Menu Close

Tag: kota makassar

Survey Sidrap, Perjalanan Hingga Hari Pertama

Sedikit bercerita tentang dinamika survey lapangan pengembangan wilayah dan kota

Berangkat dari Kota Makassar kurang lebih pukul 9 malam menuju Kab. Sidrap yang jaraknya kurang lebih 170 km membutuhkan stamina yang prima. Bukan saja karena gelapnya malam yang harus ditembus, faktor lain yang membuatnya lebih berat adalah kondisi fisik yang sudah cukup terkuras karena cukup padatnya kegiatan yang saya lalui mulai dari pagi sampai malam harinya.

Salah satu faktor yang membuat stamina ku cukup menurun adalah, belum makan, saudara-saudara skalian. Dalam perjalanan (masih dalam perjalanan) saya dan rekan saya merencanakan untuk singgah dulu untuk makan malam. Akhirnya kami singgah disalah satu warung makan Sari Laut di daerah Tamalanrea, Makassar. Sebelumnya saya dan rekan survey saya di Sidrap (Dana) singgah sejenak didepan gerbang perumahan BTP untuk berangkat bersama teman-teman lain (2 orang) yang juga survey, namun mereka di daerah Kab. Pinrang yang jaraknya juga cukup jauh, kurang lebih sama dengan jarak lokasi survey saya.

Makan malam nya lumayan enak, sekali-sekali makan di Sari Laut. Lagian makannya juga sudah termasuk kedalam pendanaan survey kami. Setelah makan, kami bergegas melanjutkan perjalanan ke daerah survey masing-masing. Perjalanan Tim Survey saya dan Tim Pinrang kami lakukan beriringan. Kami juga sempat singgah di salah satu pompa bensin Pertamina di daerah Kab. Barru, Mallusettasi’. Selain mengisi bahan bakar motor, kami juga menyempatkan diri untuk minum dan cuci muka untuk menghilangkan rasa kantuk. Sempat juga mengambil foto disana. Perjalanan dilanjutkan kembali, sampai di kota Pare-Pare, barulah kami terpisah, karena untuk menuju ke Sidrap, saya harus berbelok ke arah ke kanan, sedangkan Tim Pinrang lurus saja.

Tiba di Sidrap

Kurang lebih empat jam perjalanan, akhirnya tim saya sampai di rumah nenek rekan saya (Dana) di daerah Amparita, Kab. Sidrap untuk menginap sebelum turun ke lokasi survey pagi harinya. Kedatangan kami sudah ditunggu-tunggu oleh tuan rumah sejak malam hari. Tiba disana, kami segera beristirahat untuk persiapan survey esok hari yang pastinya membutuhkan stamina yang OK.

Pagi harinya, meskipun agak terlambat bangun, kegiatan dimulai dengan shalat subuh dahulu. Setelah shalat subuh, makan kue, minum teh dan briefing kecil-kecilan dengan tuan rumah yang jauh lebih tahu lokasi survey kami. Tentu saja mereka tidak ikut ke lokasi, karena mereka sudah berusia lanjut. Mereka menjelaskan bagaimana untuk sampai di lokasi survey (Kec. Sidenreng untuk survey Persawahan dan Kec. Pitu Riase untuk survey peternakan sapi), diperjelas dengan menunjukkan nya di peta Sulawesi Selatan yang saya bawa dari Makassar.

Berangkat ke lokasi survey

Setelah persiapan sudah lengkap, GPS, kamera digital, HP, kertas kuesioner, peta, dan peralatan menulis lainnya sudah siap, kami segera berangkat ke lokasi survey dengan motor Shogun SP hitam saya tentunya. Kami sempat singgah dirumah keluarga Dana yang berada di Kec. Pangajene, Sidrap untuk bertamu sejenak, tuan rumah juga menawarkan untuk menginap dirumah nya. Setelah dari rumah keluarga Dana, kami singgah juga di toko untuk membeli bekal makanan dan minuman.

Memulai survey

Sampai di Kec. Sidenreng, Sidrap. Kami mengawali survey dengan mencari pabrik/gudang beras, yang ternyata jumlahnya sangat banyak. Dapat dilihat dari letaknya yang cukup berdekatan, kurang lebih hanya berjarak beberapa ratus meter dari yang lain. Masya Allah, pabriknya saja sudah banyak, apalagi sawah nya. Pokonya, sejauh mata memandang, sawah terbentang luas didepan. Betapa subur nya daerah ini. Tidak heran kalau Kab. Sidrap menjadi lumbung padi Sulawesi Selatan, bahkan nusantara.

