Menu Close

Tag: alamak

Membaca Koran Dipinggir Jalan

Hari itu saya berencana untuk survey dan membagikan kuesioner untuk tugas Studio Perencanaan Tata Ruang yang sudah sangat sering tertunda karena beberapa alasan yang tidak usah disebutkan. Ok, hari itu sebenarnya tidak ada rencana untuk survey. Hari itu saya hanya berencana untuk mengambil gambar beberapa bagian sungai Tallo yang menjadi bahan tugas akhir Perencanaan Kawasan Tepian Air saya. Setelah merasa cukup mengambil gambar di kedua titik sungai yang sudah saya target sebelumnya, saya berangkat ke Graha Pena, tapi karena tujuan saya kesana tidak berjalan mulus, saya lebih memilih berangkat ke Showroom Mizan dan Gramedia untuk mencari beberapa buku.

Mizan, checked. Gramedia, on progress…. Sementara membaca buku di Gramedia, HP berdering. What? Panggilan survey, bro! Ada kuesioner yang harus dibagikan dilokasi survey kelompok ku. I said OK, to my friend. “Kita ketemu dijurusan saja”. “Saya langsung ke lokasi survey saja”, I said. “OK”, said my friend. Satu lagi agenda harus dilakukan hari itu, setelah dari Gramedia tentunya. Buku-buku yang sudah saya incar beberapa waktu sebelumnya, saya beli. Termasuk satu buku pesanan teman saya.

Saya langsung menuju ke lokasi Survey saya. Aduh, saya lupa lokasi tepatnya dimana. Yang jelas lokasi nya di Taman Refleksi bla bla bla begitu lah, dekat jalan Hertasning, Makassar. Alamak, mungkin saya sudah terlambat, tidak enak sama teman kalo begini. Cingak-clinguk kiri kanan dari kejauhan, eh belum ada yang keliatan teman-teman kelompokku. Didepan ada lampu merah. Eits… Ada si bocah yang sambil duduk membaca koran dagangannya, asik sekali dia membaca, membaca kayak sembunyi-sembunyi lagi, pelan-pelan dia membuka korannya, khawatir nanti korannya rusak.

Loper-koran-lagi-membaca-compressd

Heheheh… Saya senyum-senyum saja lihat si bocah, saya senang liat dia membaca korannya dengan sangat konsentrasi, padahal tugas utamanya adalah menjual si koran, bukan membaca nya. Hahahah…. OK, I got to do something here. Ahhhh… dia kan bukan tujuan utama saya kesana. Saya kesana mau survey. Pas di lokasi, eh teman-teman belum datang, waduh bagaimana ini? Saya telpon saja teman saya tadi, katanya kuesioner belum bisa dibagikan karena ini-itu, dia tidak bisa ke lokasi survey, dan minta maaf. “Tidak apa-apa”, I said. “Maaf ya, kita tidak jadi survey”, My friend said. “Ok, tidak apa-apa”, I said lagi.

Hmmm…. rencana sebelumnya untuk survey akhir nya batal. Fine! Harus ada yang saya lakukan disini. Harus!. Aha! saya langsung teringat si bocah tadi. Kira-kira apa ya, yang dia lakukan sekarang, apa masih asik membaca korannya, ato kembali ketugas utamanya, menjual si koran. Jawabannya B!, dia menjajakan korannya. Sekilas dia menatap saya, dan memberi isyarat menawarkan korannya kepada saya. Saya cuma menggeleng waktu itu, isyarat tidak berminat membeli koran. Fikiran saya saat itu ada beberapa buku yang menarik untuk dibaca dikamar kalau pulang nanti. Lagian menurut saya, akan sangat sedikit artikel yang saya baca. Tidak ┬ásampai 50%, karena pengalaman saya membaca koran itu beberapa data yang dimuat didalamnya sering kali kurang akurat. Misalnya nilai transfer pemain bola yang kalo di-kurs kan kedalam rupiah mestinya hanya ratusan miliar, ditulis ratusan triliun, dan gaya penulisan yang menurut saya kurang menarik untuk dibaca. Selain itu, saya lebih memilih untuk browsing langsung di internet untuk berita-berita tertentu dibanding membaca nya dikoran, karen alasan update berita yang lebih cepat.

