Menu Close

Tag: Jalan-Jalan

Sebelum Ramadhan, Setahun Lalu

Jalan-jalan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan

Kurang dari setengah minggu lagi, bulan suci Ramadhan akan tiba. Sekedar mengingat kembali apa yang tahun lalu saya lakukan sebelum memasuki bulan suci ini. Waktu itu, saya dan beberapa orang teman berencana untuk “jalan-jalan” (padahal naik motor) ke Kabupaten Soppeng, untuk menikmati permandian air panas di sana.

Dari beberapa orang yang kami ajak, yang jadi berangkat hanya tersisa tiga orang. Saya, Akbar, dan Ilo sudah siap untuk berangkat ke Soppeng dengan mengendarai sepeda motor. Persiapan seperlunya saja, karena kami berencana hanya ingin menginap semalam disana.

Waktu itu, kami berangkat agak sore, sempat molor beberapa jam dari rencana sebelumnya. Meski sempat ada sedikit masalah, semuanya akhirnya baik-baik saja, dan perjalanan sejauh lebih dari 200 km kami mulai. Perjalanan kami mulai dari Kabupaten Pangkep menuju Kabupaten Soppeng dengan melewati 3 kabupaten/kota, yaitu: Kab. Barru, Kota Pare-Pare, dan Kab. Sidrap.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih tiga jam sebelum akhirnya sampai di ibukota Kab. Soppeng sekitar pukul sembilan malam. Kami sendiri sebenarnya berangkat kesana mengandalkan insting dengan bantuan beberapa orang ditepi jalan sebelum sampai ditempat tujuan. Dan alhamdulillah, kami sampai  dengan selamat.

Ilustrasi Pemandangan-Gunung

Ilustrasi

Perasaan pertama pas tiba disana adalah: lapar. Kami harus segera menemukan tempat makan sebelum mencari tempat penginapan, dan akhirnya kami makan di sebuah warung yang letaknya di kawasan “Pantai Kering”. Aneh juga sebenarnya, karena disana sama sekali bukan daerah pantai, hanya sebuah emperan pinggir sungai yang airnya entah kemana semua. But that was fine. 🙂

Setelah makan malam, kami segera mencari tempat penginapan, dan alhamdulillah, berkat informasi dari orang-orang yang kami temui, kami bisa sampai di sebuah penginapan, yang rupanya cukup nyaman juga. Lumayan dingin juga disana, dan…. Romantis! Ooppss….

Pagi pun tiba

Semalam di penginapan sudah cukup untuk memulihkan tenaga untuk kembali menempuh perjalanan ke lokasi permandian, dan jarak dari ibukota ke tempat permandian tersebut ternyata cukup jauh, memakan waktu kurang lebih satu jam.

Apapun yang terjadi kami harus sampai kesana. Dan dengan kembali mengandalkan hint dari orang-orang yang kami temui dipinggir jalan, akhirnya kami tiba di tujuan utama kami: Permandian Air Panas. Pemandangan disana cukup indah, dengan panorama alam yang masih cupu terjaga.

Tidak sabar kami ingin segera menceburkan diri ke kolam air panas. Waktu itu, rambut saya masih sedikit panjang, dan sempat kehilangan ikat rambut saat berenang. Padahal ikat rambut karet berwarna biru itu adalah kesayangan saya. 🙂

Setelah berjam-jam bermandi air panas, kami memutuskan untuk segera berkemas untuk pulang. Perjalanan naik motor berjam-jam akan kembali kami tempuh, namun dengan rute yang berbeda. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk bertemu dengan seorang kawan lagi di ibukota kabupaten Soppeng, yang kebetulan dia sedang KKN disana.

Beberapa hal yang sempat kami temui saat perjalanan pulang, diantaranya adalah iring-iringan pembawa jenazah yang memenuhi ruas jalan, sehingga kami harus memperlambat laju kendaraan. Dengan menyesuaikan kondisi, kami meninggalkan rombongan iring-iringan pembawa jenazah itu. Dan perjalanan kembali kami lanjutkan.

Tiba di rumah

Kurang lebih 40 km sebelum tiba di rumah, kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh dange (kue tradisional) di tepi jalan. Dengan memacu motor dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam, akhirnya kami tiba di rumah menjelang maghrib.

Perjalanan meninggalkan kesan, kesan memberikan cerita.

Itulah yang sempat saya lakukan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan tahun lalu. Namun, perjalanan seperti itu kelihatannya tidak akan terulang untuk tahun ini. Kami semua sibuk dengan urusan masing-masing. Peluang masih tetap ada, namun sepertinya sulit.

Itu saja. Wassalam.

Tapi Semuanya Senang

Suatu waktu di pasar malam

Malam ini semua orang menikmatinya. Tua, muda, laki-laki, perempuan, silih berganti berdatangan ke lahan bekas sawah ini.

Sama sekali tidak muncul kekhawatiran diwajah mereka. Mungkin karena cuaca malam ini yang sangat ideal, tidak berangin dan juga tidak ada tanda-tanda langit mendung.

Semua nya senang.

Dari tempat saya berdiri ini sya melihat sekumpulan anak dengan orang-orang tua masing-masing mengerubungi sebuah “wahana” permainan yang menurut saya tampak abal-abal. Tapi tidak ada yang peduli dengan ke-abal-abalannya.

Semua senang.

Mereka tampak bersemangat menunggu giliran untuk menaiki permainan semacam komedi putar ini. Dan kau tau kawan, permaian ini jelas-jelas bukan permainan otomatis mekanis. Ini adalah permainan ber-mesin yang lebih banyak menggunakan tenaga manusia dalam mengoperasikannya. Mesin hanya digunakan untuk penambah daya putar saja. Selebihnya, tenaga dan suara manusia yang saling berkoordinasi mengatur perputaran mainan ini.

Tidak ada yang mengeluh, dan semua tetap senang.

Sembari berjalan sejenak mengitari pasar malam itu, saya melihat beberapa anak menunggu Pop Ice yang mereka pesan. Si penjual, sepasang suami istri tampak kompak.melayani para pembeli, yang hampir semuanya adalah anak-anak. Tidak ada yang menjamin air yang digunakan sebagai bahan minuman – Pop Ice – itu higienis. Ataukah gorengan yang mereka makan itu, belum tentu menggunakan minyak goreng yang layak. Tidak ada yang bertanya, tidak ada yang protes, dan tidak ada yang peduli.

Pasar-Malam-Komedi-Putar

Lukisan Pasar Malam

Tapi semuanya senang.

Disatu sisi terluar lahan bekas sawah itu berdiri satu tenda panjang tempat sebuah grup menjalankan bisnisnya. “Lenggak Lenggok” begitu mereka menyebutnya. Permainan yang sebenarnya beda-bed tipis/memang mirip dengan judi itu adalah salah satu tempat yang paling banyak menarik pengunjung di pasar malam ini. Bahkan banyak anak muda dan bapak-bapak yang mengantri untuk bermain mempertaruhkan beberapa bungkus rokok. Ya, rokok. Tidak peduli apakah anda merokok atau tidak. Taruhannya tetap rokok. Dan rokoknya hanya satu merek, saudara-saudara sekalian. Clas Mild mereknya.

Tidak ada yang mengeluh, dan semuanya tetap senang.

Permainan yang menurut saya betul-betul mengandalkan keberuntungan ini sangat menarik antusiasme para pengunjung. Kreatif juga, penyelenggara Lenggak Lenggok ini. Padahal permainan ini hanya bola yang bergerak diatas sebuah kotak cekung yang ditempeli stiker dengan motif beragam. Ada segitiga, kotak, lingkaran, yang memiliki warna berbeda-beda. Para petaruh meletakkan kartu mereka diatas gambar yang mereka yakini akan menjadi tempat perhentian bola tersebut. Si bola melenggak-lenggok dan tak tentu yang mana yang akan dia datangi. Tidak ada yang peduli kapan mereka akan menebak dengan tepat.

Semuanya menikmati permainan ini, dan tentu saja semua senang.

Serangkaian peristiwa didalam pasar malam ini memperlihatkan saya satu sisi kehidupan yang lain, yang sudah semakin sulit saya rasakan. Cukuplah sesuatu yang apa adanya itu tetap sederhana. Boleh saja hidup memberikan cobaan berat kepada kita dan mereka, tapi satu hal yang penting adalah bagaimana menikmati seni dari dari suatu kesederhanaan hidup itu.

Dan semoga, semuanya tetap senang.