Menu Close

Tag: Model Rambut

Gundul, Don’t Be Shy, Man!

Seperti maba lagi

Hanya saja tidak seculun dulu. Andai kata demikian, maka saya dan mahasiswa baru Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin sudah nyaris sama, kecuali pakaian hitam putih. Hari ini (6 Feb 2013) saya mengubah potongan rambut saya menjadi gundul, potongan rambut yang sangat tidak mainstream di lingkungan kampus saat ini.

Memang setiap kali sebelum cukur rambut, pasti saya mempertimbangkan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi sekarang sudah tidak seperti dulu lagi, ketika rambut saya panjangnya masih sebahu. Saat itu, persoalan potong rambut bisa jadi beban pikiran selama berminggu-minggu. Keputusan saya sudah bulat untuk berambut cepak saat ini.

Paul Walker | Celemag

Salah satu hal yang membuat saya memilih untuk berambut cepak alias pelontos atau gundul ini, adalah realisasi dari “nazar” saya. Saya berniat untuk gundul kalau urusan kolokium (seminar proposal) sudah selesai.  Dan tadi pagi saya sempatkan untuk browsing model rambut seperti ini, dan aha! Saya jadi ingat Paul Walker. Model rambutnya adalah salah satu yang paling saya suka.

Ada perasaan kurang nyaman pada saat pertama kali melihat ke cermin kalau rambut saya ternyata sudah gundul. Ada sedikit rasa penyesalan, kenapa saya memilih potongan rambut bermodel seperti ini. Dan, penampilan seperti ini kembali mengingatkan kepada banyak hal yang terjadi ketika saya masih berstatus mahasiswa baru (maba). Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur gundul.

Saya sudah mewanti-wanti kalau misalnya ada teman yang menertawakan model rambut baru saya ini. Whatever! Ada perasaan sengaja juga dibelakang ini. Sengaja gundul untuk melihat reaksi teman-teman, dan menerima segala komentarnya. Saya yakin, ini akan membuat mental saya menjadi lebih kuat. Dan saya akan menjadi lebih percaya diri karena akan semakin terbiasa dengan reaksi mereka.

Meski tidak populer, berambut gundul seperti ini memberikan suasana baru bagi saya. Tidak ada kewajiban pakai shampo lagi seminggu minimal dua kali, yang berarti ini adalah satu bentuk kecil penghematan untuk perawatan rambut. Rasanya kepala menjadi lebih ringan 7,5%. Dan sensasinya juga lebih fresh.

Untuk pemuda yang berambut gundul nan tampan, cheers!

Good Bye, My Long Hair #Tertunda

Gaya rambut SD sampai SMA

12 Tahun bukan lah waktu singkat bagi saya. 12 Tahun menunggu waktu untuk punya rambut panjang adalah bukan sebuah kegilaan. Ya, saya sudah lama ingin berambut panjang (gondrong). Sejak SD, rambut cuma 1 gaya saja. Cuma pendek, ada gaya lain juga sih, sama-sama pendek, pendek dan gaya-gaya turunannya. Paling panjang mungkin cuma sampai 5 cm.

Masuk SMP, inilah masa-masa paling tidak menyenangkan untuk memanjangkan rambut. Sempat berniat beberapa kali untuk memanjangkan rambut. Jumlah yang sama dengan berapa kali saya harus dicukur gratis oleh Pak Guru. Padahal panjang nya juga tidak seberapa. Selama SMP pun gaya rambut cuma 1, pendek dan turunannya. Jangan pernah berfikir untuk bergaya kalau cuma mengandalkan model rambut saja kawan! Tidak semua cewek suka cowok berambut cepak (gundul), cowok lebih lagi. Mana ada yang mau dipaksa rambut cepak terus selama 3 tahun. Prajurit (TNI & Polri) ungkin rela, karena persyaratannya memang begitu.

Masuk SMA, yang juga saya jalani 3 tahun sama dengan waktu SMP gaya rambut sudah mulai agak bervariasi. Tapi secara garis besar gaya nya juga cuma gaya rambut pendek. Disinilah kreativitas memodel rambut yang pendek diperlihatkan. Di SMA rambut mohawk juga sudah pernah saya miliki. Itulah gaya rambut paling populer waktu itu. Mohawk, dan turunannya. Tidak panjang juga mohawk nya, paling panjang mungkin cuma sampai 5 cm. Terus terang SMA jauh lebih baik daripada waktu SMP.  Dalam hal ini soal model rambut. Beberapa teman malah sukses memanjangkan rambut, yah karena dia jago sembunyi waktu pemeriksaan rambut.

Rambut di masa-masa kuliah

Aha! Ini lah waktunya pembalasan! 12 tahun berambut pendek adalah bukan sesuatu yang sangat menyenangkan. Memang kadang menyenangkan, karena tidak harus rutin pakai shampo, dan kepala terasa sangat ringan. Masa kuliah lah masa sebebas-bebas nya soal gaya rambut. Tapi tunggu dulu. Masuk kuliah tidak langsung boleh berambut gondrong. Senior lah penjegal rambut, beliau lah yang berHAK menentukan model rambut, waktu masih maba tentunya. Banyak model rambut juga sih, biar gundul, tapi tetap modis. Ada yang punya rambut bermodel A (A Mild), dan ada yang tidak karuan karena kena gunting senior yang sengaja tidak tau pakai gunting.

Model-Rambut-Panjang-Bergelombang

Ilustrasi

Selepas setahu menjadi junior, model rambut menjadi sangat bervariasi. Yang dulu cuma gundul dan turunannya, menjadi bermacam-macam. Tidak ada lagi yang berambut pendek. Semua berlomba punya rambut gondrong. Pembalasan, man! Saya juga sudah tidak sabar berambut gondrong. Banyak cara yang dipakai untuk memanjangkan rambut, semuanya didapat dari perbincangan dengan orang-orang yang sudah pernah gondrong sebelumnya.

Rambut yang bermutasi

Waktu rambut ku mulai panjang, dear my dear. Sesuatu yang ‘agak aneh’ mulai terjadi dengan rambut saya. Rambut saya yang setahu saya lurus-lurus saja, tak tau kenapa menjadi ikal, kriting, ato apa lah nama nya itu. Raambut jadi susah ditembus sisir, kecuali yang spasi nya jauh, baru bisa dipakai. Keluarga, teman-teman juga sempat bertanya, kenapa rambut saya bisa begitu. Saya bilang, saya tidak tau juga.

Sebenarnya, waktu SMA saya memang sempat berfikir untuk sedikit membuat rambut saya bergelombang. Terinspirasi dari gaya rambut pemain bola nya Portugal, Simao Sabrosa dan Cristiano Ronaldo yang juga berambut berombak. Tapi sayang, itu tidak kesampaian.

Semakin lama, rambut semakin panjang. Sempat cukur juga beberapa kali, tapi setahun lalu saya memutuskan untuk mulai meniti karir menjadi pemuda berambut gondrong. Jadilah saya gondrong. Model rambut bergelombang, kadang tidak karuan adalah pemandangan yang lumrah setiap orang melihat tampang saja. Saya cenderung membiarkan rambut saya bergerak sesuai kehendaknya, demokrasi dengan rambut sendiri itu juga boleh.

Ke kampus dengan rambut yang gondrong adalah sebuah kebanggaan tersendiri, ada nilai prestise, katanya. 🙂 Paling tidak sudah dapat dibedakan dengan junior hanya dengan melihat gaya rambut.

Beberapa semester berlalu, saya sudah bukan junior lagi kawan. Sudah punya junior beberapa angkatan. Beberapa teman sudah kembali berambut pendek. Pemuda berambut gondrong di kelas saya hanya tersisa beberapa orang. Langka. Terus terang, saya tidak pernah berniat untuk pamer kekuasaan hanya dengan mengandalkan rambut gondrong saja. Terlalu dangkal menurut saya kalau berlagak penguasa didepan junior (sedikit curhat) 🙂

Rasa bosan akhirnya tiba

Ya, berambut gondrong juga menimbulkan rasa bosan. Bukan apa nya. Bosan dengar kata-kata disuruh potong rambut dari orang tua B-) Ah. Hampir tiap pulang kerumah orang tua, pasti model rambut disinggung singgung. Susah juga melihat anak senang dengan rambut gondrong. Rambut saya juga tidak gondrong amat. Paling cuma sebahu lewat sedikit.

Akhir nya dengan melalui berminggu-minggu merenung, dengan kata-kata cukur yang mengiang-ngiang dikepala, akhir nya kuputuskan untuk potong rambut. Tidak tega juga melihat rambut yang berbulan-bulan menemani, jatuh dilantai tukang cukur. Sedih rasanya. Tidak mudah bagi saya waktu itu untuk melalui hari-hari dengan rambut pendek. Identitas sudah berubah, dari gondrong ke rambut yang lebih pendek. Tapi apa boleh buat, rambut sudah dipotong. Yah era rambut pendek kembali dimulai.

*Akhirnya tulisan ini selesai juga, setelah beberapa waktu ditunda-tunda. Mudah-mudahan beberapa ide lain bisa segera saya tuangkan di blog ini. Masih banyak ide yang belum dituliskan. 🙁