Menu Close

Tag: Pengalaman

Sharing Pengalaman Mendapatkan Beasiswa LPDP

Motivasi untuk junior-junior di Unhas dan TEST English School

Kemarin sore saya sempat mengisi kegiatan sharing pengalaman bersama teman-teman mahasiswa di Program Studi Teknik Pengembangan Wilayah dan Kota Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini sebenarnya tidak pernah saya rencanakan sebelumnya, namun beberapa hari yang lalu ketika menghadiri acara buka puasa bersama adik-adik angkatan 2013, saya diminta oleh dosen untuk membagikan pengalaman saya kepada mereka, mumpung masih ada di Makassar.

Read more

Cerita Soal Pekerjaan Sekarang

Membaca judulnya sebenarnya kurang menarik, saya juga mengakuinya. Tapi tulisan ini setidaknya saya buat untuk menuangkan bagaimana rasanya menjadi seorang pegawai/karyawan atau staff.

Alhamdulillah, saat ini saya sudah bekerja di sebuah perusahaan konsultan selama dua bulan. Saya sendiri belum punya gelar sarjana. Saya kuliah, dan sekarang sudah masuk semester 9. Pengalaman saya selama dua bulan mungkin sangat singkat jika dibandingkan dengan orang lain yang sudah bekerja selama berpuluh tahun. Tapi bagi seorang pemuda yang belum bergelar sarjana seperti saya, pengalaman sesingkat ini sudah sangat berharga.

Jam waker mirror edited by Rizqi Fahma Camera 360

Tik-tok

Saya sangat berterima kasih kepada Dana, seorang teman saya yang telah merekomendasikan saya kepada pemilik perusahaan untuk menerima saya bekerja.

Berharga? Ya, sangat berharga. Disaat orang lain yang sudah sarjana sangat galau dan pusing tidak karuan karena belum juga mendapatkan pekerjaan, saya sudah lebih dulu merasakan secuil pengalaman di dunia kerja.

Dunia kerja butuh kepercayaan

Saya sangat berterima kasih kepada pak Anto (Direktur perusahaan tempat saya bekerja sekarang ini) karena beliau menaruh kepercayaan kepada saya untuk melakukan beberapa pekerjaan, yang sebelumnya saya sendiri belum berani untuk mengerjakannya. Dan disini lah inti dari dunia kerja yang sebenarnya (menurut saya). Kepercayaan.

Pada awalnya saya hanya bertugas untuk mengisi form untuk kelengkapan dokumen perusahaan untuk mengikuti tender. Tidak sulit, prosesnya menggunakan internet, dan hampir semua datanya sudah ada. Dan mulai dari saat-saat pertama di kantor, saya tunjukkan bahwa saya bisa melakukan pekerjaan saya dengan lebih baik. Saya tidak ingin mengecewakan orang yang sudah memberikan kepercayaan kepada saya.

Pekerjaan itu tantangan

Dan kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, saya sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan. Bahkan, saya tidak sungkan untuk menanyakan pekerjaan apa lagi yang harus saya kerjakan. Dan saya banyak bertanya!

Pekerjaan pun mulai bertambah, dan tingkat kesulitannya juga bertambah. Saya sangat menyadarinya. Rasanya level pekerjaan mulai meningkat. Saya jadi semakin sering lembur. Bahkan, saat bulan puasa baru-baru ini, saya bekerja sejak pagi (kurang lebih jam 9.30) sampai malam. Dan bahkan sampai sahur.

Orang lain mungkin berkomentar kalau pekerjaan saya terlalu berat, dan gajinya juga tidak banyak. Yah, mungkin tidak banyak bagi orang-orang yang bergaji tinggi. tapi bagi saya, jumlahnya sudah lumayan. Setidaknya saya sudah tidak membebani orang tua untuk biaya hidup sendiri.

Salah satu tantangan terberat yang saya alami adalah tentu saja workload yang sering lebih besar dari pada kemampuan. Saya selalu harus mengingat untuk tidak mengeluh, apapun tugas yang diberikan oleh atasan saya. Karena pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa dengan cara seperti ini lah kita bisa melewati batas dari pada kemampuan kita yang sebelumnya.

Saya tidak akan bekerja sampai hari ini kalau tidak ada lagi tantangan dalam pekerjaan saya. Selalu ada tantangan baru yang saya dapatkan dalam pekerjaan yang saya jalani. Alhamdulillah, saya bisa katakan kalau sejauh ini saya menikmati hampir semua tantangannya. Dan mana kala saya sudah tidak menikmati lagi pekerjaan saya, saya akan mulai berfikir untuk meninggalkannya. Pekerjaan apa pun itu.

Sharing Pengalaman Dari Survey Lapangan (My Experience)

Ada banyak pengalaman yang telah saya alami selama melakukan survey lapangan (lokasi). Beberapa memberikan pelajaran/hikmah yang dapat dipetik untuk introspeksi diri. Survey yang telah saya lakukan sejauh ini berkaitan dengan kuliah (berhubung karena saya adalah seorang mahasiswa Teknik Pengembangan Wilayah dan Kota) atau pun berkaitan dengan survey proyek penataan ruang, perencanaan, pengembangan wilayah (urban and regional development/planning).

Land-Surveying-GPS-Rizqi-Fahma

Ilustrasi

Berbagai macam tempat menjadi lokasi survey saya (juga teman-teman lain). Mulai dari lokasi yang berada di tengah perkotaan, daerah pedesaan, perumahan/pemukiman, daerah kumuh, pertanian, peternakan, jalan, persampahan, sampai dengan daerah pesisir. Semuanya memberikan pengalaman tersendiri.

Sedih juga melihat mereka

Salah satu pengalaman yang paling berkesan dan cukup mengharukan adalah ketika saya melakukan survey di Kab. Sidrap. Tepatnya di kawasan peternakan sapi milik PT. BULI. Disana saya melihat bagaimana para pekerja melakukan pekerjaan yang menurut saya saya sendiri tidak mampu bertahan lama bekerja disana. Mereka bekerja memelihara sapi dengan menjaga pasokan makanannya, mengolah rumput gajah menjadi makanan sapi, membersihkan kandang sapi yang kotor, menjaga kesehatan sapi, dan lain-lain.

Pengolahan-Rumput-Gajah-BULI-Ranch

Pengolahan Rumput Gajah

Sejauh yang saya amati, mereka hanya melakukan hal yang itu-itu saja. Pasti bosan saya melakukan pekerjaan mereka itu. Berada ditengah pedalaman seperti itu membuat suasananya sangat berbeda dari yang saya alami selama berkuliah. Beberapa diantara mereka adalah perantau yang jauh dari keluarga. Mereka mungkin saja memimpikan pekerjaan lain yang lebih baik dari itu. Karena terbatas nya pilihan mereka, ditambah dengan tingkat pendidikan rendah membuat mereka “barangkali” terpaksa memilih menjadi pekerja di kandang sapi. Tapi, dari beberapa kali melihat bagaimana mereka melakukan pekerjaan mereka, sepetinya mereka tidak terlihat “benci” dengan pekerjaan mereka.

Mereka terlihat senang dengan apa yang mereka kerjakan. Berbeda dengan sebagian orang yang sudah bekerja di tempat yang lebih baik, dengan gaji yang lebih dari cukup, hidup dengan fasilitas mumpuni, namun tetap merasa banyak yang kurang dari itu semua. Sepertinya, bukan gaji yang besar dan fasilitas lengkap yang menjamin 100 % para pekerja peternakan menikmati pekerjaan mereka. Mereka sudah bersyukur dengan pekerjaan mereka. Salut melihat mereka melakukan pekerjaan mereka.

Teamwork itu mutlak!

Survey lapangan/lokasi biasanya mengharuskan kita untuk bekerja bersama tim. Disini lah dibutuhkan kerja sama tim (teamwork) yang baik. Bagaimana teknik pengambilan data, pembagian tugas, sampai dengan mengurusi perlengkapan survey. Terus terang saya juga selalu mengalami hal yang sama, seperti bagaimana cara mewawancarai penduduk setempat, masyarakat sekitar, hingga pegawai sebuah instansi yang sering berbeda dengan rekan se-tim. Biasa nya hal ini memakan waktu yang tidak sedikit, hanya untuk mendapatkan sedikit informasi yang kita butuhkan.

