Kurang beberapa jam lagi, tepat setahun yang lalu saya pertama kali menginjakkan kaki di Bandung. Untung saja waktu itu belum masuk waktu kuliah. Tapi, sebenarnya saya juga tidak peduli kalau memang saat itu sudah aktif kuliah. Perjalanan ini sudah beberapa bulan saya rencanakan. Tiket sudah jauh-jauh hari saya booking perjalanan pulang-pergi. Malam itu, saya menumpang pesawat Merpati menuju Jakarta sebelum tiba di Bandung dengan menumpang bus Primajasa.

Tidak peduli apa komentar orang, saya tetap memberanikan diri ke Bandung seorang diri, meski ini adalah yang pertama. Iโ€™ve planned it, boy! Rencana saya sudah sangat matang, dengan beberapa rencana cadangan kalau seandainya ada masalah.

Bandung, for the first time

Kurang lebih pukul 2 dini hari, saya tiba di Bandung. Tapi masih belum sampai di tempat tujuan di Tamansari. Selanjutnya saya naik taxi menuju kesana, karena bus yang saya tumpangi hanya sampai di sebuah Mall (saya lupa namanya). Tawar menawar dengan beberapa supir taxi harus saya lakukan, dan deal dengan seorang supir taxi yang berwarna hijau (juga lupa namanya apa).

Jalanan sangat lengang waktu itu. Jadi, pak supir leluasa untuk memacu taxi nya. Saya suka itu! Saya tidak bicara banyak dengan pak supir, saya masih kelelahan.

Tidak terasa sudah sampai di Tamansari, saya berhenti di depan Bank BNI 46 menunggu jemputan teman.

Fajrin, seorang sahabat yang saya kenal sejak SD datang menjemput untuk mengantar saya ke kamar kos nya. Sepi sekali kos-kosan disana, beda dengan daerah tempat kos saya yang masih cukup ramai meski sudah dini hari.

Gedung-Sate,-Bandung
Gedung Sate

Jalan menuju kos teman saya ini berliku-liku. Banyak lorong juga, bisa-bisa saya hilang nanti! Kesannya seperti berada di Mexico atau Brazil! Hahaha ๐Ÿ™‚ sayaย  biasa lihat di film. Fajrin tertawa mendengar komentar saya.

Kesan pertama saya ketika sampai di kos nya Fajrin adalah, kebersihan juga kontrol keamanannya yang membuat kening saya berkerut. Setiap keluar masuk pintu masuk kos harus di gembok. Dan semua penghuni diberikan kunci gembok satu per satu. Katanya disana juga banyak pencuri!

Hari-hari pertama saya habiskan untuk menyesuaikan diri dengan cuaca dan lingkungan sekitar. Bagaimana sopan santun dengan warga setempat, makan nya dimana, terus jangan lupa untuk tidak lupa jalan!

Bukan hanya Fajrin, satu-satunya orang yang saya kenal disana. Ada Buyung, sahabat saya juga sejak SD. Kami sering menghabiskan waktu bersama di kos-kosan masing masing. Karena mereka beda rumah kos, tapi tidak berjauhan. View dari kamar si Buyung asik sekali. Disana sayaย  bisa melihat Mall CiWalk juga hotel CiWalk yang keren itu.

Saya salut dengan penduduk disana. Lahannya betul-betul dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dan mereka betul-betul menjaga kebersihan lingkungannya. Ini yang tidak saya dapat di tempat kos saya, di Makassar. Saking maksimalnya penggunaan lahan disana, sampai-sampai kita harus berebut jalan dengan pengendara motor yang juga lewat jalur yang sama. Jalan (lorong) nya sempit, karena padatnya pemukiman. Beberapa ruas jalan berbatasan langsung dengan drainase yang air nya, alamakโ€ฆ. Deras!

Tujuan kesana untuk apa?

Sekali lagi, jangan tanyakan pada google pertanyaan itu, kawan! Tujuan utama saya kesana adalah untuk ikut Wordcamp 2011 di Bumi Sangkuriang, sebuah event berskala internasional untuk para penggemar wordpress. Selain itu, saya mau melihat bagaimana perkuliahan di ITB, tempat kedua sahabat saya itu kuliah.

The-Thinker-Versi-Bandung
The Thinker. Sure?

Ikut kuliah di ITB

Percaya atau tidak, saya seorang mahasiswa universitas lain ikut perkuliahan disana. Tidak perlu pakai orang dalam! Cukup keyakinan dan rasa percaya diri saja! ๐Ÿ™‚ waktu itu saya mengikuti kelas kewirausahaan, tidak ada yang melarang. Didalam kelas itu, hanya saya yang berambut gondrong! Yang lainnya berambut pendek, kecuali yang cewek.

Yang juga unik dari mahasiswa ITB, adalah pakaian mereka yang santai. Tidak perlu pakai kemeja seperti di kampus saya. Yang jelas penampilan yang wajar-wajar saja! Tapi, yang membuat saya cukup terkejut, adalah kebiasaan beberapa cewek-cewek disana yang merokok! Percaya lah, sebelumnya saya belum pernah melihat satu pun mahasiswi di kampus saya yang seperti itu. Mereka cuek saja! Memang sudah lumrah cewek merokok disana. I think, thatโ€™s not cool! Really!

Karena saya berada disana untuk seminggu lebih, saya cukup leluasa untuk bepergian keliling kota. Sempat ke pasar nya juga, ke beberapa mall, ke gedung sate, ke Undip, juga ke beberapa Factory Outlet. Lumayan cantik juga Bandung ini. Asik! Pemandangan disana asri, banyak pohon besar yang tumbuh, apalagi di sekitar kampus ITB.

Makanan di Bandung

Makanan disana biasa-biasa saja menurut saya. Rasanya banyak yang manis. Yang unik adalah minumannya. Setelah makan, biasanya minuman nya adalah teh tawar! Ini tidak pernah saya dapat sebelumnya. Saya kaget juga, siapa yang pesan teh begini? Kata teman saya, memang begitu disana!

Pengalaman di Bandung setahun yang lalu selalu membuat saya ingin kembali lagi kesana. Tapi, sepertinya belum dalam waktu dekat ini. Karena saya harus fokuskan diri untuk kuliah dulu. Budget juga belum cukup. Dan kalau cukup budget, tempat lain di Indonesia yang akan saya kunjungi adalah kota lain di Pulau Jawa. Mungkin Jogja, atau Malang. Kalau tempat lain adalah Sepang, Malaysia. Kalau yang ini sudah beberapa tahun saya rencanakan. Karena saya berencana untuk menonton ajang MotoGP disana. Mudah-mudahan semuanya bisa segera terealisasi.

5 thoughts on “Bandung, Setahun yang Lalu

  1. Hahaha, memang orang luar boleh2 aja kok ikutan kuliah di dalam sana. ๐Ÿ˜†
    Soalnya, karena kuliah pakai baju bebas, gak ada bedanya antara mahasiswa ITB atau bukan. ๐Ÿ˜€
    Soal cewek merokok, di Makassar gak ada?
    Jangan terkejut, di kampus saya ITB, anak berjilbab pun ada yang merokok. ๐Ÿ˜ฏ

    1. Whoops, nak ITB nih…. ๐Ÿ˜€

      Soal cewek merokok, di Makassar juga sudah makin banyak. ๐Ÿ˜Ž
      Woah, kalo cewe berjilbab yang merokok aneh juga ya. Hardcore juga dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *