Pelajaran-kimia-SMA

Wow 3 Tahun Yang Sangat (Tak) Terasa – Mengenang Masa SMA #1

Masa-masa SMA yang tak terlupakan

Teringat masa-masa sekolah SMA dulu, yang (tidak) terasa 3 tahun dilewati. Sangat jelas diingatanku masa-masa terakhir di SMA yang diisi dengan persiapan ujian nasional (UN). Hampir tiap sore saya harus tinggal dikelas untuk ikut kursus mata pelajaran tambahan yang dibawakan oleh guru-guru sesuai bidang masing-masing. Ada Kimia, Bahasa Inggris, Matematika, dan lain-lain.

Diantara semua guru yang mengajar selama kelas 3 SMA saya, guru kimia saya lah yang punya metode mengajar yang “klasik”. Klasik dalam artian, beliau masih sering menggunakan metode-metode yang dipakai oleh guru-guru saya waktu SD dulu, dan saat itu sudah langka diterapkan. Apa yang beliau terapkan kepada murid-muridnya? Salah satunya, hukuman cubitan nya. Saya berulang kali harus menerima kenyataan untuk dicubit beliau. Kenapa? Saya tidak menjawab pertanyaan dengan baik dan benar.

Bukan hanya cubitan, beberapa kali saya juga harus berdiri didepan teman-teman dalam ruangan kelas, karena salah mengerjakan apa yang beliau perintahkan. Eits, tapi bukan hanya saya yang selalu kena “jackpot”. Banyak teman saya yang lain  yang juga sering dapat hukuman. Beberapa bahkan sudah langganan. Kejam? ah, tidak. Terus terang memang tidak kejam. Tidak ada tangan yang dipotong, tidak ada leher yang dipancung, dan tidak ada rambut yang harus dipotong paksa (tokka’).

Apakah murid-murid nya melawan? Saya yakin ada yang mau melawan, tapi jangan dengan fisik tentunya. Beberapa kali saya berdiskusi dengan teman-teman tentang cara mengajar beliau yang sudah tidak konvensional tersebut. Tapi apa boleh buat, tidak ada yang mau melawan keadaan tersebut, mengingat waktu UN yang sudah tidak lama lagi.

Pada awal nya memang sangat berat sekali diajar oleh beliau, dengan metode nya yang “eksklusif” tersebut. Semua pasti sudah kena marah beliau, setiap beliau masuk kelas, suasana tiba-tiba menjadi hening. Mana suaramu, murid-murid cerewet? Bahkan kalau ada yang mau menjawab pertanyaan pun, harus berfikir berulang kali, dan ujung-ujung nya juga tidak berani. Bukan hanya jawaban yang harus ada dalam kepala mu, tapi keberanian lah yang harus kau miliki dalam mengungkapkannya. Semua diam, sampai beliau mengancam, kalau tidak ada yang menjawab, maka konsekuensi nya adalah…..

Angkat-tangan-waktu-belajar

Satu per satu tangan mulai terangkat, tahu tidak tau, faham tidak faham, yang penting berani. Tapi berani angkat tangan tanpa tau jawabannya juga bisa fatal, tapi daripada tidak angkat tangan mending angkat tangan, karena yang tidak angkat tangan pun sering kena giliran. Mungkin raut wajah yang culun adalah penyebab nya. Lagian, buat apa takut menjawaab pertanyaan, kalau salah paling dimarahi, atau disuruh berdiri, atau dicubit, dll.

Teman yang kena hukuman sering kali harus menanggung malu, karena kata-kata dari beliau juga agak tajam menembus tulang-tulang, meremukkan isi dada. Nah, kalau sudah begitu saya sudah mulai kesulitan menahan diri saya. Menahan rasa ingin ketawa melihat teman yang tampak culun, terbalik 180 derajat dari kesehariannya.

Untuk menutupi rasa ingin ketawa, saya terkadang menundukkan kepala, menghadap kebawah sambil tersenyum kecil, sambil menahan jangan sampai mencurigakan. Atau kalau tidak saya menoleh kebelakang, ke teman-teman yang juga pasti menahan tawa, sambil memberi kode “kita beruntung kawan!”. Teman yang dibelakang pun memberi kode “Iya coy, nanti kita bicarakan lagi”, jangan sampai kita mencurigakan beliau sehingga kena giliran berdiri didepan kelas.

Bagaimana kalau saya yang berdiri?

