Menu Close

Tag: Perjalanan

Tentang Upload Foto

Sangat menarik melihat banyak foto yang diupload teman-teman di Facebook tentang perjalanan dan liburan masing-masing. Dari foto-foto mereka saya sedikit banyak tahu tentang tempat yang mereka kunjungi, baik yang sudah pernah ataupun yang belum saya kunjungi. Ini bukan tentang “show off” tentang perjalanan masing-masing, tapi bagaimana kita memanfaatkan waktu liburan yang tidak banyak sebelum kembali sibuk dengan tesis masing-masing. Read more

Perjalanan Demi Perjalanan

Beberapa minggu terakhir ini saya disibukkan dengan berbagai perjalanan. Semuanya perjalanan darat, baik dengan kereta api ataupun dengan menumpang bus. Cukup melelahkan, apalagi setelah menumpang kereta paling tidak 8 jam. Dan sore hari ini saya akan kembali menumpang kereta dengan perjalanan sekitar 12 jam menuju timur Jawa, saya akan ke Kediri! Yeah… Tapi, kabar buruknya, saya hanya menggunakan kereta ekonomi. Read more

Jakarta, Ah Jangan Lama #Part2

Don’t be shy, boys!

lanjutan dari Jakarta part 1

Malam itu adalah malam pertama yang saya habiskan di ibu kota. Jakarta di malam hari itu seperti apa? Seperti yang terlihat di tv, kurang lebih. Malamnya, setelah istirahat sejenak di hotel, saya dan Ewink keluar untuk cari makan, sekalian jalan-jalan. Mumpung cuaca lagi tidak mendung. Berhubung karena tempat kami menginap tidak jauh dari toko Bhinneka, maka kami berencana untuk kesana. Tapi sebelumnya, kami makan malam dulu.

Dalam perjalanan, kami melihat satu Mal, kalau tidak salah namanya Golden. Mal ini lumayan juga, lumayan banyak juga pengunjungnya waktu itu. Tujuan kami hanya dua, yaitu ATM dan tempat makan. Dan keduanya ada di mal ini. Berhubung karena perut makin liar minta makan, langsung saja kami mengantri untuk beli makanan di salah satu restoran cepat saji. Tapi, ada sedikit masalah disini.

Naik-Bajaj-di-Jakarta

Kondisi Didalam Pesawat Jenis Bajaj

Kami bingung, paket mana yang harus kami pilih. Dan setelah diskusi sambil antri, maka kami memutuskan untuk memilih paket tiga orang. Lumayan juga, ada lima potong ayam, dan nasi kami pesan empat porsi. Tunggu dulu, ini kan porsi untuk tiga orang, dan kami hanya berdua. Terus yang satunya siapa? Anggap saja kami berdua mewakili tiga orang. Berhubung karena saat itu kami sedang dalam keadaan “Empty Tank” butuh supply energi yang banyak untuk hibernasi hingga 12 jam kedepan.

Dan saat itu lah saya merasa bahwa hanya kami berdua yang tampak aneh. Dari segi penampilan, of course we are! Saya: pakai sandal jepit, celana pendek, dan baju kaos (santai saja). Ewink: sepatu kanvas, celana pendek, plus baju kemeja (tidak terdefinisikan). Dan dari segi pesanan, absolutely, kami tampak sangat mencolok. Butuh dua meja yang berdempetan untuk menampung pesanan kami. Maka dari itu, tidak heran kalau kami menjadi perhatian pengunjung lain. Belum pernah liat dua orang pemuda yang kelaparan ya? Whatchout!

Berhubung karena saya menjaga berat badan, maka 3 porsi ayam seratus persen belong to Ewink. Ewink, you the man! Untung kami berdua bukan cowok pemalu! We are the brave guys from nowhere! Namanya juga orang lapar…

Setelah itu, kami ke toko Bhinneka, lupa jalan apa namanya, tokonya sudah tutup. Hanya ada penjaga keamanan disana, tapi kami sempat bertanya juga soal toko ini.

Penggerebekan!

Setelah kembali capek dari jalan-jalan malam, kami beristirahat di hotel. Disaat jam menunujukkan sekitar pukul setengah empat dinihari, saya mendengar suara ribut disebelah kamar kami, terdengar seperti suara aparat keamanan. Dia menggertak seorang disebelah sana dan menyuruhnya untuk keluar. Saya pikir suaranya cukup keras dan sangat mengganggu. Tapi, Ewink no problemo soal ini, sama sekali dia tidak merespon, dia tetap tidur dalam keadaan tidak berdosa.

Ke Harco Mangga Dua

Sampai juga kami di salah satu tempat tujuan utama kami, yaitu Harco Mangga Dua. disini kami melakukan pembelian beberapa unit komputer PC All in One Asus. Sempat ada sedikit masalah, tapi everything went well overall. Dan tugas berat selanjutnya adalah membawanya pulang ke Makassar.

Ada cerita lucu juga ketika kami menumpang bajaj menuju Mangga Dua. Ini merupakan kali pertama kami naik bajaj. Bisa dibilang naik bajaj rasanya seperti mendengar suara badai. Pilot bajaj yang kami tumpangi juga cukup lincah untuk ikut berpacu dengan kendaraan lain, dan suara bajaj ini tentu saja meraung-raung seperti kambing yang dicekik. Meski cukup menakutkan untuk pemula, tapi pengalaman ini asyik juga.

Kembali ke Makassar

Sore harinya kami kembali ke Bandara di Cengkareng, dengan empat buah PC All in One yang berukuran 15,5 inch. Sampai di bandara dalam keadaan nyaris ketinggalan pesawat, kami sampai berlari menuju pesawat. Mungkin karena terburu-buru, barang kami bisa segera masuk bagasi tanpa banyak neko-neko dari petugas.

Malam harinya, sekitar jam sembilan WITA kami tiba di Sultan Hasanuddin International Airport, Maros. Welcome back to Makassar! Opick, abang si Ewink menjemput kami. Waktu itu kami kembali dalam keadaan lapar! Tidak peduli warung apa, kami harus kembali makan enak! Maklum, seharian kami bergerak terus, sejak keluar dari hotel. Dan tentu saja melelahkan.

Jakarta, jangan lama!

See ya!

Jakarta, Ah Jangan Lama – #Part1

Ini adalah perjalanan terjauh saya dipenghujung tahun 2012 ini. Jakarta, kota yang tidak menarik buat saya. Tapi, berhubung karena ada keperluan kantor yang didelegasikan kepada saya, jadi yaah, kesana saja. Sekalian untuk mencoba untuk tidak membenci ibukota ini. Kenapa bisa saya benci, atau merasa kalau Jakarta itu tidak menarik? Silahkan tonton di tv, atau baca artikel di media cetak atau internet. Jakarta bagi saya selalu identik dengan kemacetan, kriminalitas, dan hal-hal negatif lainnya. Plus banjir!

Tapi salah juga kalau saya berprasangka buruk tanpa langsung membuktikannya. Ini memang bukan kali pertama saya ke Jakarta. Tahun lalu saya juga sempat tapi hanya untuk sekedar transit dari dan ke Bandung. Maka dari itu, perjalanan ke Jakarta yang kedua ini lebih nyata daripada sebelumnya.

Tujuan utama ke Jakarta adalah untuk melakukan pembelian beberapa unit komputer, membeli sparepart plotter, dan mengambil 3 biji GPS yang diperbaiki. Ketiga poin utama ini berada ditempat yang berbeda-beda. Dan you know lah, saya belum pernah keliling Jakarta sebelumnya, jadi bisa dibayangkan betapa ruwetnya perjalanan ini. But, that’s OK.

Jakarta-macet

Jakarta, Tentu Saja!

Berangkat dari Makassar, 28 Desember 2012 pagi, dan harus pulang sehari setelahnya adalah waktu yang cukup mepet untuk menyelesaikan ketiga item dalam to-do list tadi. tentu saja saya dan Ewink yang berangkat harus pandai mengatur waktu. Dan sejak tiba di Cengkareng,  kami langsung ingin bergerak secepat mungkin. Tapi, eits.. tunggu… makan dulu!

Saya dan Ewink belum lama berkenalan. Dia adalah adik kandung bos di tempat saya bekerja. Tidak butuh waktu lama untuk bisa “klop” dengan dia. Ewink orang nya juga simple dan tidak neko-neko. So, tidak banyak kendala soal komunikasi.

Tujuan pertama kami adalah mengambil 3 GPS kami yang diperbaiki di Datascrip, yang letaknya di Jl. Selaparang Blok B-15 Kav.9 Kompleks Kemayoran. Jaraknya cukup jauh dari bandara Cengkareng. Waktu itu kami menyewa sebuah mobil Avanza dengan biaya 100 ribu rupiah. Pak sopir sebenarnya tidak tahu letak Datascrip yang kami maksud dimana, dan dengan bantuan GPS HandPhone saya dan bertanya ke satpam dan pengguna jalan lain, akhirnya sampai juga. Waktu shalat Jum’at pun menjelang.

Cukup lama kami di Datascrip, karena pak Cahyo yang mengurusi GPS tadi butuh waktu lama untuk konfigurasi setting GPS nya. Waktu terus berjalan. Dan kami masih punya dua item yang harus kami selesaikan. Kurang lebih pukul 3 sore lewat, kami segera meninggalkan gedung Datascrip, dan mencari sparepart untuk plotter HP Designjet 500 plus yang ada di kantor kami di Makassar.

Ada dua alamat untuk mencari tahu keberadaan sparepart tersebut. Yang pertama adalah HP Service Centre di Menara Danamon Lt. 25 Jl. Prof. Dr. Satrio Kav. E4/6. Butuh waktu lama untuk menemukan tempat ini, dan biaya taxi 100 ribu. Dan setelah sampai di TKP, ternyata alat yang kami cari tidak tersedia disana. Segera kami menuju ke alternatifnya, di HP Akira Data di jl. Persada Raya No. 43, Tebet, Jakarta Selatan. Dan perjalanan tentu saja macet!

Meskipun letaknya dalam lorong, tapi dapat lokasinya lebih cepat dari pada ke Menara Danamon yang lebih besar. Beberapa kali saya menghubungi bos untuk memastikan alat yang kami cari. Ternyata belt yang kami maksud sudah tidak diproduksi lagi, alias stoknya sudah tidak ada. Alright, yang jelas kami sudah konfirmasikan kepada bos bahwa alat tersebut sudah discontinue produksinya.

Setelah itu, kami mencari hotel untuk beristirahat. Karena esoknya kami harus membeli beberapa unit komputer. Biaya taxi dari menara Danamon ke HP Akira Data dan hotel Borobudur tempat kami menginap sebesar 150 ribu rupiah.

Check this out: Jakarta Jangan Lama #Part2