Menu Close

Tag: Mahasiswa (page 1 of 2)

Sharing Pengalaman Mendapatkan Beasiswa LPDP

Motivasi untuk junior-junior di Unhas dan TEST English School

Kemarin sore saya sempat mengisi kegiatan sharing pengalaman bersama teman-teman mahasiswa di Program Studi Teknik Pengembangan Wilayah dan Kota Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini sebenarnya tidak pernah saya rencanakan sebelumnya, namun beberapa hari yang lalu ketika menghadiri acara buka puasa bersama adik-adik angkatan 2013, saya diminta oleh dosen untuk membagikan pengalaman saya kepada mereka, mumpung masih ada di Makassar.

Read more

Selamat Kawan-kawan yang Wisuda Bulan Maret Ini

Sedikit demi sedikit berkurang

Hari Rabu (20 Maret 2013) ini menjadi hari bersejarah buat beberapa teman-teman saya. Mereka sudah tidak berstatus mahasiswa lagi! mereka sudah diwisuda! Bulan maret ini adalah periode wisuda ketiga untuk tahun ajaran 2012-2013 Universitas Hasanuddin. Diantara ratusan mahasiswa yang diwisuda hari ini, keempat diantaranya adalah kawan-kawan sekelas saya yang menjadi “teman seperjuangan” di program studi Teknik Pengembangan Wilayah Kota Unhas selama hampir lima tahun.

Mereka yang sangat berbahagia hari ini adalah:

  1. Miryad Husain, ST (D52108251)
  2. Muhammad Rayfuddin, ST (D52108257)
  3. Asrim, ST (D52108264)
  4. Fajar Sukma Jaya, ST (D52108856)

Tiada kata yang pantas saya ucapkan buat kalian selain selamat, congratulations, félicitations, glückwünsche, dan semacamnya. Kalian sudah melewati ujian dan cobaan-cobaan yang bahkan saya sendiri merasa tidak atau belum melewatinya dengan baik. Kalian telah menjadi mahasiswa-mahasiswa yang baik, rajin belajar, sopan kepada siapa saja, menghormati dan menghargai orang lain, sayang junior, cinta teman seangkatan, dan takut kepada senior, dan tak lupa rajin menabung!

Kawanku-Selalu | blog.hirschi.sc

Kawanku-Selalu | blog.hirschi.sc

Dengan diwisudanya keempat pangeran-pangeran PWK 08 tadi, total sudah ada 28 yang sudah menjadi Sarjana Teknik dari 37 orang yang masih bertahan (tidak keluar dari Prodi Teknik PWK Unhas angkatan 2008). So, masih ada 9 orang yang belum sarjana dari kami. Dan satu diantaranya adalah saya.

Semoga kalian yang sudah sarjana hari ini mendapatkan berkah daripada ilmu yang diperoleh selama kuliah. Apa pun yang telah kalian dan kita bersama alami selama kuliah akan menjadi kenangan yang tak terlupakan kawans, meskipun tidak selamanya kita bersama.

Again, selamat…. Selamat….. selamat!

Kawanmu,

Muhammad Rizqi Fahma, Blm ST

Gundul, Don’t Be Shy, Man!

Seperti maba lagi

Hanya saja tidak seculun dulu. Andai kata demikian, maka saya dan mahasiswa baru Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin sudah nyaris sama, kecuali pakaian hitam putih. Hari ini (6 Feb 2013) saya mengubah potongan rambut saya menjadi gundul, potongan rambut yang sangat tidak mainstream di lingkungan kampus saat ini.

Memang setiap kali sebelum cukur rambut, pasti saya mempertimbangkan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi sekarang sudah tidak seperti dulu lagi, ketika rambut saya panjangnya masih sebahu. Saat itu, persoalan potong rambut bisa jadi beban pikiran selama berminggu-minggu. Keputusan saya sudah bulat untuk berambut cepak saat ini.

Paul Walker | Celemag

Salah satu hal yang membuat saya memilih untuk berambut cepak alias pelontos atau gundul ini, adalah realisasi dari “nazar” saya. Saya berniat untuk gundul kalau urusan kolokium (seminar proposal) sudah selesai.  Dan tadi pagi saya sempatkan untuk browsing model rambut seperti ini, dan aha! Saya jadi ingat Paul Walker. Model rambutnya adalah salah satu yang paling saya suka.

Ada perasaan kurang nyaman pada saat pertama kali melihat ke cermin kalau rambut saya ternyata sudah gundul. Ada sedikit rasa penyesalan, kenapa saya memilih potongan rambut bermodel seperti ini. Dan, penampilan seperti ini kembali mengingatkan kepada banyak hal yang terjadi ketika saya masih berstatus mahasiswa baru (maba). Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur gundul.

Saya sudah mewanti-wanti kalau misalnya ada teman yang menertawakan model rambut baru saya ini. Whatever! Ada perasaan sengaja juga dibelakang ini. Sengaja gundul untuk melihat reaksi teman-teman, dan menerima segala komentarnya. Saya yakin, ini akan membuat mental saya menjadi lebih kuat. Dan saya akan menjadi lebih percaya diri karena akan semakin terbiasa dengan reaksi mereka.

Meski tidak populer, berambut gundul seperti ini memberikan suasana baru bagi saya. Tidak ada kewajiban pakai shampo lagi seminggu minimal dua kali, yang berarti ini adalah satu bentuk kecil penghematan untuk perawatan rambut. Rasanya kepala menjadi lebih ringan 7,5%. Dan sensasinya juga lebih fresh.

Untuk pemuda yang berambut gundul nan tampan, cheers!

