Gowes ke Lejja, Kab. Soppeng

Rizqi Fahma

Bersama dengan Perdos Cycling Club (PCC)

Tiga hari yang lalu (8/06/2013) saya bersama dengan teman-teman dari Perdos (Perumahan Dosen) Cycling Club gowes ke Lejja, Kabupaten Soppeng. Sekitar tigahpuluhan sepeda ikut dalam kegiatan ini. Sepeda dimuat dalam truk, kami start dari Makassar (dengan bus) pukul 9.30 WITA menuju Lise, Kabupaten Sidrap. Dalam perjalanan kami singgah makan siang di perbatasan Kab. Pangkep – Kab. Barru. Diluar dugaan, saya bertemu dengan seorang teman yang kebetulan melintas naik motor didepan saya saat sedang menyantap makanan. Cukup mengejutkan, mengingat tempat tersebut bukan tempat yang biasa kami lewati.

Loading Sepeda di Truk
Loading Sepeda

Kami tiba di Lise, Kab. Sidrap sekitar pukul 14.15 WITA. Kami dijamu keluarga salah satu teman di PCC, pak H. Luqman. Lumayan, kami dijamu dengan makanan tradisional seperti roti beras dan masakan bebek khas Sidrap. setelah shalat dan briefing, sekitar pukul 15.45 kami berangkat menuju permandian air panas di Lejja, Kab. Soppeng. Ini akan menjadi gowes yang menantang bagi kami.

Jarak antara Lise dan Lejja sekitar 33 km. jarak sepanjang ini kami bagi dalam beberapa etape. Salah satu etape, kami singgah di rumah tradisional yang sudah memasuki wilayah Kab. Soppeng. Jarak antara lise sampai ke jalan masuk Lejja sekitar 19 km. Rute sepanjang 19 km ini relatif masih bisa saya atasi, meskipun ada beberapa tanjakan yang cukup panjang. Meskipun begitu, beberapa peserta tidak bisa menyelesaikan gowes sepanjang 19 km ini. Ada yang hanya bisa gowes tidak lebih dari 3 km, maklum saja, yang bersangkutan sudah berumur diatas 60 tahun.

Persiapan-sebelum-Gowes
Persiapan

19 km sudah kami lalui, dan masih menyisakan 14 km lagi sebelum tiba di tempat tujuan. Sedangkan rute 19 km saja sudah banyak yang menyerah, apalagi 14 km sisanya, yang merupakan rute terberat dengan kombinasi tanjakan dan penurunan yang berkelok-kelok. Saya cukup terkejut dengan dua tanjakan pertama, yang menurut saya sangat menantang. Padahal masih ada 13 km lebih yang belum kami lewati.

Tanjakan demi tanjakan kami lewati, satu persatu peserta gowes menyerah dan harus naik ke mobil pickup. Yang tersisa hanya beberapa orang peserta “veteran” diatas usia 50 tahun, sisanya yang juga tidak banyak adalah anak-anak muda dan bapak-bapak dibawah usia 50 tahun. Saya tidak terpengaruh dengan peserta yang sudah menyerah, saya bertekad untuk finish dengan mengayuh sepeda saya, meskipun harus mendorong pada tanjakan yang terjal sekalipun.

10 km terakhir adalah medan berat, dan 4 km terakhrir lah yang paling berat ditambah dengan tenaga yang sudah habis dan hari yang sudah malam. Saya sempat mendorong sepeda saya pada sebuah tanjakan yang sangat terjal menjelang finish, dan waktu itu sangat gelap dan banyak anjing yang menggonggong. Saya berpikir harus istirahat sebentar untuk menarik nafas sebelum melanjutkan gowes 2 km terakhir.

Jalannya memang sudah beraspal, tapi kondisi penerangan yang sangat minim membuat kami harus berhati-hati, siapa yang tahu kalau tiba-tiba saat lintasan menurun didepan tiba-tiba ada tikungan tajam. Kondisi seperti inilah salah satu tantangan dalam gowes kali ini. Disatu sisi, kami harus memanfaatkan kecepatan sepeda saat melewati lintasan menurun untuk mendaki lintasan menanjak, tapi disisi yang lain kami harus berhati-hati supaya tidak melewati jalan berlubang atau terjun ke jurang.

Kurang lebih pukul 19.00 WITA kami sampai di garis finish. Ada kepuasan tersendiri bisa gowes melewati medan yang se ekstrim ini. Hasrat saya yang sudah lama ingin gowes pada lintasan seperti ini terbayarkan. Setelah semua anggota sampai pada garis finish, kami segera turun ke kolam air panas. Luar biasa rasanya, habis gowes yang melelahkan, kemudian berendam di air panas. Thanks, PCC!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *