Menu Close

Tag: Mahasiswa (page 2 of 2)

Semester 8, Warning!

Terakhir tapi bukan yang paling terakhir

Mendengar semester 8, pasti ibu-ibu, bapak-bapak, tante-tante dan om-om yang mengerti pendidikan pasti akan menanggapi dengan mengatakan “oh, berarti sudah selesai ya? Sudah mau sarjana dong?.” “He eh, insya Allah om.” Tapi insya Allah bukan berarti akan segera selesai. Dan itu lah saya, mahasiswa yang masih belum juga tertarik untuk “buru-buru” jadi sarjana. Oh boy….

Sudah seharusnya memang mahasiswa bisa selesai di semester 8, dan menyandang gelar sarjana. Tapi sekali lagi, jadi sarjana “secepatnya” adalah pilihan, saudara-saudara sekalian. Dan saya menganggap kalau selesai S1 dalam waktu 8 semester itu terlalu cepat. Saya ulang, terlalu cepat.

Apalagi bagi mahasiswa yang kuliah di Fakultas Teknik, seperti saya ini. Maaf, bukannya saya menyepelekan fakultas lain, tapi kenyataan di lapangan membuktikan kalau mahasiswa-mahasiswa yang paling banyak terlambat selesai itu mahasiswa Fakultas Teknik.

Bunga di Kampus Unhas

Kenapa?

Yah, you know lah… Mata kuliah di FT (Fakultas Teknik) relatif berat-berat, seperti lab dan studio yang menyita banyak waktu, tenaga, dan fikiran, dan kalau dapat nilai jelek, hanya bisa diperbaiki tahun depan. Selamat mencoba!

Tapi kenyataannya juga, tidak sedikit mahasiswa FT yang bisa selesai (Sarjana) tepat waktu, bahkan lebih cepat dari yang seharusnya (8 semester). Saya tidak tau, sepertinya mereka ini makhluk yang berbakat! Terpujilah mereka.

Saya, mahasiswa yang sempat koma berkepanjangan dipertengahan masa kuliah akhirnya bisa kembali ke jalan yang “mungkin” benar. Saya sudah mulai mengejar ketertinggalan, dan membuat IP (Indeks Prestasi) yang tiarap menjadi jongkok, dan akhirnya bisa membungkuk. Mudah-mudahan si IP ini bisa ikut berdiri. Perjuangan “mendirikan” IP ini memang mengorbankan banyak hal, seperti waktu bolos* saya, bensin motor saya, dan uang pulsa. Tapi apa boleh buat, memang sudah waktu nya seperti itu.

Melihat beberapa teman saya yang akan sarjana bulan ini, saya menjadi semakin tidak termotivasi untuk segera menyusul. Sepertinya kehidupan di kampus menjadi lebih indah, dan rasanya terlalu cepat untuk tidak menikmatinya. Dan jauh melebihi itu, saya masih terus mencari, bagaimana saya akan mempertanggung jawabkan ilmu yang saya dapatkan selama ini, setelah menyandang gelar sarjana nanti.

Ini lah yang membuat saya berpikir, bahwa 8 semester buat saya belum lah cukup untuk “sedikit” mendalami esensi pelajaran di kampus. Tapi 8 semester, alias empat tahun itu sudah cukup untuk menjadi warning (peringatan) bagi saya segera mempertimbangkan untuk ikut-ikutan sarjana.

Ket:

* jangan ditiru!

Mahasiswa Juga Benci dengan Demo

Sebuah opini

Tentu saja! Siapa yang senang dengan kemacetan yang diakibatkan oleh aksi demo mahasiswa? Saya yakin 99,9% dari anda tidak senang. Kecuali kalau anda adalah salah satu dari peserta demo atau orang yang membiayai demonstrasi. Belakangan ini memang lagi hot-hot nya demonstrasi menentang kebijakan kenaikan harga BBM. Saya juga tidak setuju dengan kenaikan harga tersebut. Tapi saya fikir demo nya tidak perlu sampai anarkis.

Saya memang masih mahasiswa, tapi kalau yang namanya ikut demo alhamdulillah saya belum pernah ikut. Bagaimana tidak, demo nya begitu-begitu saja. Cuma bikin resah warga saja. Sering kali demo tidak tepat sasaran. Contohnya, kemarin katanya demo menolak kenaikan harga BBM, tapi kenapa sampai mobil truck Coca Cola yang dibalik? Kan kasihan. Belum lagi orang-orang yang harus kecewa karena tidak bisa lewat dijalan raya karena jalan dipalang para demonstran.

Peace, Please!

Peace, Please!

