Menu Close

Category: Tutorial (page 1 of 2)

Ganti Nomor WhatsApp, Dari Nomor Belanda Ke Indonesia

Alasan dan cara mengganti nomor handphone di WhatsApp

Beberapa waktu yang lalu saya memutuskan mengganti nomor WhatsApp (WA) saya dari nomor HP Belanda (+31) ke nomor HP Indonesia (+62) saya.

Nomor Belanda ini sudah saya gunakan sebagai nomor WA sejak kurang lebih 3 tahun yang lalu, ketika masih kuliah S2 di Belanda.

Alasan – alasan kenapa saya mengganti nomor WA saya

Read more

Ternyata Mudah, Cara Bayar Pulsa Listrik (Token) via BNI Internet Banking [100% Berhasil]

Tidak sesulit perkiraan saya

Setelah hampir 3 bulan tidak membeli pulsa (token) listrik, tiba waktunya meteran listrik kos saya berkedip-kedip merah. Tandanya, sisa tokennya tinggal sedikit.

Setahu saya, meteran listrik PLN sistem token (or whatever) ini mulai membunyikan alarm tanda tokennya sudah mau habis, kalau sisa KwH (pulsa) nya dibawah 5.00. Kemarin meteran listrik kamar kos saya menunjukkan sisa pulsanya 4.99 KwH, artinya saya harus mengisi ulang pulsanya.

Saya memilih untuk mencoba melakukan pembelian token listrik PLN via internet banking.

Beli token PLN prabayar via BNI internet banking

Saya memilih membayar/ membeli token listrik PLN via internet banking BNI karena beberapa kali saya melihat menu pembelian PLN prabayar ini di halaman internet banking bank BNI. Cara yang saya lakukan untuk bayar listrik via BNI internet banking ini adalah sebagai berikut:

1. Login di https://ibank.bni.co.id

Masukkan User ID, Password, dan 4 angka kode login yang tersedia pada halaman login tersebut

2. Transaksi

Halaman Transaksi BNI Internet Banking

a. Klik menu “Transaksi
b. kemudian klik “Pembelian/Pembayaran
c. klik “Pembelian
d. Pada bagian “Opsi: Pilih” klik “PLN Prabayar
e. Klik tombol “OK

3. Isi detail pembayaran

Masukkan detail nomor meteran listrik BNI INternet Banking

a. Masukkan nomor meter listrik anda. Nomor meteran listrik ini biasanya terdiri dari 11 digit angka, yang tertera sebagai nomor barcode pada meteran listrik anda.

Saya memilih memasukkan nomor meter, karena saya tinggal di kamar kos yang IDPEL (ID Pelanggan PLN) nya yang saya tidak ketahui.

b. Pilih rekening debet (jika anda memiliki lebih dari 1 rekening BNI)
c. Klik tombol “Lanjutkan

4. Konfirmasi pembayaran PLN Prabayar

Halaman konfirmasi pembayaran listrik BNI Internet

a. Pilih salah satu nominal token pulsa PLN dalam menu “Stroom / Token Unsold“. Pilihannya sebagai berikut: 20.000, 50.000, 100.000, 200.000, 500.000, 1.000.000, 5.000.000, 10.000.000

*biaya admin nya sebesar Rp 3000

b. Masukkan kode BNI e-Secure Response (8 angka) – Jika anda menggunakan alat token BNI untuk setiap transaksi online banking anda.

c. Klik “Bayar

5. Terima kode token

Setelah dikonfirmasi dan berhasil, anda bisa mengambil kode stroom/token (stuk) untuk isi pulsa listrik PLN anda (20 digit angka). Kode tersebut tertera dalam bukti transaksi yang bisa didownload setelah pembayaran selesai.

Struk pembelian listrik BNI Internet

Tombol downloadnya biasanya ada pada bagian pojok bawah sebelah kanan, yang berbentuk ikon dokumen.

Cara mengisi ulang (memasukkan) kode token listrik PLN

Setelah anda mendapatkan kode token tadi, anda harus memasukkannya ke meteran listrik agar pulsa KwH listrik anda bertambah. Caranya:

1. Tekan tombol Enter (biasanya berwarna merah) pada meteran listrik anda.

meteran listrik sistem token PLN

2. Masukkan kode token yang tadi telah diterima itu.

3. Setelah selesai menginput kode token, Tekan tombol Enter. Setelah itu akan muncul pesan “Benar” pada layar meteran listrik anda.

4. Selesai.

Demikian langkah-langkah yang saya lakukan ketika mengisi ulang pulsa token PLN untuk kamar kos saya. Cara diatas bukan hanya untuk kamar kos, untuk rumah juga bisa, selama meteran listrik yang anda gunakan merupakan sistem listrik token.

Semoga membantu.

Cheers!

Hampir 3 Bulan Tidak Beli Token Listrik Kamar Kos, 5 Hal Ini yang Membuat Kos Saya Irit Listrik

Kebiasaan menghemat listrik ini juga bisa kamu lakukan!

Semenjak OJT (On The Job Training) di Jakarta, saya tinggal di kamar kos yang menggunakan meteran listrik sistem token. Meteran listrik ini seperti halnya dengan penggunaan kartu sim pascabayar, dimana terlebih dahulu kita mengisi pulsa handphone (nomor kita) baru kemudian kita bisa menggunakan layanannya. Selama hampir 3 bulan tinggal di kosan ini, saya belum pernah mengisi ulang pulsa listrik saya.

Sangat hemat, dan begini cara saya melakukannya (nomor 4 yang paling unik):

1. Cabut semua peralatan listrik ketika tidak digunakan

Sejak dulu saya membiasakan diri mencabut peralatan listrik ketika tidak digunakan. Baik itu TV, laptop, ataupun sekedar charger hp. Pokoknya ketika tidak digunakan, peralatan-peralatan tersebut saya cabut dari colokan listrik, termasuk ketika saya tinggal di kamar kos.

Sebelum berangkat ke kantor, saya usahakan untuk mengecek semua colokan listrik untuk memastikan tidak ada perangkat yang tersambung ke aliran listrik. Semakin sedikit alat yang tercolok ke aliran listrik, semakin sedikit listrik yang mengaliri alat-alat tersebut, dan semakin kecil kemungkinan penggunaan token listrik.

lampu panjang

2. Mematikan semua lampu yang tidak saya gunakan

Kamar kos saya memiliki lampu depan untuk pencahayaan luar ruangan. Meskipun lampu itu tujuannya untuk memberikan penerangan untuk keluar masuk kamar saya, saya hampir tidak pernah menyalakannya. Tanpa lampu depan kamar kos saya, orang tetap bisa melihat dengan jelas jalan keluar masuk kamar kos masing-masing.

3. Tidak memilih kamar kos yang menggunakan AC

Jakarta memang panas, tapi tidak semua kamar kos di Jakarta itu panas meskipun tidak dilengkapi AC (Air Conditioner). Kamar kos saya ada dilantai 1 dan bisa dibilang tidak terlalu kena sinar matahari langsung. Sejak pertama kali saya melihat-lihat kos ini, saya menyimpulkan bahwa saya tidak butuh AC, meskipun ada kamar yang dilengkapi dengan AC.

Memilih kamar kos yang tidak ber-AC membuat saya tidak perlu mengeluarkan biaya listrik yang lebih besar. Meskipun kamar saya juga sering terasa panas, tapi untuk mendinginkan hawa dalam kamar saya, saya menggunakan kipas angin yang ukurannya kecil.

Mensubtitusi AC dengan kipas angin juga bisa menghemat penggunaan listrik.

4. Charge handphone dan laptop di kantor

Saya pikir ini langkah yang paling signifikan mengurangi penggunaan listrik saya di kamar kos.
Dalam sehari saya menggunakan laptop selama berjam-jam, begitu pun handphone (sama seperti kalian). Dalam sehari paling tidak 2 kali saya mencharge handphone dan laptop saya, yang mana tentu saja, kalau saya charge kedua perangkat ini di kos saya setiap hari akan memperbanyak penggunaan listrik kos saya.

laptop toshiba dan charger handphone one plus new

Maka dari itu, setiap sampai dan sebelum saya pulang dari kantor saya selalu mencharge laptop dan handphone saya. Karena saya selalu pulang malam hari dari kantor, maka tidak banyak waktu yang tersisa untuk saya bermain laptop dan handphone di kamar kos, sehingga saya tidak perlu sering mencharge perangkat-perangkat tersebut.

Lagipula, tidak ada larangan mencharge handphone dan laptop di kantor. Jadi kenapa tidak mencharge handphone dan laptop sebelum pulang ke kos.

5. Pulang setiap weekends

Setiap weekends saya selalu pulang ke Bandung untuk berkumpul bersama anak dan istri saya. Dari segi penggunaan listrik, bisa dibilang saya sudah menghemat penggunaan listrik selama dua hari setiap minggunya.

6. Manfaatkan sisa pulsa listrik yang ada

Saat pertama kali saya menempati kamar kos saya ini, pulsa listrik yang tersisa dari penghuni sebelumnya masih ada 10.01 KwH.Meteran Listrik Kos

Awalnya saya memperkirakan bahwa saya akan harus membeli token (pulsa) listrik dalam waktu dekat. Itu hanya perkiraan saya, saya tidak tahu berapa banyak penggunaan listrik harian yang akan saya pakai, karena ini pertama kalinya saya tinggal di kosan yang listriknya menggunakan pulsa/ token.

Ternyata sisa 10.01 KwH itu bisa bertahan hingga hampir 3 bulan!

Baru setelah sisa token listrik kosan saya kurang dari 5.0 KwH indikatornya menyala. Untungnya saya sudah membeli token via internet banking BNI.

Begini cara mudah membeli token listrik via BNI Internet Banking, dan cara mengisi ulang pulsa listrik.

Semoga sharing ini bermanfaat untuk rekan-rekan sekalian yang ingin menghemat listrik ketika sedang ngekos.

Cheers!

Alternatif Dari Hosting Yang Sering 504 Error

Solusi yang bisa diandalkan

Setelah sebelumnya saya sering mengalami masalah HTTP 504 Error pada layanan hostingan lokal yang saya beli, akhirnya saya mencoba suatu alternatif. Sederhana, hanya butuh sedikit waktu dan biaya plus sedikit kesabaran. Solusinya adalah…. Pindah ke paket hosting lain. Yup, that’s true. Dan itu yang sudah saya lakukan, dan itulah yang terbaik.

Provider lokal, pembayaran bisa melalui transfer antar bank, dan menyediakan paket hosting server US. Itulah alternatif dan kemudian menjadi solusi dari permasalahan saya. Memang butuh biaya lagi untuk membeli paket hosting yang baru. Tidak banyak, hanya beberapa puluh ribu rupiah. Trus, sampai disitu saja? No.

goodbye-504-Error

504 Error, Bye!

Hosting baru tersebut saya beli masih dari provider layanan yang sama dengan hosting lokal yang pernah saya pakai sebelumnya (ya, yang beberapa kali 504 Error itu) tapi, disini lah kuncinya… paket yang saya beli bukanlah paket hosting IIX Server (Server Indonesia) yang saya beli adalah paket hosting US, dengan space dan kuota bandwidth yang sedang-sedang saja.

Saya teringat dengan salah satu email dari provider layanan hosting lokal lain yang pernah saya pakai beberapa tahun lalu. Waktu itu saya sedang meminta pendapatnya mengenai paket hostingan apa yang cocok saya pakai. Dan dia menyarankan kepada saya untuk memilih paket hosting US saja.

Biasanya, hosting lokal itu masih meragukan. Karena servernya biasanya masih rakitan.

Kurang lebih itu lah garis besar yang dia katakan kepada saya waktu itu. Saya tidak bermaksud untuk menjelekkan hosting lokal, tapi beberapa fakta dan pengalaman sudah banyak bicara. Dan saya sudah merasakannya.

Beberapa waktu kemudian

Setelah benar-benar pindah hosting lagi, HTTP 504 Error itu sudah tidak pernah lagi terjadi pada blog saya. Alhamdulillah, perasaan tidak enak, alias jengkel karena akses ke blog yang sering bermasalah tidak terjadi lagi. Hanya butuh sedikit rupiah, waktu yang tidak lama dan tentu saja kesabaran, untuk meng overcome masalah itu.

Mengenai provider hosting lokal mana yang saya pakai, saya tidak mencantumkannya disini. Karena takutnya nanti dibilang komersial, dibilang agen, reseller, atau terlibat afiliasi dengan mereka. No way.

Mungkin anda bisa cek sendiri providernya perusahaan apa, tapi kalau tidak tau/belum tau caranya, silahkan email saya di halaman contact. Insya Allah, saya akan beri jawabannya.

Terima kasih.

Gonta-ganti Hosting, Kenapa Bisa?

Berbagi sedikit pengalaman tentang migrasi pada hosting yang berbeda

Dalam kurun waktu sekitar delapan bulan, saya sudah beberapa kali mengganti layanan hosting saya. Domain blog pribadi saya ini adalah subyeknya. Februari 2011 lalu adalah saat dimana domain rizqifahma.com ini saya beli di bluehost.com dengan akun hostingan yang sudah ada.

Domain ini tetap berada di akun yang sama sampai dengan akhir tahun 2011. Setelah itu, domain ini saya pindahkan ke akun bluehost yang lain. Nah, hingga kemudian, beberapa kali terjadi down akibat pelanggaran TOS. Maklum, waktu itu saya masih numpang dihostingan teman. Kemudian saya berinisiatif untuk membeli layanan hosting sendiri. Dan saya pikir mencoba layanan hosting lokal sepertinya menarik. Beberapa pertimbangan saya memilih provider dan hosting yang berada di Indonesia (IIX Hosting/Server) sebagai berikut:

  1. Letaknya di negara sendiri, sehingga memungkinkan untuk akses yang lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan hosting diluar negeri (secara logika).
  2. Blog saya berbahasa Indonesia, dan tentunya mayoritas pembacanya hanya berasal dari dalam negeri. Sehingga kecepatan akses pembaca juga lebih cepat.
  3. Customer service hosting providernya tentu saja berbahasa Indonesia, sehingga komunikasinya lebih lancar kalau saja ada masalah atau kesulitan yang terjadi dengan hosting.
  4. Harganya relatif terjangkau.
  5. Pembayaran bisa dilakukan melalui transfer antar bank, dan juga pastinya menerima mata uang Rupiah.

Nah, kelima poin tersebut lah yang mendorong saya untuk segera memindahkan satu demi satu domain saya ke layanan hosting lokal. Namun dari kelima poin tersebut, yang menjadi poin penentu bagi saya adalah poin kelima. Karena kalau mau  melakukan pembelian paket layanan, tinggal transfer ke Bank, tidak perlu punya kartu kredit (asli/Paypal). Seperti dengan hosting luar negeri yang menggunakan pembayaran dengan kartu kredit.

504-Error-Server

504 Error, Menjengkelkan!

Saya tidak punya kartu kredit (asli) tapi sempat punya akun Paypal yang saya pakai untuk transaksi secara online. Namun, belakangan Paypal makin kurang bersahabat dengan saya, dan income dollar saya juga sudah nihil, sehingga saya tidak lagi membeli suatu produk yang mengharuskan penggunaan kartu kredit/Paypal.

Betul-betul pindah ke Indonesia

Dan ya, saya kemudian memindahkan beberapa domain saya ke hosting yang baru (hosting Indonesia). Awalnya layanannya cukup baik. Sampai dengan beberapa bulan kemudian (kurang dari 5 bulan) beberapa masalah mulai terjadi, dan semakin sering terjadi.

Kecepatan akses nya menjadi menurun, dan sering kali tidak dapat diakses. Muncullah pesan 504 Gateway Timeout atau biasa juga disebut dengan HTTP 504 Error. Yang mengindikasikan bahwa server tidak merespon dengan baik. Damn!

Gairah menulis saya mulai terganggu, dan banyak ide tulisan tidak tertuangkan kedalam blog karena seringnya terjadi masalah tadi. Saya coba bersabar hingga beberapa minggu, dan masalah tersebut masih saja terjadi. Saya mulai frustasi dengan hosting tadi.

Terus terang saja, saya sangat ingin menghubungi pusat layanan hosting lokal ini, tapi mereka mungkin akan beralasan bahwa paket yang saya beli tidak cocok untuk domain-domain saya. Sebelum terjadi percekcokan yang tidak diinginkan, dan untuk menjaga hubungan baik, saya lebih memilih diam saja. Yup, tapi sambil memikirkan alternatif lain tentunya.

Aha! Dan alternatif itu muncul juga… 😀