Sudah lima tahun

Seminggu yang lalu, saya “tersadar” kalau ternyata odometer pada speedometer motor saya telah menunjukkan angka 70 ribu sekian km. Sesuatu yang seharusnya perlu dirayakan. Dirayakan dengan hadiah perawatan berkala untuk si motor – belum ada nickname untuk motor saya. But, sorry, berhubung karena belakangan ini saya sibuk dan persoalan klasik lain, maka hadiah perawatan berkala ini tertunda dahulu.

Secara de facto, kebersamaan dengan motor saya selama lima tahun ini berlangsung sangat harmonis. Yep, meskipun tidak seintim dulu, ketika hampir setiap minggu saya memandikannya. Sorry, ma bike, saat ini saya sudah jarang memandikanmu! Deep in my heart, saya ingin mengatakan betapa saya sungguh menyayangi motorku. Banyak kenangan yang kami lewatkan bersama, manis atau getir, we ride!

Speedometerku
Speedometerku

70 ribu km perjalanan telah berlalu. Dan satu milestone yang masih saya ingat sampai sekarang adalah ketika odometer motor saya masih mencapai 12.000 km. saat itu saya sedang dalam perjalanan dari Makassar ke Polewali yang berjarak 200 km lebih. Saat itu saya masih berada di tahun pertama kuliah. Yang membuat saya selalu ingat dengan peristiwa ini, adalah karena ini merupakan perjalanan yang jauh, saya belum pernah kesana menunggangi sepeda motor, dan kami hanya bertiga, plus kami sampai ditempat tujuan saat tengah malam.

Kadang saya mengingat kembali dan bertanya dalam hati, kenapa saya harus nekat melakukan perjalanan seperti itu dulu? That’s what we already known as a solidarity! Waktu itu saya dan dua orang teman yang lain berangkat untuk melayat ke rumah seorang teman yang baru saja kehilangan orang tuanya. Dan kami bertiga, paling tidak harus mewakili teman seangkatan kami yang lain yang tidak bisa bertolak kesana.

Perjalanan “gila” lainnya

Perjalanan “gila” yang lain yang saya lakukan bersama si motor, adalah ketika saya berangkat dari Makassar ke Tanjung Bira – bisa dibilang seorang diri – dan berangkat dimalam hari. Gilanya kenapa? Saya baru tahu, kalau tidak banyak orang yang melakukannya, karena alasan keamanan ketika melintasi suatu daerah yang katanya sering terjadi perampokan. Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri saya waktu itu.

Oraik, oraik, oraik… 70 ribu km telah berlalu dalam lima tahun kebersamaan. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kami masih bisa sampai pada 70 ribu km selanjutnya? Wallaahu alaam… hanya Allah yang tahu. Bukan tidak mungkin, tapi beberapa faktor akan mempengaruhi. Diantaranya adalah usia motor, dan kesempatan yang saya miliki.

Banyak orang yang bahkan sudah pisah dengan motornya ketika usia motor sudah lewat dari lima tahun. Beberapa diantaranya berpindah tangan karena dijual.

Dengan mempertimbangkan kenangan yang kami lalui bersama, saya belum berencana untuk berpisah dengan si motor dalam beberapa waktu kedepan. Entah hari, bulan atau tahun. Karena, ini adalah motor pertama saya.

Untuk kalian dan kenangan bersama motor kalian, cheers!

2 thoughts on “70 Ribu KM Koma Sekian Bersama

  1. Jaman sma kelas 2 sampe kuliah semester 1, saya pake motor kalau ke sekolah atau ke kampus. Tapi udah enggak lagi semenjak kecelakaan waktu ramadhan 2010, gigi saya patah dan cedera kaki tangan.
    Jadi sekarang kemana-mana pake angkot atau dianter aja deh. Pernah sih sesekali pake motor, itupun kalau kepepet karena uang seret hahaha.

    1. Waddaow… Mungkin Chacha terbawa suasana balapan di sirkuit 😀
      Kalo bisa naik sepeda aja, Cha… Biar aman dan lebih ramah lingkungan. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *