Menu Close

Category: Books

Pertama Kali Beli Buku di Belanda

Awal bulan ini saya membeli sebuah buku berbahasa Inggris di Belanda. Ini pertama kalinya saya membeli buku di negara ini, walaupun hanya lewat online. Kenapa beli online? Sederhana, karena disini cukup sulit menemukan buku dalam bahasa Inggris. Trus kenapa dalam bahasa Inggris, bukan dalam bahasa Indonesia. Tentu saja, karena disini lebih sulit lagi menemukan buku dalam bahasa Indonesia. Read more

The Long Tail, Sebuah Buku

Sebuah buku yang ditulis oleh Chris Anderson

Satu buku yang wajib dimiliki oleh para ekonom. Dan saya bukan lah orang yang berkecimpung dalam hal itu. I mean, saya bukan lah seorang ekonom, apalagi seorang analis ekonomi. Sedikit cerita, buku ini sebenarnya sudah lama terbit di Amerika, tepatnya tahun 2006 yang lalu. Masuk di Indonesia kurang lebih tahun 2007. Dan saya baru membacanya pada pertengahan tahun 2011. Cukup tertinggal saya.

Long Tail graph

Long Tail Curve

Aduh, saya lupa kapan pertama kali tahu judul buku ini. Yang jelas pada bacaan itu, saya membaca bahwa buku ini menjelaskan fenomena yang membahas bagaimana keberhasilan  situs penjualan online seperti eBay yang terkenal itu. Dan bagaimana sampai begitu banyak orang yang mengikuti sistem yang dijalankan oleh eBay ini.

Sedikit mengenai isi buku

Nah, kan tadi sudah saya singgung tentang eBay yang banyak dibahas dalam buku ini. Bukan hanya eBay sih, ada banyak perusahaan yang dibahas cara-cara pendekatan mereka dalam menciptakan keuntungan. Contohnya lagi, Amazon, Apple, Google, Yahoo, Wal-Mart, dan lain-lain.

Buku ini memajang tagline: The Long Tail, Bagaimana pilihan tak terbatas menciptakan permintaan tak terbatas. Jadi, bisa dibayangkan begitu besar potensi pasar saat ini. Dalam buku ini juga disinggung bagaimana gabungan jutaan produk yang terjual dalam jumlah kecil mengalahkan gabungan produk bestseller. Chris Anderson menunjukkan bahwa masa depan dunia bisnis bukan bertumpu pada produk bestseller, melainkan pada produk yang berada dibagian ekor panjang (Long Tail) yang katanya, tidak ada habisnya.

Secara umum, saya menangkap bahwa internet merubah dunia perekonomian yang sudah tidak seperti dulu lagi. Bagaimana orang dapat membeli apapun yang mereka inginkan dari banyak katalog yang dipajang di banyak situs dengan penawaran yang bersaing. Orang dapat menemukan pilihan yang sangat spesifik melalui internet. Contohnya ketika membeli lagu dari iTunes. Bisnis rekaman telah diubah oleh iTunes. Banyak judul-judul unik yang tidak pernah ditemukan di toko-toko musik dapat ditemukan disini. Dan seperti yang saya bilang tadi, keseluruhan jumlah penjualan lagu-lagu yang tidak populer ini mengalahkan angka penjualan lagu-lagu hits.

Meskipun saya bukan orang “ekonomi”, tapi overall, saya suka buku ini. Meskipun butuh waktu ekstra untuk memahaminya. Tapi, buku ini sungguh memperluas wawasan tentang perekonomian saat ini.

Selamat membaca 🙂

Image source

Brain Rules, Sebuah Buku

Mau mengenal otak lebih dekat? Mau tahu bagaimana cara otak menyimpan informasi? Mau tahu bagaimana memaksimalkan kinerja otak? Salah satu buku yang membahas tentang hal tersebut adalah buku Brain Rules. Sebuah buku karya John Medina, seorang pakar biologi molekuler perkembangan yang berfokus pada gen-gen yang terkait dengan perkembangan otak manusia dan genetika dari gangguan kejiwaan.

Buku ini sebenarnya sudah terbit sejak tahun 2008, namun baru masuk Indonesia beberapa bulan yang lalu. Buku ini pernah menjadi best seller New York Times. Dan karena itu lah saya juga menjadi sangat penasaran. Bukan hanya karena popularitasnya, tapi saya memang penasaran mau tahu bagaimana meningkatkan kinerja otak: di tempat kerja, di sekolah dan di rumah.

John-Medina,-Brain-Rules

John medina

Isi buku

Oh iya, buku ini berisi 12 aturan tentang otak yang semuanya dibahas satu persatu tiap bab. Aturannya sebagai berikut:

  1. Olahraga : Olahraga mendongkrak kekuatan otak.
  2. Bertahan hidup: Otak manusia juga berevolusi.
  3. Susunan: Setiap otak memiliki susunan berbeda.
  4. Perhatian: kita tidak menaruh perhatian pada hal-hal membosankan.
  5. Memori jangka pendek: Ulangi untuk mengingat.
  6. Memori jangka panjang: Ingatlah untuk mengingat.
  7. Tidur: Tidur baik, berfikir pun baik.
  8. Stres: Otak yang tertekan tidak belajar secara sama.
  9. Integrasi sensoris: Rangsanglah indra lebih banyak.
  10. Penglihatan: Penglihatan mengungguli indra-indra lain.
  11. Gender: Otak pria dan wanita berbeda.
  12. Eksplorasi: Kita adalah penjelajah yang kuat dan alami.

Secara umum, informasi yang ada dalam buku ini banyak yang baru saya ketahui. Seperti bagaimana cara otak menyimpan memori, bagaimana cara otak mengingat nya, dan bagaimana cara otak menghapus ingatannya, serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya.

Kekurangan

Ini mungkin hanya diri saya. Saya tidak terlalu mengerti secara detail apa yang dimaksudkan John Medina dalam buku ini. Pertama, karena buku ini adalah buku terjemahan. Jadi bisa saja terjadi kesalahan penerjemah dalam menyampaikan maksud dari John Medina. Kedua, banyak sekali istilah neuroscience yang kurang saya pahami. Tapi, dalam beberapa bagian, buku ini mengajak kita untuk berimajinasi.

Kata-kata seakan keluar dari halaman buku ini

-USA Today

Aturan otak terhebat

Satu aturan otak terhebat yang belum bisa dibuktikan dan didefinisikan oleh John Medina. Aturan itu adalah rasa ingin tahu! Dan kita bisa melihat nya pada diri anak kecil, yang punya rasa ingin tahu yang tinggi. John Medina selalu takjub dengan hal itu.

Siapa Sebenarnya Trinity, Penulis Buku The Naked Traveller?

Jum’at , 17 Juni 2011. Hari yang panas, seperti biasa di kota Makassar. Tiba-tiba ada sms yang masuk dari K’ Nanie seorang teman di AngingMammiri (Komunitas Blogger Makassar) yang mengatakan bahwa akan ada bincang-bincang dengan Trinity, penulis buku best seller The Naked Traveller di Musium Balaikota, Makassar. Dua pilihan, datang atau tidak. Saya berfikir dulu ah, kalau saya tidak datang, saya bisa santai-santai sore hari nya. Bisa tidur siang (sudah jarang tidur siang, coy) istirahat sebentar setelah beberapa waktu terakhir disibukkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan perkuliahan. Atau kah pilihan kedua, ikut acara nya, bisa nanya-nanya langsung, bisa ketemu langsung, plus bisa minta tanda tangan nya Trinity.

And yes, tentu saja pilihan kedua, pilihan saya akan ikut acara nya. Sebenarnya ini merupakan salah satu rangkaian acara… Aduh, apa yah, saya lupa. Kayaknya Writer Festival begitu, berbau promosi budaya sepertinya. Dengan demikian, saya harus menunda waktu untuk istirahat sejenak. Tapi tak apa lah. Pengorbanan sebanding dengan apa yang saya dapat.

Sampai disana, Terlihat sebuah set semacam panggung berbalut kain merah dibagian luar gedung musium. Waduh, saya fikir acara nya sudah lewat. Karena sms dari K’ Nanie acara nya mulai jam 13.00, which is itu berarti sehabis shalat Jum’at. Sedangkan perjalanan dari tempat saya ke musium Balai Kota kurang lebih 15-20 menit perjalanan dengan naik motor. Motor saya tentu saja. Tapi, mending terlambat, daripada tidak datang. Lagian acara nya sendiri sampai jam 15.00. Di pintu gedung musium terlihat beberapa orang, terhitung cukup kurang untuk acara seukuran launching buku. Salah satunya seorang wanita dengan postur agak “besar”, tapi yah masih seimbang lah, karena tingginya juga lumayan.

Siapa-Sebenarnya-Trinity-The-Naked-Traveller

Trinity Traveler

Sepintas, wanita tadi mirip dengan foto Trinity, yang pernah saya lihat di internet beberapa waktu lalu. Perasaan mau sapa dia, tapi sebearnya saya sendiri juga masih ragu dengan pendapat saya sendiri. Nama nya sendiri saya belum tahu. Okelah, saya harus tunggu dulu untuk pastikan. Dari dialek nya, dia memang bukan orang asli Makassar, Pasti dari Jakarta nih, analisis saya. Wanita, pake celana pendek, mata sipit, trus rambut di-tarik kebelakang, pake T-Shirt putih, gayanya cukup keren, dan sangat santai terlihat. 75 % saya yakin kalau dia itu Trinity. tapi harus sabar dulu untuk tahu siapa sebenarnya dia, dan yang mana yang sebenarnya Trinity itu.

Belum ramai sewaktu saya sampai disana. Belum terlalu crowded seperti acara AM dulu, launching Firefox 4 di DeLuna Cafe, atau acara Blogilicious bersama idBlognetwork dan Berniaga. Hanya terlihat beberapa pegawai musium, crew-crew dari mungkin penerbit dari buku The Naked Traveller dan beberapa orang yang tujuannya juga sama seperti saya, mau liat Trinity langsung. Saya lebih memilih jalan-jalan kedalam musium, melihat koleksi-koleksinya. Ada peta Makassar tempo doeloe, sepeda “fixie” tempo doeloe, meriam tempo doeloe, piano tempo doeloe, foto-foto(gambar) profil penjajah yang juga pasti 100 % tempo doeloe, bahkan sudah ada sebelum Polaroid datang, dan beberapa barang-barang tempoe doeloe lainnya. Wanita tadi pun juga saya lihat masuk kedalam musium melihat koleksi musium.

Tak lama kemudian acara sudah dimulai, dan tebak, wanita yang saya tebak tadi adalah Trinity, ternyata memang Trinity!. Tidak salah lagi, karena sudah diperkenalkan sama cewek disampingnya. Yang jadi Narasumber lain ada Fauzan, seorang wartawan yang juga hobi jalan-jalan, Toar, asal Makassar, seorang Fotografer, dan Adal. Oh ya, Adal ini orang yang cukup ekstrim pengalaman travelling nya menurut saya. Travelling dari Sumatera Barat ke Jakarta hanya dengan naik motor. Motor nya pun sudah tergolong berumur, dan katanya motor nya itu sudah hilang!. Dia mengaku sudah sering menginap di kantor Polisi. Alasannya, lebih aman katanya. Saya sendiri tidak pernah berfikir begitu kalau-kalau saya travelling. Mending nginap di mesjid. Katanya dia sering dibilang orang gila di kampung nya, karena kebiasaannya itu. Tapi dia sendiri tidak peduli, dan keluarga nya tetap mendukung. Dia sempat ke Nusa Tenggara, dan kalau travelling/backpacking tepatnya dia bawa uang cuma beberapa ribu, untuk transportasi dia lebih memilih numpang truk, naik kapal PELNI pun dia tidak bayar tiket katanya, ya sering-sering di-strap sama petugas katanya.

Banyak hal inspiratif yang didapat dari berbincang-bincang dengan para narasumber, pengalaman pribadi Trinity waktu backpacking ke manca negara, cerita-cerita lucunya, tips-tips backpacking, untuk siapa saja, termasuk cewek. Katanya cewek sebenarnya banyak diuntungkan kalau backpacking. Bisa pasang muka memelas ala cewek untuk bujuk abang-abang untuk angkat barang-barang nya, cewek gak usah malu kalo di suit-suit sama cowok, harus bangga katanya. Tidak seperti cowok katanya yang lebih gengsi minta tolong, contohnya waktu bertanya arah. Cowok gengsi untuk bertanya. Fauzan berbagi pengalamannya juga, waktu dia berangkat ke Mekkah, yang sebelumnya menurut dia sulit tercapai, tapi dengan wish nya dia tak menyangka kalau dia akan dapat tiket first flight ke Arab, dan wish nya untuk shalat langsung didepan Ka’bah terwujud. Perjalanan terjauh nya sendiri sampai ke Afrika.

Peserta juga diberi kesempatan untuk bertanya langsung dengan Trinity, ada yang bertanya tentang salah satu tulisannya Trinity tentang pengalamannya backpacking ke China, bagaimana cara nya nge blog yang baik, menulis tulisan yang enak dibaca, tentang pengelompokan tipe-tipe traveller, ada yang digolongkan sebagai flashpacker, hitchhicker backapacker, dan lain-lain. Terus terang Trinity sendiri tidak setuju dengan pengelompokan seperti itu.

Saya juga harus bertanya dong, kapan lagi dapat kesempatan seperti ini. Lagian yang bertanya juga tidak banyak. Saya cuma bertanya, “Nama lengkap Trinity siapa?” terus pertanyaan yang kedua saya “Umur nya Trinity sekarang berapa?” karena dibuku The Naked Traveller pertama dia selalu menyebut tentang faktor “U” itu sendiri, yang sering menghambat kelancaran aktivitas nya sewaktu backpacking. Ekspresi Trinity langsung berubah, waktu itu dia sedang minum, dan karena pertanyaan saya tadi, dia langsung keselek/tersedak mendengar pertanyaan saya yang pertama. “Gue sempat keselek tadi…”, kata Trinity, ditambah pertanyaan saya yang kedua membuat ekspresi nya berubah, matanya terbelalak.

Ini dia saat nya saya tahu, siapa sih nama asli dari Trinity, penulis buku best seller “The Naked Traveller”.

Dia mulai menjawab: “Untuk nama asli saya tidak bisa sebut, saya cuma biasa pakai nama Trinity seperti dibuku saya. Sudah cukup itu” Dia harus membedakan katanya identitas nya sebagai penulis buku dan identitas sebenarnya yang hanya diketahui oleh teman-teman dekatnya. Karena orang lebih mengenal dirinya sebagai Traveller dan penulis buku yang melambungkan namanya, Trinity sebagai penulis yang populer. “Untuk tetap membuat orang penasaran” katanya, “Kan nggak enak juga kan kalo orang dah gak penasaran lagi siapa Trinity itu?” Ya, itu merupakan salah satu startegi marketing yang dipakai untuk tetap meningkatkan penjualan buku, which is menurut saya cukup wajar, mengingat itu banyak terjadi di media.

Pertanyaan kedua, Trinity menjawab, “Kalau umur, kira-kira berapa?”, saya jawab “40”, “Apa? 44?”, “tidak”, kata saya, “40 saya bilang”. Dia cuma tersenyum, “Maaf lagi ya, untuk itu saya juga tidak bisa kasi tahu, biasa nya kalau disuruh tulis identitas, saya cuma tulis tanggal dan bulan lahir saja, tahun nya tidak”, “Maaf ya”, sambil tersenyum dia bilang begitu. “Mas sendiri umur nya dah berapa? Dah nikah ato belum?” Saya bilang, “Saya masih 20 tahun, masih mahasiswa”.

Dua dari dua pertanyaan saya tidak menemukan jawaban tepat nya. Tapi, tak apa. Karena sehabis acara bincang-bincang, saya dikasih tanda tangan dibuku kecil saya. To Rizqi, Trinity. Aduuh, sayang sekali saya tidak bawa buku The Naked Traveller saya, malah buku The Long Tail yang saya bawa kesana, yang mana mungkin saya mau minta tanda tangannya dibuku karangan orang lain, karangan orang barat lagi, bukan buku travelling lagi.

Identitas siapa nama asli dan berapa umur dari Trinity, Penulis buku The Naked Traveller akhir nya belum terungkap. Meskipun begitu, saya tetap senang sudah bisa ketemu langsung, bincang-bincang dengan narasumber yang ada, dan juga dapat tanda tangannya Trinity, meskipun tidak sempat berfoto sama dia, karena tidak bawa kamera. But, once again, it’s OK! See Ya!