Sawah-Jl.-Salo-Mekko-dkat-PB-199

Sawah di Sidrap

Pabrik pengolahan padi ini sangat penting untuk kami survey, untuk menggambarkan alur, mulai dari sawah sampai kepada konsumen, sehingga tujuan dari survey ini yaitu untuk memperlihatkan potensi kawasan ekonomi terpadu kepada investor dapat tercapai dengan baik. Jadi survey nya memang harus mantap.

Mengawali survey cukup membuat nervous, karena kami masih mencari cara yang tepat untuk memperoleh data yang kami butuhkan seperti: Nama pabrik, koordinat, nama pemilik, luas area, jumlah produksi, biaya produksi, daerah distribusi, dll. Dan ini membutuhkan sedikit proses tanya jawab dengan pemilik pabrik. Dan sayangnya tidak semua pemilik pabrik beras (PB) ada ditempat, kebanyakan yang kami peroleh hanya pekerja nya saja. Dan tidak semua yang kami tanyai dapat memberi jawaban yang kami butuhkan. Karena ada yang masih baru bekerja disana, dan info lebih lengkapnya hanya diketahui oleh pemilik PB. Ada juga PB yang memiliki penanggung jawab, yang dapat ditanyakan soal PB tersebut.

Selain proses tanya-jawab dengan orang-orang di PB, kami juga harus mengambil koordinat tempat itu. Yang ini sih tidak terlalu susah. Cukup melihat di GPS berapa koordinat nya. Dan mudahnya lokasi nya yang berada disitu saja. Nah, berbeda dengan PB, sawah ini lah yang cukup sulit menentukan yang dibagian mana yang akan diambil koordinat nya, melihat luas sawah yang sejauh mata memandang tadi. Bisa keok kami kalau harus mengambil semua titik di area sawah yang batas nya jauh sekali. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil koordinat sawah disekitar PB saja. Gambar-gambar tak lupa saya abadikan untuk kelengkapan data survey, gambar pabrik, jalan, sawah, peralatan PB, irigasi, juga jembatan.

Kendala-kendala

Kendala lain yang cukup mengganggu proses pengambilan data yaitu adalah soal izin. Izin dengan birokrasi meskipun tingkat kecamatan ini ribet sekali, mereka minta surat ini lah, harus ada tembusan kepada itu lah, dibuat oleh siapa lah, dan lain-lain, yang semua nya memberatkan itu. Begini lah rumit nya birokrasi di negara kita. Daerah mereka mau diperkenalkan untuk investor, malah mereka yang mempersulit diri sendiri. Dan juga kami tentunya.

Terus terang, kalau soal izin ini, pengalaman pahit sudah banyak saya alami selama berkuliah. Kami, program studi PWK (Pengembangan Wilayah Kota) memang harus berhadapan dengan para Satuan Kerja Perangkat Kerja Daerah (SKPD) yang bertugas di kantor-kantor, khusunya di kantor kepala desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Yang semua nya membutuhkan proses surat-menyurat yang bertele-tele. Kalau tidak punya surat, yah dapat datanya juga susah.

Akhirnya kami memutuskan untuk tidak perlu meminta data sama pak Camat, langsung terjun ke lapangan saja.

Survey tak berhenti sampai disini

Hari sudah menjelang malam, kami memutuskan untuk segera pulang ke Amparita untuk beristirahat. Tidak semua data yang diharapkan terlengkapi. Kurang lebih masih berkisar 20-30 % dari keseluruhan. Namun ini sudah banyak menguras energi, karena kami harus berkeliling ke tempat-tempat yang memang belum pernah kami kunjungi sebelumnya.

Malam harinya, kami menginventarisir data-data yang kami peroleh selama hari pertama survey, sambil menanyakan kepada teman-teman yang juga survey di beberapa kabupaten lain. Cerita senang, dan sedih kami bagikan satu sama lain. Begini lah dunia survey, tapi ambil hikmah nya saja. Pengalaman lah yang paling saya utamakan dalam proyek ini.

Siapa Sebenarnya Trinity, Penulis Buku The Naked Traveller?

Jum’at , 17 Juni 2011. Hari yang panas, seperti biasa di kota Makassar. Tiba-tiba ada sms yang masuk dari K’ Nanie seorang teman di AngingMammiri (Komunitas Blogger Makassar) yang mengatakan bahwa akan ada bincang-bincang dengan Trinity, penulis buku best seller The Naked Traveller di Musium Balaikota, Makassar. Dua pilihan, datang atau tidak. Saya berfikir dulu ah, kalau saya tidak datang, saya bisa santai-santai sore hari nya. Bisa tidur siang (sudah jarang tidur siang, coy) istirahat sebentar setelah beberapa waktu terakhir disibukkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan perkuliahan. Atau kah pilihan kedua, ikut acara nya, bisa nanya-nanya langsung, bisa ketemu langsung, plus bisa minta tanda tangan nya Trinity.

And yes, tentu saja pilihan kedua, pilihan saya akan ikut acara nya. Sebenarnya ini merupakan salah satu rangkaian acara… Aduh, apa yah, saya lupa. Kayaknya Writer Festival begitu, berbau promosi budaya sepertinya. Dengan demikian, saya harus menunda waktu untuk istirahat sejenak. Tapi tak apa lah. Pengorbanan sebanding dengan apa yang saya dapat.

Sampai disana, Terlihat sebuah set semacam panggung berbalut kain merah dibagian luar gedung musium. Waduh, saya fikir acara nya sudah lewat. Karena sms dari K’ Nanie acara nya mulai jam 13.00, which is itu berarti sehabis shalat Jum’at. Sedangkan perjalanan dari tempat saya ke musium Balai Kota kurang lebih 15-20 menit perjalanan dengan naik motor. Motor saya tentu saja. Tapi, mending terlambat, daripada tidak datang. Lagian acara nya sendiri sampai jam 15.00. Di pintu gedung musium terlihat beberapa orang, terhitung cukup kurang untuk acara seukuran launching buku. Salah satunya seorang wanita dengan postur agak “besar”, tapi yah masih seimbang lah, karena tingginya juga lumayan.

Siapa-Sebenarnya-Trinity-The-Naked-Traveller

Trinity Traveler

Sepintas, wanita tadi mirip dengan foto Trinity, yang pernah saya lihat di internet beberapa waktu lalu. Perasaan mau sapa dia, tapi sebearnya saya sendiri juga masih ragu dengan pendapat saya sendiri. Nama nya sendiri saya belum tahu. Okelah, saya harus tunggu dulu untuk pastikan. Dari dialek nya, dia memang bukan orang asli Makassar, Pasti dari Jakarta nih, analisis saya. Wanita, pake celana pendek, mata sipit, trus rambut di-tarik kebelakang, pake T-Shirt putih, gayanya cukup keren, dan sangat santai terlihat. 75 % saya yakin kalau dia itu Trinity. tapi harus sabar dulu untuk tahu siapa sebenarnya dia, dan yang mana yang sebenarnya Trinity itu.

Belum ramai sewaktu saya sampai disana. Belum terlalu crowded seperti acara AM dulu, launching Firefox 4 di DeLuna Cafe, atau acara Blogilicious bersama idBlognetwork dan Berniaga. Hanya terlihat beberapa pegawai musium, crew-crew dari mungkin penerbit dari buku The Naked Traveller dan beberapa orang yang tujuannya juga sama seperti saya, mau liat Trinity langsung. Saya lebih memilih jalan-jalan kedalam musium, melihat koleksi-koleksinya. Ada peta Makassar tempo doeloe, sepeda “fixie” tempo doeloe, meriam tempo doeloe, piano tempo doeloe, foto-foto(gambar) profil penjajah yang juga pasti 100 % tempo doeloe, bahkan sudah ada sebelum Polaroid datang, dan beberapa barang-barang tempoe doeloe lainnya. Wanita tadi pun juga saya lihat masuk kedalam musium melihat koleksi musium.

Tak lama kemudian acara sudah dimulai, dan tebak, wanita yang saya tebak tadi adalah Trinity, ternyata memang Trinity!. Tidak salah lagi, karena sudah diperkenalkan sama cewek disampingnya. Yang jadi Narasumber lain ada Fauzan, seorang wartawan yang juga hobi jalan-jalan, Toar, asal Makassar, seorang Fotografer, dan Adal. Oh ya, Adal ini orang yang cukup ekstrim pengalaman travelling nya menurut saya. Travelling dari Sumatera Barat ke Jakarta hanya dengan naik motor. Motor nya pun sudah tergolong berumur, dan katanya motor nya itu sudah hilang!. Dia mengaku sudah sering menginap di kantor Polisi. Alasannya, lebih aman katanya. Saya sendiri tidak pernah berfikir begitu kalau-kalau saya travelling. Mending nginap di mesjid. Katanya dia sering dibilang orang gila di kampung nya, karena kebiasaannya itu. Tapi dia sendiri tidak peduli, dan keluarga nya tetap mendukung. Dia sempat ke Nusa Tenggara, dan kalau travelling/backpacking tepatnya dia bawa uang cuma beberapa ribu, untuk transportasi dia lebih memilih numpang truk, naik kapal PELNI pun dia tidak bayar tiket katanya, ya sering-sering di-strap sama petugas katanya.

