa yang harus kami survey. Betul-betul menantang! Kan ada peta? Itu dia masalahnya, Gas! Peta yang saya pegang waktu itu hanya peta Provinsi, bukan peta detail kabupaten tersebut. Otomatis, kami hanya mengandalkan insting, ditambah rasa PeDe yang tinggi untuk bertanya kepada warga sekitar. Sekali rasa malu bertanya muncul, maka siap-siap saja tersesat di daerah orang yang antah-berantah itu.

Fisik dan mental harus kuat!

Perjalanan menuju lokasi survey yang ber kilo-kilo meter itu membutuhkan fisik yang kuat bagi surveyor. Pengalaman saya, berkendara motor sampai beratus-ratus kilo meter tentu mengajarkan untuk mempersiapkan kondisi fisik yang prima sebelum survey, dan selama survey berlangsung. Sebelum survey sebaik nya istirahat yang cukup. Sangat berbahaya berkendara dalam keadaan lelah. Beruntung waktu itu saya dan teman saya bisa menginap di rumah keluarga nya, jadi tidak perlu lagi pusing soal mencari-cari lokasi penginapan. Selama survey, usahakan untuk tidak perlu melakukan gerakan yang membuang-buang tenaga, seperti berlari-lari, manjat-manjat pohon, kalau memang hal itu tidak diperlukan. Dan pastikan soal konsumsi makanan dan minuman yang juga harus cukup, kalau bisa lebih. :)

Mental pun harus kuat. Saya berulang kali mengalami “pergolakan batin”dengan diri sendiri. “Aduh, kenapa saya ikut survey ini, survey nya tidak enak. Jalanan jelek, kita tidak tahu jalan, takut tersesat, dll.” Nah itu dia, mental itu harus kuat. Bagaimana menjaga konsistensi, mood untuk tetap melanjutkan survey sampai selesai. Semakin sering survey semakin kuat juga mental surveyor nya.

Selalu ingat tuhan, kawan!

Berada di tempat yang asing, tidak ada teman, jauh dari keluarga, adalah konsekuensi bagi seorang surveyor. Beruntung, karena saya sudah pernah merasakannya. Bahkan sudah sering. Walaupun begitu, setiap daerah memiliki perasaan berbeda pula saat survey. Ada daerah yang sama sekali tidak ada sinyal, tidak ada listrik, pokoknya betul-betul pedalaman. Kalau begini, mana bisa berkomunikasi dengan keluarga dan teman yang jauh disana! Hanya tuhan lah tempat yang paling tepat untuk menyampaikan unek-unek.

Katakan lah, anda rindu dengan keluarga, teman, atau kah seseorang yang  spesial yang jauh disana. Sedangkan anda berada di daerah antah-berantah, tidak ada sinyal, tidak ada listrik, sudah malam pula. Ini lah saat-saat yang rapuh bagi surveyor (Aiiiihh…. Kena juga!) Dada jadi berdebar tidak karuan, salah sedikit air mata diam-diam menetes. Hanya tuhan lah menjadi tempat peraduan untuk menyampaikan kerinduan itu. Sesekali singgah lah shalat di masjid (bagi anda yang muslim) untuk kembali mendekatkan diri dengan yang maha kuasa, dan percaya deh rasa nya sangat beda dibanding shalat di mesjid sekitar rumah! Perasaan sedih, rindu, dll bercampur menjadi satu.

Intinya adalah bersyukur

Melihat keadaan dari objek survey yang beragam, membuat saya sedikit merenung. Betapa beruntung nya saya dibanding orang-orang lain diluar sana, yang hidup kurang layak, berjuang mencari nafkah bagi keluarga-keluarga mereka, tidak peduli apa resiko nya. Saya bersyukur karena telah merasakan pendidikan tinggi yang layak, meskipun belum sampai keluar negeri, tapi paling tidak sudah ada kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup.

Banyak sekali pelajaran yang bisa didapat dari kegiatan survey lapangan ini. Tulisan diatas belum lah menceritakan semua pengalaman itu, hanya mewakili sedikit saja. Terima kasih telah membaca tulisan ini. Semoga menginspirasi!

Leave a Reply

%d bloggers like this: