layang-layang

Layang-Layang, a Childhood Memory

Hampir semua anak-anak suka bermain layang-layang. Tentu yang paling banyak yang main layang-layang adalah anak laki-laki. Saya ingat betul waktu kecil dulu sangat senang main layang-layang. Pertama kali layangan saya waktu itu berbahan kertas minyak, saya terbangkan dengan benang kain. Amatir! Ya, betul. Layangan yang saya terbangkan waktu itu tidak pernah saya turunkan kembali. Benang nya putus, karena angin waktu itu sangat kencang ditambah benang yang sangat mudah putus itu.

I ran to catch it back. Did I found it back? No. Layangan itu terbang jauh entah kemana, tapi perkiraan ku waktu itu jatuh nya di rimbunan bambu. Bukan sesuatu yang gila kalau seorang anak kecil berani mengejar layangan yang putus kemanapun arahnya, this is not a secret I’m telling you. Sudah banyak anak kecil yang jadi korban karena mengejar layangan yang putus. Bayangan layangan gratis, plus sisa benang yang putus, plus rasa prestige sebagai seorang pemburu layangan membuat mereka sangat determined mengejar layangan.

layang-layang

Si anak kecil tentu saja melihat kendaraan yang melintas dijalanan saat mereka mengejar layangan. Tapi ancaman kecelakaan bukan lah halangan untuk tetap melanjutkan perburuan. Perburuan tetap berlanjut. Dan tidak semua anak yang mengejar layangan pulang dengan membawa apa-apa. Ada yang berhasil mendapat si layangan, ada yang tidak. Ada yang tersenyum kemenangan, merasa perburuan dimenangkan oleh nya dan ada yang basah pipinya oleh air mata, karena tidak berhasil mendapat layangan, ataupun hanya seutas benangnya saja. Senang, sedih, berlari, berjalan, menangis. Itulah kado dari perburuan layangan.

Saya tidak pernah mau mengejar layangan sampai ke jalan raya, terlalu berisiko. Resiko tidak sebanding dengan iming-iming layangan yang diburu. Layangan Rp 500 + prestise + sisa benang tidak menarik menurut ku. Kasian si anak yang tertabrak karena mengejar layangan, namun pulang bukan dengan wajah senang, tangan yang memegang layangan, dengan langkah cepat, tapi pulang digotong saksi kecelakaan yang iba melihat si anak yang menjadi korban tabrak lari.

Saya ingat beberapa teman kecil saya yang sangat berani mengejar layangan putus. Lari kencang, berteriak lantang saling mengklaim bahwa dia lah yang pantas mendapat layangan itu, melompati rintangan, memanjat pagar rumah orang lain, melompat ke rawa, menjolok antena televisi, melempar batu, berkelahi. Semua dilakukan hanya untuk sebuah layangan yang pemilik nya saja belum tentu ikhlas dengan putusnya layangannya.

Orang tua hanya geleng-geleng kepala melihat antusias si anak kecil yang luar biasa terhadap layang-layang. Mereka sudah capek berteriak untuk melarang si anak kecil bermain layangan. Tapi, jangan harap banyak layang-layang yang terbang di area persawahan sebelum panen padi. Petani-petani di beberapa daerah akan sangat marah melihat kalau ada layangan yang terbang saat mereka belum panen. Saya sendiri belum paham mengapa mereka begitu. Ini sudah berlangsung secara turun temurun. Saya sendiri pernah dikejar karena bermain layangan di area persawahan.

Layang-layang. Saya pikir mainan ini sebagai salah satu bentuk kid’s dream dimana mereka memainkan nya dengan gembira, mengejar nya tanpa takut dengan kemungkinan resiko yang ada, mengerahkan tenaga mereka, persahabatan, rivalitas, purely cildish. Sangat senang melihat layangan yang kita terbangkan dengan memanfaatkan angin yang bertiup, mengarahkan gerakannya, mempertahankan posisinya sesuai keinginan kita. Itulah kita yang memainkan layangan waktu kecil. A childhood memory, hmmm… apart of sweet memories in this life. Sebuah film mengenai kenangan masa kecil dengan layang-layang pernah saya tonton di film The Kite Runner. Film tentang childhood memory yang sangat menyentuh, saya tidak bisa menjelaskannya kecuali anda sendiri yang menontonnya. Watch it, and feel it. See ¬†ya!

1

2 Responses

  1. jurnal ilmu
    March 31, 2011
    • rizqi
      April 3, 2011

Write a response

%d bloggers like this: