Menu Close

Tag: KKL

Semester 7, Check

Just another semester…

Terasa atau tidak terasa, semester 7 ini sudah berakhir. Kenyataannya, sudah 3 tahun setengah saya kuliah. Padahal rasanya baru beberapa waktu yang lalu saya masih berstatus sebagai mahasiswa baru. Sekarang sudah ada tiga angkatan lebih muda dari saya. Dulu masih tunduk-tunduk kalau masuk kampus, sekarang kepala sudah menengadah. Tidak tahu sedang mengarah kemana.

Alhamdulillah, semester 7 ini tidak ada hal yang sangat parah. Meskipun pasti tidak lepas dari masalah. Masalahnya bersifat umum lah. Jadwal yang padat, karena semester ini saya mengambil 23 SKS yang lebih banyak dibanding rata-rata teman sekelas saya. Bukan hanya jadwal kuliah yang jadi masalah, tapi tugas-tugas nya lah yang banyak menyita waktu. Karena jadwal yang padat ini lah, saya sempat sakit :mrgreen: . Tapi, alhamdulillah tidak sampai masuk rumah sakit.

Semester-7-Checklist

Checklist

Beberapa hal yang patut saya catat dari semester 7 ini adalah:

  • Sudah semakin rajin masuk kuliah (tingkat kehadiran sudah 80%).
  • Jadi lebih sering kerja tugas. *tapi kadang tidak tepat waktu :-(.
  • KKL (Kuliah Kerja Lapangan) di 3 negara: Singapura, Malaysia dan Thailand sudah selesai.
  • KP (Kerja Praktek) sudah selesai. *tapi kurang aktif 🙁 .
  • Sudah pernah merasakan kerja proyek (1 proyek monorail, 1 proyek dengan konsultan, dan 1 proyek penelitian dengan dosen).
  • Sudah menyelesaikan hampir semua mata kuliah. *Beberapa mata kuliah yang bernilai buruk harus diulang. :-(.

Kurang lebih itu lah beberapa poin penting pada semester 7 yang lalu. Bagaimana dengan IP (Indeks Prestasi) saya? Masih dalam tahap perbaikan :-).

Bagaimana resolusi untuk semester 8?

Wah, sebenarnya saya jarang sekali membuat resolusi. Mungkin karena ini lah saya terkadang kurang fokus. Yah, katanya tidak “setting goal” sebelumnya. Tapi secara garis besar ini saja:

  • Menyelesaikan semua mata kuliah dengan nilai terbaik. *catat: nilai terbaik!
  • Sudah bisa mengajukan proposal tugas akhir.
  • Kalau ada, mudah-mudahan bisa programkan KKN (Kuliah Kerja Nyata).
  • Bisa mendapatkan skor minimal 550 untuk TOEFL. *Harus!
  • Dapat proyek. *Entah dengan dosen atau dengan instansi/konsultan.
  • Bisa tambah berat badan. 🙂

Kenapa tidak sekalian merencanakan sarjana? Kan semester depan sudah tepat 4 tahun kuliah? Itu dia masalahnya, Gas! Saya masih belum mau terlalu cepat meninggalkan bangku kuliah. Rasanya masih banyak yang harus dipelajari lagi. Masih banyak yang harus disempurnakan! Dan masih mau menambah pengalaman sebelum mencapai gelar sarjana. Jangan sampai cepat sarjana, tapi masih kurang berisi. 😉

Oh iya, itu tadi sedikit tentang perkuliahan saya, di semester 7 tepatnya. Bagaimana dengan kuliah mu?

Apa yang Membuat Salut dengan Negara Lain

Mengingat kembali saat-saat dimana saya dan teman-teman sekelas ke beberapa negara (Malaysia, Singapura dan Thailand) membuat saya kembali ingin menulis beberapa hal yang menarik sewaktu berada disana. Pada umumnya, fasilitas-fasilitas yang ada di negara-negara tersebut sedikit berada diatas negara kita, Indonesia.

Indonesia-Menyenangkan

I <3 Indonesia

Negara tetangga kita, Malaysia khususnya Malaysia bagian barat (hanya sempat kesana) memiliki sarana dan prasarana yang baik. Jalan-jalan raya yang mereka miliki kondisinya mulus, dan sejauh perjalanan di jalan utama, semua nya highway (jalan tol)! Jadi bisa dibayangkan, kalau waktu tempuh antar satu tempat ke tempat lain tidak memakan waktu yang lama. Sarana transportasi lain yang tidak/belum ada di Indonesia adalah monorail nya. Kurang lebih sama dengan yang ada di Singapura. Di sana lah saya untuk pertama kalinya menumpangi monorail. Rasanya agak terguncang-guncang juga sih. Apalagi pas masuk tikungan, keretanya juga ikut miring! :mrgreen:

Kalau di Singapura, selain dengan monorail nyaris semua fasilitas lebih baik dari negara kita. Secara, mereka jauh lebih disiplin daripada kita. Hukum di negara mereka sangat ketat, dan untung saja saya tidak tertangkap kamera sewaktu meludah di pekarangan sebuah mall di kawasan Orchard. Hampir saja saya kena denda ratusan dollar atau bahkan ditahan disana. Singapura memang tidak seluas ibu kota Jakarta, tapi penataan ruang nya jauh lebih baik! Mereka punya ruang terbuka (hijau dan non-hijau) yang lebih banyak. Dan penduduk Singapura, tidak bisa tebang pohon meskipun ada di wilayah rumah mereka sendiri. Harus ada izin dari pemerintah untuk itu.

Kepemilikan tanah di Singapura sepenuhnya adalah milik negara. Warga hanya memiliki hak pakai.

Lain lagi dengan Thailand, berhubung karena saya tidak lama disana. Dan belum sempat ke Bangkok (waktu itu lagi banjir disana) jadi saya tidak bisa bicara banyak 🙂 . Tapi, satu hal yang membuat saya salut dengan Thailand adalah, mereka begitu menghargai. Menghargai rajanya (foto beliau dipajang dimana-mana!),  alam nya, sampai dengan budayanya.

Tujuan saya untuk menulis ini bukan untuk merendahkan negara sendiri. Negara kita juga punya banyak kelebihan daripada negara lain. Dan terkadang saya bergumam sewaktu berada diluar negeri:

Sebagus-bagusnya negara lain, tapi masih lebih menyenangkan berada di negara sendiri.

Love you, Indonesia! Get well soon!

Thailand, Asik Juga

Perjalanan menuju Thailand cukup melelahkan (13 Oktober 2011). Sebelum sampai ke perbatasan Malaysia-Thailand, kami singgah dulu untuk “tandas” (buang air kecil). Toilet disana keadaannya lebih buruk dari yang pernah kami temukan sebelumnya. Baru kali itu kami membayar untuk menggunakan kamar mandi. Perjalanan sebelumnya kami tidak pernah dipungut bayaran oleh pihak pengelola toilet. Disana, selain singgah untuk buang air kecil, kami juga menukar uang, untuk keperluan di Thailand nantinya. Beberapa ringgit saya sisihkan untuk ditukarkan ke mata uang Thailand (Baht).

Check in di hotel

Kami check in di sebuah hotel di Hatyai, Songkhla. Nama hotel nya Hotel Hatyai Ambassador, sebuah hotel kelas menengah kalau saya lihat. Lumayan lengkap juga fasilitas nya. Hanya saja biaya untuk menggunakan akses internet hotel cukup mahal juga. Jauh lebih mahal dibanding di warnet-warnet di Indonesia.

Makan pertama!

Hore, akhirnya kami makan juga. Tapi, di Thailand tidak boleh makan di sembarang tempat (bagi orang muslim). Kami makan di sebuah warung makan muslim yang letaknya tidak jauh dari hotel. Bagaimana rasanya? Adduhh…. Aneh! Saya tidak terbiasa dengan makanannya. Tapi, yang namanya mahasiswa, apalagi kalau sudah lapar, pasti “disikat” juga.

Tempat pertama yang kami kunjungi di Thailand adalah sebuah tempat penjualan barang-barang kulit. Beberapa barang kulit nya bagus-bagus juga. Tapi saya tidakmembeli satu barang pun disana. Uang tidak mencukupi! Selain itu, kami jugapergi ke tempat jajan makanan. Kebanyakan yang dijual adalah kerupuk, ada juga kacang-kacangan. Disana saya Cuma membeli beberapa bungkus kacang goreng dalam kemasan. Rasanya enak juga.

Makanan paling enak selama perjalanan

Di Thailand, kami juga sempat makan di sebuah restoran seafood. Namanya, Ayam Goreng Decha & Seafood. Satu meja kami ber delapan. Makanan disajikan diatas meja, beberapa makanan dihangatkan dengan semacam kompor gas kecil diatas meja (saya tidak tau namanya apa?) baru dilihat, rasa nya sangat enak! Tidak sabar ingin mencobanya. Ada beberapa makanan yang disajikan, ada ayam goreng, cumi-cumi, udang, dan ikan. Hampir semua jenis makanan saya coba saat itu. Dan rasa nya? Subhanallaah… Enak sekali! Kalau tidak salah nama makanan nya adalah Tomyam. Makan di warung itu adalah yang paling enak selama KKL kami.

Next, Sleeping Buddha Sculpture

Perjalanan selanjutnya menuju patung Sleeping Buddha. Agak jauh juga. Ada banyak patung buddha disana. Dan yang paling menonjol adalah patung raksasa Buddha sedang berbaring. Patungnya berwarna emas, sama dengan beberapa patung lainnya. Tentu saja banyak aksi-aksi foto disana! Ada yang ber pose seperti sedang menyembah, dan ada pula yang meniru gaya sang Buddha yang berbaring.

Sleeping-Buddha,-Songkhla

Malam pertama di Thailand

Seperti biasa, kami mengatur giliran mandi dengan teman sekamar yang lain. Jumlah kami ber empat dalam satu kamar. Pemandangan dari  jendela hotel asik juga. Kami bisa melihat aktifitas penduduk lain dibawah sana. Beberapa toko berderet dari ujung ke ujung. Setelah semua selesai dengan urusan mandi. Kami makan lagi di warung tempat kami makan pertama kali di Thailand. Makananya lebih enak dibanding saat pertama kali kami makan disana. Lebih banyak jenis lauk yang dihidangkan. Semua harus antri sebelum makan.

Seteah makan, kami diarahkan ke pasar malam setempat. Kami menumpangi sebuah mobil pick-up, saudara-saudara! Rasa nya seperti segerombolan orang yang ingin nonton bola. Kurang lebih jumlah kami belasan diatas mobil itu. Teman-teman yang lain harus menunggu giliran selanjutnya. Kami diminta untuk mengingat jalan, karena kami tidak akan diantar pulang dengan mobil. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari hotel mungkin hanya sekitar satu kilometer.

Banyak sekali barang-barang yang dijajakan disana. Segala macam souvenir dijajakan. Baju kaos, gantungan kunci, sendal, dan lain-lain. Bentuknya juga macam-macam dan unik-unik. Harga nya pun cukup terhangkau. Banyak juga cewek-cewek cantik disana 😀 . Tapi yang paling cantik adalah seorang pedagang sandal yang menjajakan dagangannya di trotoar jalan. Manis sekali dia! Sampai-sampai kami yang cowok-cowok beberapa kali singgah hanya untuk memandang wajah nya. Ada juga pedagang lainnya yang manis, seorang cewek penjual bir! Tapi sayang dia tidak terlalu mengerti bahasa Inggris. Untung ada pelanggan lain yang memberitahukan dia apa yang kami katakan. 😉

Kurang lebih 2 sampai 3 jam kami disana.  Dan kami juga memanfaatkan nya untuk berfoto-foto. Saya pulangke hotel berdua dengan dua orang teman saya, Firman dan Iman. Meskipun khawatir dan sempat nyaris tersesat, akhirnya kami sampai juga di hotel. Tapi saya dan Firman mampir ke sebuah toko di seberang jalan dulu untuk membeli minuman ringan. 🙂

Ada kejadian lucu saat itu. Saat dua orang teman saya pulang dari pasar malam menuju hotel. Mereka tidak tau jalan pulang. Dan sempat tersesat. Seorang diantaranya menceritakan kalau teman yang satu kesulitan berjalan karena ada luka, dan mereka semakin tersesat dan tidak tahu arah. Mereka saling mengumpat satu sama lain, saling menyalahkan karena merasa semakin tersesat. Teman yang terluka ini merengek untuk pulang dengan naik angkot saja. Mereka akhirnya pulang dengan mengendarai angkot. Ternyata jarak nya sangat dekat. Hanya beberapa belokan saja. Mereka saling menyalahkan lagi. Celaka nya lagi, karena salah seorang diantara mereka tidak punya uang sama sekali! Dan dia ditahan oleh sopir angkot, yang satunya melarikan diri dan langsung ke hotel, karena sudah membayar ongkos angkot untuk dirinya sendiri. Untung saja ada seorang teman lain yang kebetulan berjalan keluar hotel yang mau meminjamkannya uang. :mrgreen:

Kami menghabiskan malam dengan bercanda-canda, saling mengganggu dengan kamar yang lain.

Bhumibol-Adulyadej

Raja Thailand

Oh iya, satu hal yang menarik di Thailand. Bahwa mereka sangat mengagumi dan menghormati raja mereka, Bhumibol Adulyadej. Fotonya terpajang hampir dimana-mana, disetiap jalan yang kami lalui selama di Thailand.

Hari Kedua di Singapura, Fun and Fool

Setelah hari pertama mengunjungi beberapa tempat wajib, seperti KBRI Singapura, Merlion Park, Esplanade, hari kedua kami menjadi lebih bebas untuk berkeliling Singapura. Tentu tetap dalam satu grup. Hari kedua ini lebih banyak dimanfaatkan untuk berbelanja, yah hitung-hitung masih ada dollar Singapura di dompet. Masih bisa dipakai untuk beli souvenir buat keluarga dan teman-teman di Indonesia.

Hari itu kami sempat makan di Mr Teh Tarik, semacam food court yang menjajakan beragam makanan dan minuman halal. Makanan yang saya santap adalah nasi lemak (nasi uduk dalam bahasa Indonesia). Rasa nya lumayan lah. Hari itu agak mendung. Perjalanan yang kami tempuh menyusuri arena balap Formula 1 sampai dengan kawasan pulau Sentosa. Oh iya, kebetulan waktu itu (11 Oktober 2011) beberapa minggu sebelumnya (25 September 2011) baru saja diadakan ajang balap F1, masih terlihat sisa-sisa peralatan yang digunakan saat balapan berlangsung. Beberapa properti balap seperti tiang lampu, rangka tribun penonton masih dalam proses knocking down.

singapore flyer

Singapore Flyer

Kami juga pergi ke Singapore Flyer yang letaknya berada di kawasan waterfront (tepian air). Disana lah pertama kalinya saya melihat langsung mobil Ferrari dan Lamborghini, yang parkir dihalaman Singapore Flyer. Cuaca menjadi gerimis.

Ada juga Bugis di Singapura

Hari itu kami menyempatkan diri ke Bugis Junction, di Bugis Street. Saya sangat penasaran melihat tempat itu, mau mencari tahu apa hubungannya Singapura dan Bugis? Sampai disana yang terlihat adalah kawasan perbelanjaan yang terdiri dari banyak gedung-gedung. Cukup elite juga kawasannya. Bangga juga rasa nya jadi orang bugis. Meskipun disana mungkin saja tidak ada orang yang bisa berbahasa bugis, ataupun ber darah bugis.

Bugis-Junction

Bugis Junction

Fool again

Salah satu kejadian yang berkesan juga terjadi di Bugis Junction. Rasa nya cukup menakjubkan melihat kawasan perbelanjaan di kawasan tersebut, konsep mall nya juga sangat bagus. Sangat banyak pilihan. Semua nya dapat ditempuh hanya dengan bejalan kaki. Aha, saya punya misi rupanya. Sebuah misi yang sudah lama kurencanakan. Saya ingin melihat langsung toko retail apple yang keren itu (kalau ada di Singapura). Saking penasarannya saya, celingak celinguk mendongak keatas, saya tidak melihat kalau ada papan kuning (yang menandakan lantai licin). Tidak sadar, saya menendang nya. Suaranya sangat keras. Dan banyak orang yang terkejut. Saya baru sadar ketika teman saya juga berbalik kearah saya. Sebuah kebodohan lagi terjadi, saudara-saudara! Teman-teman yang bersama saya waktu itu tidak berhenti tertawa. Saya tidak terlalu peduli, orang-orang Singapura juga tidak peduli. Mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka. Go Ahead!

Meski tidak menemukan toko retail resmi apple. Beberapa toko juga menjual barang-barang apple, seperti iPad, iPod, iPhone, dan Mac. Mereka juga menyediakan beberapa barang yang bisa di uji coba langsung. Rasa nya asik juga sempat memainkan iPad 2.

Ke toko buku

Saya dan beberapa teman juga menyempatkan diri ke toko buku, nama nya Kinokuniya. Wow, banyak juga koleksi buku nya. Tapi? Kebanyakan bahasa Inggris, ya iya lah. Ada juga bahasa lain, tapi bahasa mandarin dan Jepang. Banyak buku yang keren, dan salah satu buku yang saya incar dan sulit sekali ditemui di Indonesia ada disana, “4 Hour Work Week” karya Timothy Ferriss. Tapi kendala nya selain buku berbahasa Inggris, adalah harga nya. Kalau dirupiahkan sekitar 200 ribu lebih. Lagian saya juga sudah punya dalam bentuk ebook. Tapi juga dalam bahasa Inggris.

Happy Deepavali (Diwaali)

Selanjutnya kami pergi ke kawasan little India. Cukup semarak juga, ada semacam pasar dadakan yang diadakan disana, untuk merayakan hari Deepavali. Berjejer hiasan-hiasan jalan yang berwarna-warni bermotif kembang-kembang. Indah.

Malam hari nya kami menonton pertunjukan Song of the Sea di pulau Sentosa. Perjalanan kesana cukup asik juga. Menggunakan moda transportasi yang unik. Tapi kami harus menunggu beberapa saat, karena waktu pertunjukan untuk kami adalah puku 08.40 malam waktu setempat, kami harus menunggu kurang lebih satu setengah jam sebelum masuk. Saya sempat terkejut dengan sepasang orang mandarin yang menawarkan kepada saya dan beberapa teman saya tiket pertunjukan secara cuma-cuma. Sepertinya mereka terburu-buru sehingga tidak sempat menonton pertunjukan tersebut. Tiket pertunjukan yang mereka berikan lebih cepat satu jam dari jadwal kami, tapi kami memilih untuk menunggu giliran kami.

Bye bye, Singapore. Next, Thailand!

OK, kami sudah selesai dengan Singapura. Perjalanan selanjutnya ke Thailand! Yeeahh…. Sebenarnya, tidak ada rencana ke Thailand dalam rencana yang sudah kami susun, tapi karena ada waktu luang satu hari, maka kami putuskan untuk kesana. Sempat terancam batal juga, tapi kami semua sudah terlanjur ingin kesana. Dan Alhamdulillah, malam itu juga kami ke Thailand. Dengan menggunakan bus travel kami tentunya. Perjalanan dari Singapura ke Thailand melintasi wilayah Malaysia dan beberapa kali kami harus singgah untuk pemeriksaan passport. Perjalanan itu kurang lebih menempuh 800 km lebih. Cukup melelahkan, tapi akan sangat menyenangkan! 🙂

Selangkah Lebih Jauh Dari Indonesia

Alhamdulillah, akhirnya tiba juga di Kuala Lumpur, Malaysia. Tepatnya 9 Oktober 2011, kurang lebih pukul setengah sembilan malam waktu setempat. Ini adalah langkah pertama saya berada diluar tanah air. Perjalanan ditempuh kurang lebih 3 jam dari bandara Sultan Hasanuddin, Makassar dengan menggunakan maskapai Air Asia.

Perjalanan ini merupakan rangkaian dari lawatan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) kami, mahasiswa Teknik Pengembangan Wilayah dan Kota (PWK), Universitas Hasanuddin angkatan 2008. Rencana ini sudah kami susun sejak hampir se-tahun yang lalu.

Kuala-Lumpur-International-Airport-In-night

KLIA

Banyak tantangan sebelum berangkat

Oh iya, sedikit bercerita soal sebelum keberangkatannya seperti apa. Selama beberapa hari (sebenarnya berminggu-minggu) sebelum keberangkatan, banyak sekali kegiatan yang saya lakukan. Hal-hal yang bersifat akademik dan non-akademik. Beberapa waktu sebelum keberangkatan, saya dan beberapa orang teman saya disibukkan oleh survey-survey lapangan untuk membantu salah satu penelitian seorang Professor kami. Survey kami lakukan berkali-kali untuk menyempurnakan data-data yang harus kami kumpulkan. Selain itu kami juga beberapa kali harus asistensi perkembangannya kepada dosen terkait.

Efek lain dari penelitian Professor tersebut adalah, saya juga didorong oleh dosen untuk membuat satu proposal penelitian, untuk mengikuti program kreativitas mahasiswa penelitian (PKM-P). Beruntung ini bisa diselesaikan secara berkelompok, sehingga kami dapat berbagi tugas untuk menyelesaikannya. Yang menantang dari penyusunan proposal ini adalah, format penulisan harus sesuai dengan persyaratan. Sampai sampul juga diatur, saya harus menemukan kertas cover bufallo untuk sampul proposal kami. Dan alhamdulillah, proposal sudah selesai beberapa menit sebelum keberangkatan saya ke Malaysia. Ini lah yang sangat membuat tenaga saya banyak terforsir.

Kesibukan lain adalah tentu saja kegiatan perkuliahan. Semester ini saya mengambil 8 mata kuliah, yang lebih banyak dari sebagian besar teman saya. Yah, begini lah konsekuensi nya kalau di masa lalu jarang masuk kuliah. Tapi tetap saya berusaha untuk menikmatinya. Beberapa mata kuliah sudah mulai memberi tugas dengan deadline nya masing-masing. Beruntung tugas nya belum begitu berat. Tapi salah satu mata kuliah saya, yakni KP (Kerja Praktek) yang cukup membebani fikiran saya. Saya belum pernah memberi sumbangsih yang berarti bagi tempat saya Kerja Praktek di salah satu Professor transportasi di fakultas kami.

Tantangan lain adalah, saya harus pulang balik dari Makassar ke rumah orang tua di Pangkep, yang jaraknya kurang lebih 50 km. Alasannya, klasik. Saya harus mengurus beberapa hal, salah satunya adalah uang jajan. Beberapa kali saya harus pulang balik untuk hal yang satu itu. Untuk persiapan ke negara orang, supaya bisa beli souvenir lah disana.

Langkah pertama di Malaysia

Tiba di Malaysia dalam kondisi yang masih kelelahan, kami segera menuju ke bagian imigrasi. Sejak turun dari pesawat, kami disambut dengan tulisan-tulisan melayu yang sedikit berbeda dengan bahasa Indonesia, seperti:

Ketibaan Dalam Negeri = Domestic Arrival

Ketibaan Antar Bangsa = International Arrival

Tuntutan Bagasi = Baggage Claim

Kastam = Customs

Tiba di bagian imigrasi, sebuah kebodohan terjadi!. Saya ditegur oleh petugas imigrasi setempat. Saya sendiri tidak sadar kalau telah melanggar salah satu peraturan. Saya melewati batas garis kuning antrian. Cukup malu juga saya waktu itu, mengingat banyak penumpang lain yang melihat kejadian itu. Termasuk pak dosen yang juga menegur saya. Maafkan saya, pak!

Setelah paspor distempel petugas imigrasi, saya mengacungkan tangan saya kedepan untuk berjabat tangan untuk mengucapkan terima kasih kepada petugas imigrasi. Si petugas imigrasi yang pendek itu tidak mau berjabat tangan dengan saya. Yah saya tahu, pasti dia khawatir jangan sampai tangan saya ber virus. Padahal makan saja sering tidak cuci tangan. 🙂

Setelah semua sudah selesai dengan imigrasi, kami bergegas keluar bandara menunggu bus travel yang akan kami tumpangi selama KKL kami. Ramai juga hiruk pikuk di pelataran bandara. Ya, namanya saja bandara internasional.

Bus sudah tiba, sebuah kalimat ber bahasa melayu lagi terlihat: BAS PESIARAN, yang artinya dalam bahasa Indonesia, Bus Pariwisata. Bus nya sangat berbeda dengan yang pernah saya tumpangi sewaktu tur Surabaya – Bali dulu, bus nya sangat nyaman, full AC, tempat duduk cukup lapang, tapi tidak cukup untuk meluruskan kaki kedepan. Ada TV LCD juga didalamnya, tapi tidak ada toilet didalamnya, dan pintu keluar masuk nya hanya 1, yang letaknya didepan.

Kesan pertama saya ketika melihat Kuala Lumpur, Malaysia adalah: Wow! Lumayan! Keren juga ternyata, sangat berbeda dengan pemikiran awal saya.

Perjalan baru saja dimulai!