Buang jauh-jauh rasa malu

Pepatah yang mengatakan: “malu bertanya sesat dijalan” sangat berlaku di dunia survey lapangan. Pasti! Beberapa survey yang saya lakukan berada di tempat yang sama sekali belum pernah saya datangi sebelumnya. Jarak yang jauh, masuk pedalaman, dan jalan yang rusak adalah sesuatu yang lumrah. Suatu waktu saya dan seorang rekan saya mendapat proyek survey di sebuah kecamatan di sebuah kabupaten yang jaraknya ratusan kilo meter. Yang kami ketahui hanya nama kecamatan, nama kabupaten, dan apa yang harus kami survey. Betul-betul menantang! Kan ada peta? Itu dia masalahnya, Gas! Peta yang saya pegang waktu itu hanya peta Provinsi, bukan peta detail kabupaten tersebut. Otomatis, kami hanya mengandalkan insting, ditambah rasa PeDe yang tinggi untuk bertanya kepada warga sekitar. Sekali rasa malu bertanya muncul, maka siap-siap saja tersesat di daerah orang yang antah-berantah itu.

Fisik dan mental harus kuat!

Perjalanan menuju lokasi survey yang ber kilo-kilo meter itu membutuhkan fisik yang kuat bagi surveyor. Pengalaman saya, berkendara motor sampai beratus-ratus kilo meter tentu mengajarkan untuk mempersiapkan kondisi fisik yang prima sebelum survey, dan selama survey berlangsung. Sebelum survey sebaik nya istirahat yang cukup. Sangat berbahaya berkendara dalam keadaan lelah. Beruntung waktu itu saya dan teman saya bisa menginap di rumah keluarga nya, jadi tidak perlu lagi pusing soal mencari-cari lokasi penginapan. Selama survey, usahakan untuk tidak perlu melakukan gerakan yang membuang-buang tenaga, seperti berlari-lari, manjat-manjat pohon, kalau memang hal itu tidak diperlukan. Dan pastikan soal konsumsi makanan dan minuman yang juga harus cukup, kalau bisa lebih. 🙂

Mental pun harus kuat. Saya berulang kali mengalami “pergolakan batin”dengan diri sendiri. “Aduh, kenapa saya ikut survey ini, survey nya tidak enak. Jalanan jelek, kita tidak tahu jalan, takut tersesat, dll.” Nah itu dia, mental itu harus kuat. Bagaimana menjaga konsistensi, mood untuk tetap melanjutkan survey sampai selesai. Semakin sering survey semakin kuat juga mental surveyor nya.

Selalu ingat tuhan, kawan!

Berada di tempat yang asing, tidak ada teman, jauh dari keluarga, adalah konsekuensi bagi seorang surveyor. Beruntung, karena saya sudah pernah merasakannya. Bahkan sudah sering. Walaupun begitu, setiap daerah memiliki perasaan berbeda pula saat survey. Ada daerah yang sama sekali tidak ada sinyal, tidak ada listrik, pokoknya betul-betul pedalaman. Kalau begini, mana bisa berkomunikasi dengan keluarga dan teman yang jauh disana! Hanya tuhan lah tempat yang paling tepat untuk menyampaikan unek-unek.

Katakan lah, anda rindu dengan keluarga, teman, atau kah seseorang yang  spesial yang jauh disana. Sedangkan anda berada di daerah antah-berantah, tidak ada sinyal, tidak ada listrik, sudah malam pula. Ini lah saat-saat yang rapuh bagi surveyor (Aiiiihh…. Kena juga!) Dada jadi berdebar tidak karuan, salah sedikit air mata diam-diam menetes. Hanya tuhan lah menjadi tempat peraduan untuk menyampaikan kerinduan itu. Sesekali singgah lah shalat di masjid (bagi anda yang muslim) untuk kembali mendekatkan diri dengan yang maha kuasa, dan percaya deh rasa nya sangat beda dibanding shalat di mesjid sekitar rumah! Perasaan sedih, rindu, dll bercampur menjadi satu.

Intinya adalah bersyukur

Melihat keadaan dari objek survey yang beragam, membuat saya sedikit merenung. Betapa beruntung nya saya dibanding orang-orang lain diluar sana, yang hidup kurang layak, berjuang mencari nafkah bagi keluarga-keluarga mereka, tidak peduli apa resiko nya. Saya bersyukur karena telah merasakan pendidikan tinggi yang layak, meskipun belum sampai keluar negeri, tapi paling tidak sudah ada kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup.

Banyak sekali pelajaran yang bisa didapat dari kegiatan survey lapangan ini. Tulisan diatas belum lah menceritakan semua pengalaman itu, hanya mewakili sedikit saja. Terima kasih telah membaca tulisan ini. Semoga menginspirasi!