Tidak terasa, terasa juga tidak apa-apa

Tepat 50 hari, sejak hari pertama kami ditempatkan di posko KKN masing-masing. KKN (Kuliah Kerja Nyata) setidaknya memberikan warna baru dalam kehidupan perkuliahan. Bukan di dalam kelas seperti yang sudah banyak kali terjadi. Tapi KKN – lebih tepatnya dinyatakan sebagai pengabdian kepada masyarakat – memberi kesan tersendiri kepada kami, yang memang seharusnya merasakan bagaimana memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan sebagai sumbangsih terhadap masyarakat.

Dalam 50 hari ini, banyak hal yang terjadi. Baik antara kami – sesama mahasiswa KKN – maupun hubungan kami dengan warga sekitar. Hubungan antara “kami”, dari yang awalnya sama sekali belum saling mengenal, menjadi akrab. Memang lebih beragam dengan latar belakang berbeda-beda, berasal dari fakultas berbeda-beda, tidak ada permusuhan meskipun dua dan lebih fakultas saling bermusuhan, kata para senior-senior pendahulu saya.

Seminggu-lagi,-jangan-sedih
Don’t be sad

Sedangkan kami saja yang notabene kuliah dalam satu universitas – Universitas Hasanuddin – awalnya tidak saling mengenal, apalagi kami dengan lingkungan baru kami di posko KKN masing-masing. Awalnya kami sempat ragu jangan sampai mengharapkan banyak bantuan dari warga lingkungan sekitar kami, mengingat kami ditempatkan di posko kecamatan yang nayatanya masih bisa dikatakan berada di kota, sehingga kami berasumsi bahwa warga sudah sulit diajak untuk bekerja bersama. Tapi ternyata tidak, tanggapan warga ternyata cukup antusias. Terbukti dari partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan, seperti kegiatan pembersihan lingkungan.

Semakin hari, hubungan kami menjadi semakin akrab. Meskipun ada juga kalanya terjadi kesalahpahaman, tapi Alhamdulillah tidak terjadi masalah berarti. Masalahnya, paling-paling hanya seputar ketidakhadiran beberapa teman-teman di posko, karena ada kegiatan lain yang lebih urgent di kampus, misalnya.

Oh iya, satu hal yang membuat saya sedikit terharu selama kegiatan KKN ini adalah, sambutan anak-anak SD yang sempat kami ajar. Anak-anak ini berebutan menciumi tangan kami. Belum pernah saya mengalami hal ini sebelumnya. Dalam hati, saya sebenarnya tidak pernah mengharapkan tanggapan seperti ini dari murid-murid SD ini. Mereka secara spontan melakukannya tanpa diminta. Saya salut dengan sopan santun mereka.

Satu waktu saya sedang membaca buku di depan posko KKN saya. Dan baru saja murid-murid SD ini selesai latihan menari di pekarangan posko, usai latihan mereka berjejer. Waduh, saya jadi kaget, mau apa anak SD ini. Ternyata mereka berjejer untuk mencium tangan (salam) saya. Masya Allah…. Lucu sekaligus salut saya melihat mereka semua. Padahal saya sempat bercanda, kalau tangan saya kotor, karena sempat memegang kotoran. Mereka semua tertawa terbahak-bahak, ada yang menghindar pada awalnya, tapi ada juga yang tahu kalau saya cuma bercanda. Semuanya dapat bagian cium tangan!

Nah, kurang lebih seminggu lagi sebelum masa penarikan kami dari posko KKN. Setelah itu kabarnya kami akan dibawa ke Pakatto’ (Kab. Gowa) untuk mendapatkan pelatihan Bela Negara. Mudah-mudahan seminggu terakhir ini bisa kami manfaatkan sebaik mungkin, semoga kami dapat memanfaatkannya untuk semakin mengharmoniskan hubungan dengan orang-orang di sekitar wilayah posko kami. Dan juga semoga program kerja kami bisa diselesaikan tepat waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *