Menu Close

Category: Film (page 1 of 3)

Movie Trailer

I don’t feel excited to watch any movie trailer this time around. I don’t know, maybe it’s because I didn’t “trust” that the real movie will be as good as the trailer. I used to watch a few trailers in the past, they were awesome, and I felt really excited to watch the movie. However, when the movie comes out in the cinema, damn it was terrible. Not even close to my expectation. That’s why whenever I saw a movie trailer featured on Youtube, I was just skipping it. Not even interested to read the title.

Tentang Pacific Rim

Giants in a big screen

Sebelumnya Pacific Rim bukan lah film yang menjadi “film yang harus” saya tonton bulan ini. Saya berencana menonton Despicable Me 2 atau Lone Ranger. Tapi, berhubung karena salah satu crew animator nya adalah orang Indonesia maka keputusan saya berubah. Ronny Gani, sang animator juga orang yang baik. Terbukti, dia membalas email saya. 🙂

Beberapa hari yang lalu, saya juga sempat melihat di twitter kalau film ini menjadi trending topic. Saya menjadi penasaran dengan bagaimana thriller film ini, dan ternyata memang bukan film yang boleh dilewatkan begitu. Saya harus menonton film ini, gumam saya kemarin sore.

Saya tiba di bioskop 21, sejam lebih sebelum film ini mulai. Dengan perkiraan bahwa antrian akan panjang. And boom…. Ternyata perkiraan saya salah. Sama sekali tidak ada antrian. Nafas saya menjadi lebih stabil. Fiuuh… lega, bisa memilih tempat duduk seenaknya.

Dan yes, film ini pun saya tonton. Suasana didalam bioskop aman dan terkendali. Tidak banyak penonton, dan tidak ada staf bioskop 21 yang berpatroli mengawasi penonton. Berhubung karena teman yang duduk disamping saya menyandarkan kakinya pada sandaran kursi didepannya.

Wallpaper-Jaeger-pacific-rim

Jaeger | Sumber: screencrush.com

Sejak awal sampai akhir film ini menayangkan adegan-adegan yang memacu adrenalin. Bukan hanya soal apa yang tampil dilayar yang menampilkan perkelahian antara raksasa Kaiju dan Jaeger super besar itu. Tapi juga sound effects nya yang menggelegar. Bayangkan bagaimana suara gedung yang runtuh, suara raksasa yang berkelahi, badai, dan lain-lain.

Kaiju: bahasa Jepang, yang secara harifiah berarti “makhluk aneh”, tapi secara umum diartikan sebagai monster raksasa.

Jaeger: robot raksasa yang dibuat untuk melindungi manusia dari para Kaiju.

Cerita film ini pun menarik menurut saya, meskipun ada yang sangat tidak masuk akal soal asal muasal si Kaiju ini. Yah, namanya juga film. Tapi, again… cara orang-orang Hollywood ini mengemas cerita yang sungguh sangat tidak masuk akal bisa diterima begitu saja adalah luar biasa. Contoh lain misalnya, kenapa si Kaiju tidak menyerang helicopter yang membawa Jaeger, supaya dia tidak perlu repot-repot menunggu si Jaeger jatuh dengan posisi stabil untuk berkelahi. Dia kan bisa ambil keuntungan posisi dari situ. Hehehe… ingat, again kawan.. again! Ini film Hollywood!

Yang saya tandai dalam film ini juga adalah soal adegan pertarungannya, yang hampir semuanya terjadi pada malam hari, dan dalam cuaca hujan/badai! Wow… betapa epicnya pertarungan kedua jenis makhluk raksasa ini. Teman saya berpendapat kalau si pembuat film ini sengaja melakukannya supaya tidak banyak sumber daya yang dikeluarkan untuk membuat adegan perkelahian tampak jelas di siang hari. Karena, you know lah, kalau siang kan detail monster-monster dan robot raksasa ini lebih menuntut banyak perhatian.

Tapi, meskipun pertarungannya hampir semua terjadi di malam hari. Tapi sama sekali bukan masalah buat saya. Ada kesan tersendiri melihat pertarungannya terjadi di malam hari. Efek lighting dalam film ini tentu saja sangat menentukan. Dan sebagai penonton, menurut saya visual  FX nya secara keseluruhan sangat keren. Soal ceritanya juga keren. Action-action terjadi silih berganti diselingi sedikit joke yang menghibur. Yah, skor 9 dari maksimal 10.

Pacific Rim menurut kamu bagaimana?

Les Miserables, Andai Saja Saya Penggemar Film Musical

Selagi filmnya masih tayang

Apa yang membuat saya begitu bersemangat menonton film ini di bioskop semuanya karena media. Pemberitaan mengenai film ini membuat saya semakin penasaran menontonnya. Film ini masuk kedalam beberapa kategori nominasi dalam satu penggelar award. Dan sudah beberapa hari ini posternya menjadi background di situs 21 Cineplex. So, yeah… saya menontonnya.

Film ini dibintangi oleh dua aktor yang juga saya suka aktingnya. Hugh Jackman dan Russel Crowe. dan dua pemeran ceweknya juga sering main film. Dan cantik-cantik juga. Sepuluh detik pertama film ini betul-betul menggetarkan. Diawali dengan adegan para tahanan yang menarik satu kapal perang raksasa ke dalam dok ditengah badai. Hugh Jackman sebagai tahanan, dan Russel Crowe sebagai sipir. Penampilan Jackman sebagai tahanan sempurna! Tapi tunggu dulu…

Tiket XXI Les Miserables

Tiket XXI Les Miserables

Film ini menjadi semakin “eneg” ketika perlahan-lahan lantunan lagu para narapidana berakhir, dan percakapan mulai terjadi. And guess, percakapannya juga dalam bentuk nyanyian! Drama musical, atau film musical? Entahlah. Saya yang tidak biasa menonton film musical, apalagi drama musical menjadi kurang nyaman pada menit-menit selanjutnya.

Satu jam berlalu, dan kira-kira 95,97654% percakapannya semuanya seperti dilakukan sambil menyanyi. Waduh, das sollen dan das sein dalam kepala saya tentang film ini sudah semakin jelas berbeda. Tidak seperti yang saya bayangkan, bahwa film ini akan berjalan minimal seperti The Prestige lah. Tapi, apa boleh buat. Mau pulang juga sayang. Hitung-hitung film yang saya tonton ini katanya masuk dalam beberapa nominasi. Jangan sampai belakangan ada rasa penyesalan karena tidak menontonnya sampai habis.

Keadaan dalam bioskop bisa dikatakan hampir semuanya juga merasakan seperti yang saya rasakan. Beberapa penonton pulang sebelum durasi film ini masuk satu jam. Bahkan penonton disamping kanan saya juga sangat tidak tahan. Sejak lima menit pertama, dia sudah mengoceh dan mencela film ini. Kurang lebih 45 menit kemudian, dia beserta dua orang teman ceweknya walk out dari ruang bioskop. Katanya lebih baik pergi makan pisang goreng. Hahahaha…. Sayang sekali dia tidak ajak saya.

Bagi anda yang memang penasaran dengan Les Mirables ini, atau yang tertarik dengan revolusi Perancis atau elemen lain dari film ini silahkan ke bioskop menontonnya, selagi masih tayang. Dan bagi anda yang juga tidak nyaman dengan drama musical atau semacamnya, sepertinya film ini bukan sesuatu yang anda harus tonton. Tapi, apapun itu pilihannya ada pada anda.

See ya!

The Hobbit 3D, an Unexpected Journey. Berkesan!

My first 3D movie, ever!

Finally, oh akhirnya…. Saya menonton film 3D. kasihan? OK… OK… mungkin anda lebih dulu menonton film 3D. tapi tidak masalah, saya menonton film 3D pertama saya dengan film yang sudah cukup lama saya tunggu. You sudah baca judulnya kan? Yes, it is. The Hobbit, an Unexpected Journey versi 3D. penantian beberapa bulan ini sungguh sepadan lah dengan kesan dari film ini.

Yang bikin saya semakin penasaran dengan film ini, selain daripada trailernya adalah teknologi dibalik proses pembuatannya. Koran Tempo kemarin memuat tulisan yang membahas tentang teknologi serta teknik yang digunakan dalam pengambilan gambar film The Hobbit ini. Dan sudah pasti, itu semua tidak mudah, dan juga tidak murah. Konon kabarnya, satu biji kamera perekam gambar 3D yang digunakan sutradara Peter Jackson seharga dua puluh ribuan dolar lebih. Wajar lah dengan kualitas yang juga amazing.

the-hobbit-an-unexpected-journey-3D-wallpaper

The Hobbit

Disamping harga kamera, teknik pembuatan film ini katanya sangat rumit. Dan kalau tidak salah baca, pengambilan gambar adegan si Hobbit (Bilbo Baggins) dan Gandalf dilakukan secara terpisah untuk memberikan kesan si Bilbo nampak lebih kecil dan Gandalf lebih tinggi dari yang sebenarnya. Disitulah hebatnya aktornya, yang harus membayangkan kalau mereka seolah-olah saling bercakap-cakap langsung berhadapan satu sama lain. Padahal, ternyata tidak! Semuanya demi kesempurnaan efek 3D kepada penonton.

Ada juga yang tidak suka

Well, diluar daripada semua kelebihan film ini, ada juga beberapa orang yang menyatakan ketidaksukaannya pada film ini. Sorry, film 3D ini maksudnya. Why? Dari yang saya ketahui, beberapa penonton mengeluhkan perasaan mual dan pusing setelah menonton film 3D ini. Tentu saja film 3D bisa bikin kita pusing, secara bola mata kita dipermainkan dengan rekayasa optik, ditambah dengan kacamata “berlainan warna” satu sama lain itu. Sedangkan biasanya kita hanya menonton adegan 2D di layar, yang sama sekali tidak butuh kacamata 3D.

Kesan pada saya

To be honest, film-film karya Peter Jackson selalu menggugah hati saya. Mulai dari trilogi Lord of the Rings, King-Kong, sampai dengan The Hobbit ini. Rasa epic dari Lord of the Rings kembali menyala-nyala dalam film ini. Film ini memberikan banyak pelajaran hidup, baik tersurat ataupun tersirat dari adegan-adegannya. Dan tentunya, sang penulis, J.R.R. Tolkien yang juga merupakan penulis dari buku Lored of the Rings adalah seorang mastermind. Saya selalu percaya kalau tulisannya diilhami dari kisah nyata yang kemudian dia tuangkan secara epic. Sebut saja Lord of the Rings, yang terinspirasi dari peperangan yang pernah terjadi (kalau tidak salah Perang Dunia 1). Dan saya tahu itu, setelah menonton satu tayangan di TV beberapa tahun yang lalu mengenai J.R.R Tolkien dan buku Lord of the Rings nya.

Dan satu lagi, film The Hobbit ini belum benar-benar selesai. Masih akan ada kelanjutannya. Sang naga terbangun dari tidurnya di adegan terakhir film the Hobbit, an Unexpected Journey ini.

Silent Hill Revelation, Suka!

Dahaga akan film horror terpuaskan

Malam ini saya baru sempat nonton film Silent Hill Revelation setelah beberapa hari menunggunya tayang  di bioskop terdekat. Meski bukan versi 3D nya, tapi secara keseluruhan saya suka film ini. Kira-kira sudah sebulan saya dibuat penasaran dengan film ini, setelah menonton trailernya pada saat sebelum pemutaran film di bioskop 21.

Dan saat itu telah tiba.

Dua menit trailernya membuat saya sangat ingin menonton film ini, bersama dengan film Possession juga. Ini semua dilatarbelakangi oleh rasa dahaga saya akan film horror yang fresh. Saya butuh film yang serba tidak terduga dengan adegan-adegan yang memacu adrenalin. Silent Hill Revelation sudah pasti memenuhinya.

silent-hill-revelation-monster wallpaper

Silent Hill

Satu kalimat yang melekat dalam benak saya dalam film Silent Hill Revelation  ini adalah ketika Sharon membentak si iblis dengan kalimat “go to hell,”! dan si iblis menjawab:

We are already here!

Efek suaranya betul-betul pas!

Terus terang saya masih sedikit bingung dengan cerita film Silent Hill Revelation ini, mungkin karena saya terlambat 10 menit masuk ke bioskop. Si Sharon, cewek pemeran utama film ini mainnya bagus juga. Dan yang  bikin adrenalin terus terpacu adalah monster-monsternya yang menakutkan disertai sound effect nya  horror. Wrrr….. bahkan penonton lain (seorang cowok) disamping saya beberapa kali sempat terlonjak dari tempat duduknya karena kaget. :mrgreen:

Yeah, itulah yang saya suka. Semua adegan menakutkannya lah yang membuat saya makin semangat menonton film ini. Rasanya seperti pecandu minuman yang butuh minuman berkadar alkohol lebih tinggi. meski cuma sejam setengah, tapi film ini setidaknya menjadi rekreasi kecil bagi saya yang merasa kelelahan dengan rutinitas beberapa terakhir ini.