Potong Rambut Sendiri, Why Not?

Sekali-sekali coba sendiri

Biasanya saya langsung ke tukang cukur saja untuk urusan seperti ini. Atau seperti waktu SMA dulu, saya meminta teman saya untuk mencukur rambut saya. Kali ini tidak. Hanya bermodalkan gunting biasa, cermin, plus kebulatan tekad, proses potong rambut bisa saya lakukan sendiri. Tanpa perlu membaca artikel tentang cara memotong rambut sendiri dari internet.

Sebenarnya, rambut saya masih terbilang pendek saat ini. Sangat pendek jika dibandingkan dengan potongan rambut saya waktu masih jaman jahiliyah khas mahasiswa abad pertengahan masa studi. Dulu rambut saya “cuma” sampai sebahu saja. Dan bergelombang, alias keriting seperti “mie tumpah” kata seorang sahabat saya. Dan sekarang, berhubung karena usia sudah tidak muda lagi untuk kelas umur mahasiswa, maka penampilan pun ikut berubah.

Gunting ini Milik Siapa? Oh, mine!

Ada masalah sedikit dengan rambut saya (beberapa waktu belakangan ini). Rambut saya seperti rambutnya Sun Go Ku di bagian depan. Berbentuk lancip-lancip terpisah ketika basah. Kadang mengganggu, karena sering menyentuh kelopak mata saya. Rasanya aneh juga, sedikit gatal memang. Padahal saya rutin pakai shampo yang dibintangi Cristiano Ronaldo. Harus ada perubahan, sebelum matahari terbit!

Mungkin karena tambahan beban pikiran terkait dengan tugas akhir saya, maka gunting yang ada diatas dispenser langsung saya ambil. Melihat cermin sebentar, dan bergumam.

Hmmm…. Bagian ini yang akan saya potong.

Cuma butuh waktu sekitar 10 detik, rambut bagian depan saya menjadi sedikit berkurang volumenya. Seandainya tidak dipotong, atau kah saya sedikit alay, mungkin bagian depan rambut saya akan berbentuk seperti rambut depan anak “emo” yang menusuk turun ke sudut kanan/kiri bawah. Mengerikan!

Mungkin hanya sekitar 2,5% dari rambut saya yang saya gunting. Tapi rasanya bagian depan kepala saya menjadi lebih ringan 25%! Emeizing…. Meskipun rambut saya tidak terbuat dari bahan serat karbon. I’m done, rambut saya menjadi lebih rapi dibagian depan. Kepercayaan diri meningkat 3,75%.

Kisah nyata.

Muhammad Rizqi Fahma, Blm ST. 1600 hari lebih di kampus.

Saya dan Sepeda #Bagian3 – Teenage

Jaman SMA, sudah pasti semua anak laki-laki tidak menempatkan sepeda sebagai tunggangan favoritnya. Anak SMA berfikir bahwa sudah saatnya beralih ke sepeda motor. Lebih cepat, lebih bertenaga, lebih bergengsi, dan juga pastinya lebih mahal.

Motor sudah pasti tidak akan dibelikan waktu itu. Mau minta dibelikan sepeda, mau juga sih. Tapi pikir-pikir dulu, harga sepeda juga makin mahal, dan kalau naik sepeda ke sekolah, parkirnya dimana? Dan yang naik sepeda ke sekolah itu cuma terhitung jari. Jadinya, rencana untuk kembali punya sepeda sendiri kembali pupus.

Sorry

Motor tidak punya, sepeda juga demikian. Sekolah lancar-lancar saja. Alhamdulillah.

Jreng….. kemudian, tiba lah masa-masa sebagai mahasiswa. Setelah lulus dan berhasil lolos tes UMB pada salah satu perguruan tinggi negeri, orang tua saya akhirnya memberikan hadiah sebuah kuda besi alias sepeda motor kepada saya. Sebuah Suzuki Shogun SP 125cc. bukan main senangnya saya waktu itu. Disitulah saya sadar, orang tua saya tidak salah ketika memutuskan bahwa saya tidak akan dibelikan sepeda motor waktu SMA.

Terus terang, kehadiran sepeda motor ini sangat berguna bagi saya. Dan juga orang disekitar saya. Dan saya punya banyak kenangan bersamanya.

Meski sudah punya sepeda motor, rasa rindu untuk kembali bisa memiliki sepeda tetap ada. Dan semakin lama saya semakin merindukan yang namanya sepeda ini. Apalagi setelah event Bike to Campus yang diselenggarakan teman-teman saya sekitar tahun 2011 lalu. Saya bahkan rela meminjam sepeda keponakan saya dan membawanya ke kampus yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Apalagi ditambah padatnya lalu lintas yang beresiko untuk pengendara sepeda seperti saya.

Melelahkan? Ya memang melelahkan mengendarai sepeda dipagi hari sejauh beberapa kilometer ke kampus, berkeliling kampus, dan sorenya kembali mengayuh sepeda ke rumah pemiliknya sejauh beberapa kilometer. Tapi, saya sangat antusias. Kembali saya ingat perasaan senangnya bersepeda ketika masih kecil, belasan tahun yang lalu.

Saya sempat ingin merealisasikan rencana membeli sepeda ketika tahun 2009-2010. Ketika itu, saya sempat dapat beasiswa untuk jangka waktu satu tahun ajaran. Tapi, tidak terealisasi. Uang nya habis untuk hal lain, seperti untuk perawatan sepeda motor, dan juga kebutuhan hidup lainnya.

Ah, hidup ini indah… sepeda, kita pasti bertemu lagi 😀