Wah, tentu saja saya juga pernah dihukum demikian. Sudah saya bilang tadi 🙂 Yang paling saya ingat adalah waktu saya sedang mengerjakan soal kimia yang beliau berikan, entah lah soal bagaimana. Pada awal nya cukup lancar saya kerjakan (sebenarnya itu karena sebagian saya hafal, dan dibantu teman-teman dibelakang), ah pas waktu beliau marah, “jangan ada yang bantu dia!” disitulah saya tambah hang, saya jadi tidak bisa menyelesaikan soal. Sambil berusaha mengulur-ulur waktu dan mencoba mencari-cari sisa-sisa materi kimia yang masih menempel dikepala saya, tiba-tiba beliau berdiri meninggalkan tempat duduk nya.

Beliau mulai mendekat kearah saya, dan kelihatannya mengambil ancang-ancang, kulihat dari sudut mataku. Jantung semakin berdegup kencang (maaf, ini bukan karena jatuh cinta yah, kayak dalam novel!). Apa boleh buat, saya harus siap menanggung konsekuensi nya.

Tiba-tiba, entah dari mana datang nya tangan beliau dengan cepat bergerak mengambil gaya mencubit nya. Beliau ingin mencubit pinggang saya, karena dari tadi belum selesai mengerjakan soal. Eits, belum tau dia. Saya juga punya pertahanan yang baik, saya langsung mengambil gerakan refleks, dan berhasil menghindar. Hehehehe…. Nice! Seisi kelas yang dari tadi menanti momen cubitan itu kompak tertawa melihat tingkah kami berdua didepan mereka semua. Sang guru yang ingin mencubit murid nya, tapi si murid berhasil menghindar.

Pelajaran-kimia-SMA

Suasana kelas menjadi cair kembali, tapi tidak dengan saya. Sang guru yang gagal mencubit saya pada kesempatan pertama, tampaknya kecewa, dan ingin segera melancarkan serangan kedua. Dan sambil mengoceh, beliau mengambil gerakan mencubit lagi. Aduh, cilaka! Tapi, percobaan kedua beliau juga gagal! Saya juga dapat menghindar! Penonton yang merupakan teman sekelas saya sendiri pun semakin tertawa melihat tingkah kami berdua. Kelas jadi semakin gaduh.

Waduh, sepertinya sang guru jadi semakin jengkel dengan aksi menghindar saya dari cubitannya. Beliau kemudian kembali mengeluarkan beberapa kata-katanya didepan teman-teman sekalian dengan nada yang sepertinya menahan rasa ingin ketawa nya melihat betapa lincah saya menghindar dari cubitannya. Baru kali ini ada murid kelas saya yang begitu lincah menghindar.

Akhirnya percobaan selanjutnya harus saya terima. Tidak enak melihat kegagalan-kegagalan beliau mencubit murid nya yang tidak beres mengerjakan soal. Horee! Akhir nya saya dicubit juga.

Kejadian menarik lainnya

Saya juga ingat, pernah suatu waktu kami sekelas disuruh mengerjakan soal. Dan ini menuntut kami untuk fokus. Seorang teman saya yang duduk disudut kelas, dekat pintu masuk nampak gelisah, dan berulang kali menghadap kebelakang untuk melihat pekerjaan teman yang lain. Tanpa dia sadari, ternyata Ibu Guru saya mengamatinya dari tadi.

Beliau pun berkata dengan kata-kata yang menurut saya agak berbau menyinggung, tapi sebenarnya juga lucu. “Eh, kau itu dari tadi saya liat balik-balik ke bangku teman mu, kau ganggu itu teman mu. Dari tadi saya liat. Mata nya melotot-lotot lagi, sering masuk terlambat, kau kira saya tidak perhatikan?”, Sesaat kemudian, beliau berkata “Mudah-mudahan kau lulus nanti”.

Wow, kata-kata sakti lagi. Itu ocehan, pelampiasan kejengkelan, atau do’a ya? Mungkin ketiga-tiga nya. terus terang waktu itu saya lagi-lagi ingin tertawa mendengar teman saya itu diomeli beliau. Kenyataan nya memang begitu. Teman saya yang tadi itu memang sering masuk terlambat, masuk pun dalam keadaan mengantuk. Jadi, cukup adil kalau dia mendapatkannya.

Yang buat saya ingin tertawa, adalah kata-kata terakhirnya beliau, “mudah-mudahan kau lulus nanti”. Beliau sangat straight mengatakannya. Tanpa tedeng aling-aling. Teman saya yang diomeli juga pasrah saja diomeli. Tapi, tetap saja teman yang tadi tetap berhak untuk didukung, paling tidak didorong supaya semangat belajarnya semakin meningkat.

One thought on “Wow 3 Tahun Yang Sangat (Tak) Terasa – Mengenang Masa SMA #1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *