Menu Close

Tag: Buku (page 2 of 2)

1 Buku Sebulan

Sama dengan kebanyakan orang, pada awal nya saya bukan lah seorang yang suka membaca buku.saya juga suka membaca, tapi lebih senang baca komik dan koran daripada buku. Apalagi  kalau buku yang tidak bergambar! Nyaris tidak ada buku pelajaran yang menarik menurut saya. Kecuali dengan buku yang berbau komputer, karena saya memang suka dengan hal-hal yang berbau IT.

Beda dengan beberapa teman, sejak SMP saya melihat beberapa teman sekelas saya yang cewek sangat senang membaca buku. mereka seperti tenggelam dalam bacaannya. Yah, memang sih bacaannya cuma novel. Tapi itu membuat saya sangat penasaran. Kenapa mereka bisa begitu “tahan” membaca buku yang tidak bergambar sama sekali?

Sampai akhirnya

Sampai dengan SMA, saya tetap tidak merasa tertarik dengan buku bacaan. Yang menarik hanya sampul nya! Isinya? No way! Saya masih tidak tertarik membacanya. Saya masih ingat, waktu itu lagi ada satu novel islami yang sedang naik daun, dan banyak diperbincangkan dimana-mana. Kebetulan, seorang teman saya (cewek) juga punya buku itu. Saya bertanya, bagaimana cerita dalam bukunya, bagus kah? Dia menjelaskan, bahwa isinya sangat bagus! Wow… seperti itu kah? Saya belum percaya!

Adik saya yang kebetulan juga suka baca novel kutanyakan pertanyaan yang sama. Dan jawabannya juga sama dengan teman saya yang tadi. Memang, dia belum baca bukunya. Tapi mendengar cerita dari temannya, dia juga tertarik untuk membaca. Wah, sepertinya ini bisa dicoba! kemudian, saya meminta kepada teman saya untuk membawa bukunya.

Saya sempat membaca beberapa bagian dari buku itu, dan ternyata betul kata mereka. Isinya sangat menarik. Baru kali itu saya merasa sangat bersemangat membaca buku!

Itu lah yang membuat minat membaca saya semakin tinggi, khususnya terhadap buku yang tidak bergambar seperti novel. Sekarang, setelah beberapa tahun sejak saat itu, Alhamdulillah, saya sudah mengoleksi puluhan buku. minat baca saya pun semakin tinggi, dengan tidak hanya terpaku pada satu bidang. Saya berusaha untuk menambah pengetahuan dibidang lainnya. Tapi, tetap yang paling menarik untuk saya baca adalah buku-buku pengembangan diri. Ya, saya lebih banyak mengoleksi buku seperti ini dibanding buku kuliah saya sendiri.

Saat ini, saya masih terus berusaha untuk memenuhi target saya menambah koleksi buku minimal satu buku dalam sebulan.

Siapa Sebenarnya Trinity, Penulis Buku The Naked Traveller?

Jum’at , 17 Juni 2011. Hari yang panas, seperti biasa di kota Makassar. Tiba-tiba ada sms yang masuk dari K’ Nanie seorang teman di AngingMammiri (Komunitas Blogger Makassar) yang mengatakan bahwa akan ada bincang-bincang dengan Trinity, penulis buku best seller The Naked Traveller di Musium Balaikota, Makassar. Dua pilihan, datang atau tidak. Saya berfikir dulu ah, kalau saya tidak datang, saya bisa santai-santai sore hari nya. Bisa tidur siang (sudah jarang tidur siang, coy) istirahat sebentar setelah beberapa waktu terakhir disibukkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan perkuliahan. Atau kah pilihan kedua, ikut acara nya, bisa nanya-nanya langsung, bisa ketemu langsung, plus bisa minta tanda tangan nya Trinity.

And yes, tentu saja pilihan kedua, pilihan saya akan ikut acara nya. Sebenarnya ini merupakan salah satu rangkaian acara… Aduh, apa yah, saya lupa. Kayaknya Writer Festival begitu, berbau promosi budaya sepertinya. Dengan demikian, saya harus menunda waktu untuk istirahat sejenak. Tapi tak apa lah. Pengorbanan sebanding dengan apa yang saya dapat.

Sampai disana, Terlihat sebuah set semacam panggung berbalut kain merah dibagian luar gedung musium. Waduh, saya fikir acara nya sudah lewat. Karena sms dari K’ Nanie acara nya mulai jam 13.00, which is itu berarti sehabis shalat Jum’at. Sedangkan perjalanan dari tempat saya ke musium Balai Kota kurang lebih 15-20 menit perjalanan dengan naik motor. Motor saya tentu saja. Tapi, mending terlambat, daripada tidak datang. Lagian acara nya sendiri sampai jam 15.00. Di pintu gedung musium terlihat beberapa orang, terhitung cukup kurang untuk acara seukuran launching buku. Salah satunya seorang wanita dengan postur agak “besar”, tapi yah masih seimbang lah, karena tingginya juga lumayan.

Siapa-Sebenarnya-Trinity-The-Naked-Traveller

Trinity Traveler

Sepintas, wanita tadi mirip dengan foto Trinity, yang pernah saya lihat di internet beberapa waktu lalu. Perasaan mau sapa dia, tapi sebearnya saya sendiri juga masih ragu dengan pendapat saya sendiri. Nama nya sendiri saya belum tahu. Okelah, saya harus tunggu dulu untuk pastikan. Dari dialek nya, dia memang bukan orang asli Makassar, Pasti dari Jakarta nih, analisis saya. Wanita, pake celana pendek, mata sipit, trus rambut di-tarik kebelakang, pake T-Shirt putih, gayanya cukup keren, dan sangat santai terlihat. 75 % saya yakin kalau dia itu Trinity. tapi harus sabar dulu untuk tahu siapa sebenarnya dia, dan yang mana yang sebenarnya Trinity itu.

Belum ramai sewaktu saya sampai disana. Belum terlalu crowded seperti acara AM dulu, launching Firefox 4 di DeLuna Cafe, atau acara Blogilicious bersama idBlognetwork dan Berniaga. Hanya terlihat beberapa pegawai musium, crew-crew dari mungkin penerbit dari buku The Naked Traveller dan beberapa orang yang tujuannya juga sama seperti saya, mau liat Trinity langsung. Saya lebih memilih jalan-jalan kedalam musium, melihat koleksi-koleksinya. Ada peta Makassar tempo doeloe, sepeda “fixie” tempo doeloe, meriam tempo doeloe, piano tempo doeloe, foto-foto(gambar) profil penjajah yang juga pasti 100 % tempo doeloe, bahkan sudah ada sebelum Polaroid datang, dan beberapa barang-barang tempoe doeloe lainnya. Wanita tadi pun juga saya lihat masuk kedalam musium melihat koleksi musium.

Tak lama kemudian acara sudah dimulai, dan tebak, wanita yang saya tebak tadi adalah Trinity, ternyata memang Trinity!. Tidak salah lagi, karena sudah diperkenalkan sama cewek disampingnya. Yang jadi Narasumber lain ada Fauzan, seorang wartawan yang juga hobi jalan-jalan, Toar, asal Makassar, seorang Fotografer, dan Adal. Oh ya, Adal ini orang yang cukup ekstrim pengalaman travelling nya menurut saya. Travelling dari Sumatera Barat ke Jakarta hanya dengan naik motor. Motor nya pun sudah tergolong berumur, dan katanya motor nya itu sudah hilang!. Dia mengaku sudah sering menginap di kantor Polisi. Alasannya, lebih aman katanya. Saya sendiri tidak pernah berfikir begitu kalau-kalau saya travelling. Mending nginap di mesjid. Katanya dia sering dibilang orang gila di kampung nya, karena kebiasaannya itu. Tapi dia sendiri tidak peduli, dan keluarga nya tetap mendukung. Dia sempat ke Nusa Tenggara, dan kalau travelling/backpacking tepatnya dia bawa uang cuma beberapa ribu, untuk transportasi dia lebih memilih numpang truk, naik kapal PELNI pun dia tidak bayar tiket katanya, ya sering-sering di-strap sama petugas katanya.

Banyak hal inspiratif yang didapat dari berbincang-bincang dengan para narasumber, pengalaman pribadi Trinity waktu backpacking ke manca negara, cerita-cerita lucunya, tips-tips backpacking, untuk siapa saja, termasuk cewek. Katanya cewek sebenarnya banyak diuntungkan kalau backpacking. Bisa pasang muka memelas ala cewek untuk bujuk abang-abang untuk angkat barang-barang nya, cewek gak usah malu kalo di suit-suit sama cowok, harus bangga katanya. Tidak seperti cowok katanya yang lebih gengsi minta tolong, contohnya waktu bertanya arah. Cowok gengsi untuk bertanya. Fauzan berbagi pengalamannya juga, waktu dia berangkat ke Mekkah, yang sebelumnya menurut dia sulit tercapai, tapi dengan wish nya dia tak menyangka kalau dia akan dapat tiket first flight ke Arab, dan wish nya untuk shalat langsung didepan Ka’bah terwujud. Perjalanan terjauh nya sendiri sampai ke Afrika.

Peserta juga diberi kesempatan untuk bertanya langsung dengan Trinity, ada yang bertanya tentang salah satu tulisannya Trinity tentang pengalamannya backpacking ke China, bagaimana cara nya nge blog yang baik, menulis tulisan yang enak dibaca, tentang pengelompokan tipe-tipe traveller, ada yang digolongkan sebagai flashpacker, hitchhicker backapacker, dan lain-lain. Terus terang Trinity sendiri tidak setuju dengan pengelompokan seperti itu.

Saya juga harus bertanya dong, kapan lagi dapat kesempatan seperti ini. Lagian yang bertanya juga tidak banyak. Saya cuma bertanya, “Nama lengkap Trinity siapa?” terus pertanyaan yang kedua saya “Umur nya Trinity sekarang berapa?” karena dibuku The Naked Traveller pertama dia selalu menyebut tentang faktor “U” itu sendiri, yang sering menghambat kelancaran aktivitas nya sewaktu backpacking. Ekspresi Trinity langsung berubah, waktu itu dia sedang minum, dan karena pertanyaan saya tadi, dia langsung keselek/tersedak mendengar pertanyaan saya yang pertama. “Gue sempat keselek tadi…”, kata Trinity, ditambah pertanyaan saya yang kedua membuat ekspresi nya berubah, matanya terbelalak.

Ini dia saat nya saya tahu, siapa sih nama asli dari Trinity, penulis buku best seller “The Naked Traveller”.

Dia mulai menjawab: “Untuk nama asli saya tidak bisa sebut, saya cuma biasa pakai nama Trinity seperti dibuku saya. Sudah cukup itu” Dia harus membedakan katanya identitas nya sebagai penulis buku dan identitas sebenarnya yang hanya diketahui oleh teman-teman dekatnya. Karena orang lebih mengenal dirinya sebagai Traveller dan penulis buku yang melambungkan namanya, Trinity sebagai penulis yang populer. “Untuk tetap membuat orang penasaran” katanya, “Kan nggak enak juga kan kalo orang dah gak penasaran lagi siapa Trinity itu?” Ya, itu merupakan salah satu startegi marketing yang dipakai untuk tetap meningkatkan penjualan buku, which is menurut saya cukup wajar, mengingat itu banyak terjadi di media.

Pertanyaan kedua, Trinity menjawab, “Kalau umur, kira-kira berapa?”, saya jawab “40”, “Apa? 44?”, “tidak”, kata saya, “40 saya bilang”. Dia cuma tersenyum, “Maaf lagi ya, untuk itu saya juga tidak bisa kasi tahu, biasa nya kalau disuruh tulis identitas, saya cuma tulis tanggal dan bulan lahir saja, tahun nya tidak”, “Maaf ya”, sambil tersenyum dia bilang begitu. “Mas sendiri umur nya dah berapa? Dah nikah ato belum?” Saya bilang, “Saya masih 20 tahun, masih mahasiswa”.

Dua dari dua pertanyaan saya tidak menemukan jawaban tepat nya. Tapi, tak apa. Karena sehabis acara bincang-bincang, saya dikasih tanda tangan dibuku kecil saya. To Rizqi, Trinity. Aduuh, sayang sekali saya tidak bawa buku The Naked Traveller saya, malah buku The Long Tail yang saya bawa kesana, yang mana mungkin saya mau minta tanda tangannya dibuku karangan orang lain, karangan orang barat lagi, bukan buku travelling lagi.

Identitas siapa nama asli dan berapa umur dari Trinity, Penulis buku The Naked Traveller akhir nya belum terungkap. Meskipun begitu, saya tetap senang sudah bisa ketemu langsung, bincang-bincang dengan narasumber yang ada, dan juga dapat tanda tangannya Trinity, meskipun tidak sempat berfoto sama dia, karena tidak bawa kamera. But, once again, it’s OK! See Ya!