Ok, back to the business. Ah, lebih baik saya beli korannya. Saya datangi si bocah, dan menawarkannya deal. “Saya akan beli koranmu kalau kau mau difoto seperti gaya mu tadi waktu membaca koran? (karena tadinya saya kehilangan momen untuk mengambil gambarnya)”. Sesaat dia berfikir sejenak, tersenyum-senyum tipis, dan “OK”. Dia mengangguk. Hahaha… berhasil, kena kau! Kuambil kamera digital pinjaman dari tas selempang ku, jepret, jepret. Done! “Ini uang mu, terima kasih ya!”

Akhir nya salah satu keinginan saya untuk mengambil gambar seorang bocah penjual koran dilampu merah yang sedang membaca sudah saya abadikan. Saya merasa bangga dengan si bocah tadi, disela-sela kesibukannya menjual koran, masih sempat membaca, dibanding mengganggu orang lain yang sering terjadi dilampu merah. Sangat jelas kalau dia anak SMP, masih pake celana sekolahnya lagi, celana pendek warna biru, man! Semoga kau jadi orang yang berpendidikan, boy!

See ya!

Ride on the Broken Road

Check one, check two, check three… Buat kamu yang hobi berkendara berhati-hati lah, jalanan makin kejam, jumlah pengendara lebih banyak, lubangnya juga begitu. Volume jalan sekarang tambah besar, tentu tidak sebanding dengan volume kendaraan yang melaju diatasnya. Masalah pun muncul, salah satunya jalan berlubang. Apalagi di musim hujan seperti sekarang ini, lubang-lubang dijalan makin banyak, dan alamak…. lubang nya sangar-sangar. Kalau kurang hati-hati kita bisa jadi korban lakalantas, dan mudah-mudahan kita bisa terhindar dari kejadian yang tidak diinginkan itu.

Musim hujan dan beberapa kondisi diatas memang menjadi penyebab utama kerusakan jalan, tapi tidak diimbangi dengan perbaikan yang semestinya rutin dilakukan. Oleh siapa? Guess who! Semua pasti menjawab pemerintah. Masa’ supir bus, supir truk, ato supir tank. Logika nya Supir bus dan supir truk memang sewajarnya wajib membantu pemerintah untuk memperbaiki jalan yang rusak, karena merekalah orang-orang yang membawa kendaraan yang bertonase tinggi kejalan raya. Bukan supir tank, hehehe…. just kiddin’.

Terus terang, saya sebagai pengguna jalan, yang tiap tahun bayar pajak sangat tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Pemerintah yang seharusnya tanggap menanganinya eh malah kurang respon dengan keadaan seperti ini. Padahal kalau dibiarkan, kerugiannya luar biasa. Selain menimbulkan korban jiwa, roda perekonomian juga akan sangat terganggu. Semua tau kan kalau moda transportasi yang paling banyak digunakan untuk mengantarkan barang-barang dari produsen ke konsumen adalah moda transportasi darat. Jadi, kalau jalan banyak rusak bagaimana perekonomian mau tumbuh pesat. Setidaknya pajak-pajak yang dibayar oleh pemilik kendaraan dipakai untuk memelihara jalan dengan rutin (masukan untuk pemerintah), dan harus merata.

Saya tulis artikel ini, untuk mengejewantahkan perasaan saya sebagai pengendara motor, yang tiap tahun bayar pajak, tapi tidak puas dengan kondisi jalan yang banyak mengalami kerusakan, dan tidak cepat ditanggulangi. Mudah-mudahan pihak berwenang bisa segera mengatasinya. Bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan kinerja pemerintah. Tidak semua pemakai jalan tertib, saya pun kadang begitu. Banyak kendaraan yang melaju dengan beban yang tidak seharusnya dijalan, ini seharusnya ditindaki dengan tidak diperbolehkan melintas dengan beban yang lebih dari kapasitas jalan. Intinya semua pemakai jalan harus tertib. Biar masalah-masalah lalu lintas bisa diminimalisir.