Banyak hal inspiratif yang didapat dari berbincang-bincang dengan para narasumber, pengalaman pribadi Trinity waktu backpacking ke manca negara, cerita-cerita lucunya, tips-tips backpacking, untuk siapa saja, termasuk cewek. Katanya cewek sebenarnya banyak diuntungkan kalau backpacking. Bisa pasang muka memelas ala cewek untuk bujuk abang-abang untuk angkat barang-barang nya, cewek gak usah malu kalo di suit-suit sama cowok, harus bangga katanya. Tidak seperti cowok katanya yang lebih gengsi minta tolong, contohnya waktu bertanya arah. Cowok gengsi untuk bertanya. Fauzan berbagi pengalamannya juga, waktu dia berangkat ke Mekkah, yang sebelumnya menurut dia sulit tercapai, tapi dengan wish nya dia tak menyangka kalau dia akan dapat tiket first flight ke Arab, dan wish nya untuk shalat langsung didepan Ka’bah terwujud. Perjalanan terjauh nya sendiri sampai ke Afrika.

Peserta juga diberi kesempatan untuk bertanya langsung dengan Trinity, ada yang bertanya tentang salah satu tulisannya Trinity tentang pengalamannya backpacking ke China, bagaimana cara nya nge blog yang baik, menulis tulisan yang enak dibaca, tentang pengelompokan tipe-tipe traveller, ada yang digolongkan sebagai flashpacker, hitchhicker backapacker, dan lain-lain. Terus terang Trinity sendiri tidak setuju dengan pengelompokan seperti itu.

Saya juga harus bertanya dong, kapan lagi dapat kesempatan seperti ini. Lagian yang bertanya juga tidak banyak. Saya cuma bertanya, “Nama lengkap Trinity siapa?” terus pertanyaan yang kedua saya “Umur nya Trinity sekarang berapa?” karena dibuku The Naked Traveller pertama dia selalu menyebut tentang faktor “U” itu sendiri, yang sering menghambat kelancaran aktivitas nya sewaktu backpacking. Ekspresi Trinity langsung berubah, waktu itu dia sedang minum, dan karena pertanyaan saya tadi, dia langsung keselek/tersedak mendengar pertanyaan saya yang pertama. “Gue sempat keselek tadi…”, kata Trinity, ditambah pertanyaan saya yang kedua membuat ekspresi nya berubah, matanya terbelalak.

Ini dia saat nya saya tahu, siapa sih nama asli dari Trinity, penulis buku best seller “The Naked Traveller”.

Dia mulai menjawab: “Untuk nama asli saya tidak bisa sebut, saya cuma biasa pakai nama Trinity seperti dibuku saya. Sudah cukup itu” Dia harus membedakan katanya identitas nya sebagai penulis buku dan identitas sebenarnya yang hanya diketahui oleh teman-teman dekatnya. Karena orang lebih mengenal dirinya sebagai Traveller dan penulis buku yang melambungkan namanya, Trinity sebagai penulis yang populer. “Untuk tetap membuat orang penasaran” katanya, “Kan nggak enak juga kan kalo orang dah gak penasaran lagi siapa Trinity itu?” Ya, itu merupakan salah satu startegi marketing yang dipakai untuk tetap meningkatkan penjualan buku, which is menurut saya cukup wajar, mengingat itu banyak terjadi di media.

Pertanyaan kedua, Trinity menjawab, “Kalau umur, kira-kira berapa?”, saya jawab “40”, “Apa? 44?”, “tidak”, kata saya, “40 saya bilang”. Dia cuma tersenyum, “Maaf lagi ya, untuk itu saya juga tidak bisa kasi tahu, biasa nya kalau disuruh tulis identitas, saya cuma tulis tanggal dan bulan lahir saja, tahun nya tidak”, “Maaf ya”, sambil tersenyum dia bilang begitu. “Mas sendiri umur nya dah berapa? Dah nikah ato belum?” Saya bilang, “Saya masih 20 tahun, masih mahasiswa”.

Dua dari dua pertanyaan saya tidak menemukan jawaban tepat nya. Tapi, tak apa. Karena sehabis acara bincang-bincang, saya dikasih tanda tangan dibuku kecil saya. To Rizqi, Trinity. Aduuh, sayang sekali saya tidak bawa buku The Naked Traveller saya, malah buku The Long Tail yang saya bawa kesana, yang mana mungkin saya mau minta tanda tangannya dibuku karangan orang lain, karangan orang barat lagi, bukan buku travelling lagi.

Identitas siapa nama asli dan berapa umur dari Trinity, Penulis buku The Naked Traveller akhir nya belum terungkap. Meskipun begitu, saya tetap senang sudah bisa ketemu langsung, bincang-bincang dengan narasumber yang ada, dan juga dapat tanda tangannya Trinity, meskipun tidak sempat berfoto sama dia, karena tidak bawa kamera. But, once again, it’s OK! See Ya!

Fun Bike With Prof Halide

Sudah seminggu lebih setelah kegiatan Campus bike yang bertemakan “Greener, Healthier, Safer” (GHS) di Universitas Hasanuddin, Makassar (26/02/11). Sebuah kegiatan yang sangat baik diadakan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan alat transportasi yang ramah lingkungan, khususnya sepeda. Kegiatan dimulai dari lapangan Baraya dan finish di halaman parkiran rektorat Universitas Hasanuddin.

Beberapa professor sempat mengikuti kegiatan ini, diantaranya Prof. Dr. Ir. Slamet Tri Sutomo, MS (Dosen di Jurusan Arsitektur Universitas Hasanuddin) , Prof Dr dr Idrus A Paturusi SpB SpBO (Rektor Universitas Hasanuddin), dan Prof. Halide (Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin). Saya sebagai peserta waktu itu sempat terlambat sebelumnya karena harus mengarahkan peserta-peserta yang belum tau pasti lokasi start nya. Rombongan sudah mulai start, OK saya juga start kalau begitu. Rombongan sudah jauh meninggalkan saya. Saya tidak peduli sejauh apa mereka meninggalkan saya, karena saya menikmati perjalanannya.

Prof-Halide

Ditengah perjalanan saya melihat Prof. Halide mengayuh sepeda nya dengan semangat. Sangat menarik melihat orang seperti Prof. Halide begitu bersemangat mengikuti acara ini, padahal jarak dari lokasi start dan finish berkilo-kilo meter. Beliau tak kalah semangat degan anak muda yang jauh lebih muda dari dirinya. I had an idea, to know what’s in his mind about this event. Let’s see next. But not this time. Ya, saya fikir kurang baik melayangkan beberapa pertanyaan langsung kepada beliau ditengah perjalanan yang saat itu banyak kendaraan yang bersiluweran di jalan, mengingat kami harus melalui jalan raya.

Beberapa orang mungkin kurang tau kalau yang ada didepan saya waktu itu adalah seorang guru besar Ekonomi yang sudah sangat berpengalaman. Beliau sendiri sudah beberapa kali menjadi panelis di acara-acara besar, seperti waktu debat kandidat calon wali kota Makassar. Beliau juga sempat menjadi khatib waktu Shalat Ied di Mesjid Istiqlal beberapa waktu yang lalu. Peserta-peserta lain sibuk untuk memacu sepeda nya supaya cepat sampai di garis finish.

Sebenarnya tak semua peserta cuek dengan keberadaan Prof. Halide waktu itu, beberapa mahasiswa yang perkiraan saya waktu itu adalah mahasiswi Fakultas Ekonomi Unhas sempat mengucapkan salam kepada beliau. Pantas dari tadi mereka ikut dibelakang saya. Hehehehe… Saya masih menunggu saat yang tepat untuk bertanya langsung kepada beliau.

OK, kami sudah masuk di pintu 1 kampus Universitas Hasanuddin (Unhas). It was time to ask him some questions. Konsep-konsep pertanyaan sudah saya siapkan dalam perjalanan tadi. Saat nya bertanya. Kurang lebih begini lah percakapan saya dengan beliau:

Saya: “Assalamu alaikum Prof.”

Prof Halide: “Waalaikum salam. Duluan saja dek. Saya sudah tua, jadi agak lambat. Duluan saja.”

Saya: (Tersenyum) “Prof. boleh bertanya, tidak?”

Prof Halide: “Boleh… boleh”

Sambil bersepeda, kami berbincang-bincang ringan

Saya: “Prof, bagaimana tanggapannya soal kegiatan seperti ini?”

Prof Halide: “Oooh, bagus… bagus… kegiatan seperti ini bagus sekali. Pertama, kau diajar untuk sehat, terus kau diajar disiplin, bagaimana bersepeda yang baik, bagaimana meletakkannya (di shelter-shelter yang akan disediakan), terus kau diajar untuk sehat. Dibanding dengan naik kendaraan bermotor seperti sekarang yang banyak dilakukan mahasiswa. Apalagi di kampus ini sudah hijau, jadi lebih enak naik sepeda.”

Saya: (Mengangguk-angguk) “Menurut Prof. bagaimana dengan kebijakan Pemerintah Kota Makassar, infrastruktur kota khususnya untuk pengguna sepeda jika dibandingkan dengan beberapa kota besar lainnya di Indonesia seperti misal nya Bandung yang punya jalur sepeda dan pejalan kaki yang sangat akomodatif untuk penggunanya?”

Prof Halide: (Tersenyum) “Ya, Makassar memang masih ketinggalan soal infrastruktur seperti itu. Tapi setidaknya di kampus nanti sudah dapat lebih terakomodasi lagi (infrastruktur untuk pejalan kaki dan sepeda di Unhas masih belum cukup akomodatif saat ini). Nanti pete’-pete (mikrolet/angkot) sudah tidak boleh masuk kampus, sudah ada disediakan shuttle bus.   Dan kalau tidak salah juga akan dibangun shelter-shelter untuk sepeda.”

Saya: “Prof. kalau yang Prof perhatikan, bagaimana penyelenggaraan panitia untuk acara ini?, apa kah sudah baik atau bagaimana, Prof.?.”

Prof Halide: “Sudah cukup baik, meskipun masih ada beberapa kekurangannya. Seperti jadwal start yang molor yang semestinya kita sudah start jam 06.30, tapi tadi jam 7 lewat belum start. Makanya saya sempat berteriak ke Shinta (Dr. Techn. Yashinta Kumala Dewi Sutopo, ST, MIP), koordinator program supaya segera memulai acara nya. Terus kita juga tidak tau kalau ternyata ada sepeda disediakan. Kalau tau sudah ada sepeda disediakan kan kita tidak usah pakai sepeda kesana. Yang lain, yaitu pada waktu dijalan, mestinya polisi memberi jalan yang cukup untuk pesepeda, tidak terputus-putus kayak tadi. Kan tadi banyak kendaraan yang bisa membahayakan peserta.”

Saya: “Jadi, masih banyak yang harus diperbaiki ya Prof.?”

Prof. Halide: “Iya.”

Saya: “Prof. memang senang bersepeda ya?”

Prof. Halide: “Iya, saya biasa bersepeda disekitar rumah, kalau ada kesempatan. Saya juga sempat ikut acara Fun Bike nya Kompas beberapa waktu  yang lalu, tapi agak terlambat, karena jarak rumah saya ke lokasi acaranya jauh, apalagi saya cuma naik sepeda waktu itu.”

Belum sempat selesai berbincang-bincang, kami sudah dekat dengan garis finish, saya dan Prof. Halide berpisah, karena saya harus mengembalikan sepeda yang saya pakai waktu itu (sepeda kampus yang disediakan panitia) ke gedung rektorat. Sedangkan Prof. Halide menuju ke lokasi finish, di parkiran rektorat berstemu dengan panitia dan beberapa petinggi-petinggi kampus yang lain.

Oh, iya. Prof. Halide saat itu dipercaya menjadi salah satu dari lima orang duta sepeda untuk Universitas Hasanuddin bersama dengan beberapa mahasiswa(i).

Sangat menyenangkan rasa nya sempat berbincang-bincang dengan salah satu guru besar Unhas meskipun dalam suasana tidak formal, sambil bersepeda. But anyway, I loved it karena sama sekali tidak timbul kekakuan diantara kami. Dan beliau sangat antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Satu hal lagi, Prof. Halide juga humoris, sama dengan beberapa kali saat saya menyaksikannya berbicara dilayar televisi. Salah satu wish saya sudah terkabul untuk bertemu langsung dan berbincang-bincang dengan beliau. Sejak beberapa tahun yang lalu.