Saya tidak merasa sok dengan tidak mendukung para demonstran. Demo ya demo, tapi yang kreatif lah. Saya juga tidak mengerti dengan pola fikir teman-teman mahasiswa yang kadang memang diluar akal sehat. Mungkin karena dibutakan oleh bayang-bayang sikap “heroik” mereka yang berani tampil ditengah jalan dengan membakar ban. Bodoh sekali! ❗

Padahal sudah capek-capek dibiayai oleh orang tua untuk kuliah baik-baik, malah bikin onar saja. Bikin warga masyarakat jadi tambah berfikir negatif dengan mahasiswa. Sampai-sampai ustadz yang ceramah di masjid waktu shalat Jum’at mencap jelek  kampus saya. Karena demo terjadi pas didepan kampus saya. Padahal bukan hanya mahasiswa kampus saya yang ber demo. Tapi mau bagaimana lagi, ini lah dampak nya, satu berbuat banyak yang kena getahnya. Malang nya kampus ku!

Saya dan kawan-kawan yang mendengar ceramah tersebut, merasa sangat malu! 😥 yah, mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur jelek citra kami. Meskipun kalau mau berdebat, kami bisa berargumen bahwa tidak semua mahasiswa kampus kami berwatak “pendemo”. Malah kalau mau dibandingkan dengan kampus lain, angka aksi demonstrasi yang meresahkan warga kampus kami jauh lebih sedikit. Kami sudah jarang ber demo.

Jadi sudah jelas, bukan hanya warga yang mengutuk aksi demo yang anarkis, kami yang mahasiswa pun tidak setuju dengan hal itu. Dan kami tidak setuju dengan stereotip-stereotip orang-orang kalau kami semua anarkis dan kriminal. Tidak semua mahasiswa ber watak seperti itu.

Semangat 4.0

4.0. Wish yang selalu diinginkan setiap mahasiswa diawal semester. Sepertinya 4.0 melambangkan kesempurnaan (excellence) sebagai identitas seorang mahasiswa yang punya kredibilitas tinggi didunia akademis. Bukannya sinis, tapi menurut saya itu bukan lah sesuatu yang absolute, bahwa mahasiswa yang punya IP atau mungkin IPK 4.0 (baca: empat titik nol/four point O) akan memiliki karir secemerlang 4.0 nya.

Banyak mahasiswa yang kata nya punya nilai tinggi sewaktu kuliah ketika masuk ke dunia kerja malah kurang berhasil, tidak semulus karir nya sebagai mahasiswa dulu. Sejujur nya saya sendiri masih 50:50 soal perkara yang satu ini, pasal nya saya sendiri masih berstatus sebagai mahasiswa disalah satu perguruan tinggi negeri. Mana bisa saya langsung men-judge bahwa pendapat demikian itu mutlak. Tapi, dari beberapa teman yang sudah lebih dulu masuk lapangan kerja berkata demikian, bahwa IPK tinggi tidak berarti akan sebaik karir dalam dunia kerja. Tentu saja, itu semua tergantung dari orang nya. Apakah memang dia bekerja sesuai dengan passion nya, latar belakang pendidikannya, atau mungkin karena keharusan karena beberapa alasan tertentu seperti yang sering terjadi: ikut-ikutan.

Dengan melihat nilai saya yang cenderung menurun sepanjang semester, saya pun mencanangkan “Semangat 4.0”. Semangat yang saya harapkan dapat mendongkrak passion saya untuk tetap ber kuliah dengan baik dan benar sesuai dengan undang-undang. :). Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu care dengan nilai. Sehingga tidak heran kalau nilai saya pun tidak membuat heran saya sendiri, terjun bebas. Sejauh ini, enam semester yang saya jalani. Pola nilai saya cuma 1, menurun. Sebuah pukulan hook dari bawah mengenai tampang saya, yang juga makin kurus. Malang.

Pada awalnya, semangat 4.0 ini cukup efektif untuk tetap membawa saya semakin rajin untuk masuk kuliah. Memang sudah kewajiban. Setidaknya tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti semester-semester sebelumnya. Target maksimal 4.0 sepertinya bukan hal yang mustahil. Do’a pun terus mengalir diiringi usaha dan berserah diri. Melewati pertengahan semester, si 4.0 sudah banyak menghadapi tantangan, tugas-tugas besar semakin banyak. 4.0 pun terdegradasi warnanya menjadi abu-abu. Bendera sudah mulai turun menjadi 3/4 dari posisi puncak nya. Damn! Bisa-bisa kejadian di semester-semester sebelumnya terulang lagi.

Saya yang alhamdulillah sudah rajin masuk kuliah tepat waktu, bahkan sering lebih cepat datang dari jadwal semakin lama menjadi semakin lame. Mungkin terpengaruh dengan ketepatan waktu masuk dosen yang juga semakin sering terlambat, padahal tugas-tugas jadi tambah berat. Mungkin, beliau juga semakin sibuk dengan urusan masing-masing. Dengan kondisi demikian, tentunya kesadaran, inisiatif dari masing-masing individu harus lebih ditingkatkan, harus lebih peka kata nya. Saya, mahasiswa harus tetap ber semangat 4.0, dosen pun demikian. Harus ber semangat A+. Sangat sayang kalau setiap semester berkesan bahwa kuliah itu tidak menyenangkan. Introspeksi diri dan tindak lanjut yang ke arah positif tentunya sangat dibutuhkan dimasa-masa seperti ini.

*teruntuk diri ku yang berharap bisa lebih baik di perkuliahan.