Suatu Waktu di Singapura

Rizqi Fahma

Perjalanan dari Kuala Lumpur, Malaysia berlanjut ke Singapura. Malam itu juga kami menempuh perjalanan kurang lebih 350 km dengan bus menuju Singapura. Ditengah perjalanan kami sempat singgah beberapa kali untuk makan (maklum, kami semua lapar waktu itu) ๐Ÿ˜ฏ . Disini lah kami melihat sebuah konsep baru dalam bidang transit perjalanan darat.

Di Malaysia, berhubung karena jalan nya rata-rata highway (tol) sangat jarang ditemukan pedagang-pedagang makanan yang lazim ditemui di Indonesia. Pedagang-pedagang yang bebas menjual makanan dipinggir jalan. Mereka mengusung konsep food court (kantin) yang terintegrasi dengan beberapa fasilitas pendukung lain, seperti Mushallah (Melayu: Surau), toko grosir, hingga Pompa bensin. Sejujurnya, beberapa tempat di Indonesia juga begitu. Tapi kebanyakan yang saya temui masih berada di pulau Jawa. Daerah Indonesia timur (kebetulan saya tinggal di Provinsi Sulawesi Selatan) belum mengadopsi sistem seperti itu. Jalan pun masih banyak yang rusak. ๐Ÿ˜ฏ

Kesan pertama menyantap makanan setempat

Tiba di food court, kami memesan makanan. Beberapa menu menjadi pilihan, yang saya pilih adalah nasi dan ayam sebagai lauk nya, tambah sayur tentunya. Dari penampilan saja sudah cukup asing menurut saya. Warna nya dominan kehijau-hijauan. Tapi tak apa lah, ini mungkin hanya tipuan warna saja, siapa tau rasa nya enak. :mrgreen:

Tempat duduk sudah dapat, saatnya makan! Dari suapan pertama pun lidah saya sudah merasa beda rasanya. Rasa makanan nya mirip makanan India! Rempah-rempah nya sangat terasa dilidah. Go ahead! Perut harus terisi cukup, perjalanan ke Singapura masih jauh.

Hal yang menarik lainnya di food court ini adalah peminta sumbangannya. Kalau di Indonesia peminta sumbangan identik dengan pakaian seadanya, di Malaysia mereka berpakaian santun, rapi, tidak bisa dibedakan dengan warga biasa lainnya, dengan pakaian corak bunga-bunga tentu nya. Pada awal nya saya ragu, tapi melihat tingkah laku nya yang sopan, saya memutuskan untuk memeberi nya ringgit. ๐Ÿ™‚

Selanjutnya, kami shalat di surau yang tersedia di area food court tersebut, dan melanjutkan perjalanan ke Singapura. Yeee….ย  ๐Ÿ˜€

Tiba juga di Singapura, tapiโ€ฆ

Pagi-pagi sekali (10 Oktober 2011), kami tiba di imigrasi Tuas untuk pemeriksaan sebelum masuk ke Singapura. Kami melintasi jembatan yang menjadi batas Malaysia dan Singapura. Kantor imigrasi ini sangat luas, mirip dengan gate antrian di bandara. Barang-barang kami bawa turun untuk pemeriksaan. Masih pagi betul, tapi terlihat banyak sekali orang yang mengantri untuk masuk Singapura melalui kantor Imigrasi Tuas ini. Mereka kebanyakan adalah para pekerja dan pelajar yang bermukim di Malaysia.

Satu per satu teman saya sudah melewati proses pemeriksaan paspor, mendapatkan stempel dari petugas imigrasi. Namun tidak semua nya berjalan mulus, belasan dari kami harus mendapat pemeriksaan lebih intensif di kantor imigrasi tersebut. Semua nya adalah laki-laki.

Barang-barang diperiksa, saya agak khawatir dengan pemeriksaan ini. Karena saya membawa satu bungkus rokok (bukan rokok saya). Petugas wanita imigrasi tersebut meminta saya membongkar tas saya dan menemukan rokok, segera dia memerintahkan untuk membuka bungkus rokok itu. Dia menanyakan lagi, apakah masih ada lagi rokok yang saya simpan? Saya bilang tidak ada lagi. Saya fikir dia akan mengamankan rokok itu dan mendenda saya, saya sangat khawatir, bagaimana tidak, denda nya ribuan dollar Singapura!ย ๐Ÿ™„ Beruntung, ini tidak melanggar peraturan, karena hanya satu bungkus rokok saja. Fiiuuhโ€ฆ.

Tiba di KBRI Singapura

Setelah beres dengan ke-imigrasian, kami melanjutkan perjalanan ke KBRI Singapura. Perjalanan kami disambut dengan hujan yang cukup deras. Sebelum kesana, kami diharuskan untuk berbusana batik (kami sudah mengganti baju saat subuh hari di Malaysia) dan juga jas almamater kami. Tiba di KBRI, kami disambut seorang petugas KBRI. Beliau mengajak kami berkeliling di beberapa bagian kantor KBRI. Disana kami diperlihatkan bagaimana proses pengurusan berkas kependudukan, seperti paspor dan lain-lain. Kebanyakan orang yang datang adalah TKI, pelaut dan pelancong yang akan ke Indonesia.

Selanjutnya kami dibawa ke basement untuk menerima sambutan KBRI. Kami tidak disambut di hall atau semacamnya. Maklum, katanya persuratan kami kurang lengkap, dan saat itu juga ada rombongan pengunjung lain yang berkunjung kesana. Tapi, that was fine. Yang penting, beberapa gambar sudah kami abadikan disana. Walaupun beberapa teman-teman bertingkah lucu. Beberapa teman berfoto didepan mobil-mobil mewah di parkiran kantor KBRI. Mungkin untuk keperluan foto profil Facebook atau semacamnya. Claim again! ๐Ÿ˜Ž

Aha, Merlion Park! Jangan lupa Esplanade dan Marina Bay

Di Singapura tidak lengap rasanya kalau tidak ke Merlion Park. Ini lah salah satu landmark Singapura. Sebuah patung singa bertubuh mermaid (putri duyung) yang menyemburkan air dari mulut nya. Patungnya besar sekali rupanya!. Disini kami melihat pemandangan waterfront yang sangat tertata. Ada perahu wisata juga, dari kejauhan nampak Marina Bay, hotel dengan bangunan perahu raksasa diatasnya. Juga gedung Art Science Museum yang bentuknya seperti telapak tangan yang menghadap keatas. Akhirnya bisa melihatnya langsung. ๐Ÿ˜†

Merlion-in-front-of-Esplanade-0
Merlion

Dari merlion park, kami menyeberang jembatan ke Esplanade, gedung yang diselimuti seperti kulit durian diluarnya. Gedung ini dipakai untuk konser dan juga teater. Konsep bangunan ini unik juga, dari esplanade terdapat jalan bawah tanah menuju mall (juga bawah tanah). Luar biasa! Luar biasa juga capek nya berkeliling disana. ๐Ÿ˜ฏ

Bermaskud untuk mencari jalan keluar menuju bus, kami malah semakin tersesat. Berulang kali kami harus naik turun eskalator, bolak balik dijalan yang sama dan ini sangat melelahkan. Beruntung kami dapat menemukan jalan keluar dan berhasil menemukan bus.

Selanjutnya kami bergerak ke kawasan Sultan, semacam kawasan Arab. Disini kami santap siang di sebuah restoran makanan Indonesia. Akhirnya ketemu makanan Indonesia juga. Makanan nya lumayan enak. Setelah makan kami ke masjid sekitar untuk shalat.

Setelah shalat, waktunya belanja! Di kawasan tersebut banyak penjual barang-barang souvenir, seperti gantungan kunci, baju kaos, tas, barang elektronik (kamera, iPhone, iPod, iPad, dll) sampai mainan anak-anak. Dollar demi dollar Singapura dilepas untuk mendapat barang yang diinginkan. Harganya? Lumayan terjangkau lah. Tapi harus pintar-pintar menawar juga.

Selanjutnya kami ke URA (Urban Redevelopment Authorization). Ini harus kami datangi, mengingat tujuan kami adalah untuk memperdalam ilmu kami dibidang urban and regional development. Mereka punya sumber daya yang sangat lengkap. Mulai dari maket yang luar biasa luas nya. Mereka punya miniatur Singapura! Lengkap dengan bangunan-bangunannya. Teknologi nya juga maju, sangat interaktif dengan interface layar sentuh. Tidak lupa, foto-foto juga, gan! ๐Ÿ˜Ž

Subway, mari kita coba!

Tidak lengkap juga rasanya kalau ke Singapura tidak mencoba moda transportasi nya seperti apa. Disana kami juga sempat mencoba menumpangi Subway di Orchard Road. Rasanya seperti di film-film Korea dan Jepang saja (aiihโ€ฆ.. Korea โ€“ Jepang mode: on) karena biasanya pemandangan tersebut hanya saya lihat di film-film kedua negara tersebut. ๐Ÿ˜›

singapore-subway
Subway

Setelah mencoba Subway, kami pergi ke tempat lain untuk mencari makan. Kami makan malam di Mr Teh Tarik Eating House.ย  Menu yang saya pilih adalah Mie ayam. Rasanya lagi-lagi mirip makanan India! Harus membiasakan lidah dengan makanan India nih. Minumnya teh saja. :mrgreen:

Check in di Hotel 81 Geylang

Setelah makan di Mr Teh Tarik, kami bergegas menuju hotel untuk menginap. Kami menginap di Hotel 81 di Geylang. Oh yeah! Belakangan saya ketahui bahwa Geylang adalah sebuah kawasan Red Zone! Disekitar hotel banyak ditemui penginapan-penginapan โ€˜esek-esekโ€™, dan ini mengundang perhatian kami, mahasiswa-mahasiswa yang penasaran. Hanya untuk bahan pembicaraan dan lelucon saja lah. ๐Ÿ™‚

Kamar sudah dikelompokkan, dan diisi dengan maksimal 4 orang per kamar. Saya bersama tiga orang teman saya yang lain di sebuah kamar berukuran sedang, double bed. Fasilitas nya lumayan lengkap lah. Ada AC, TV, dan WC juga pemanas air serta Hair dryer.

Saatnya beristirahat, tapi sebelumnya jalan-jalan dulu, berkeliling melihat keadaan sekitar. Tugas laporan awal juga harus dikerjakan!ย ๐Ÿ˜‰

1 thought on “Suatu Waktu di Singapura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *