Menu Close

Tag: sepeda (page 1 of 2)

Gowes ke Kinderdijk

Kurang lebih 24 jam yang lalu, saya baru sampai di kamar setelah pergi ke Kinderdijk. Mungkin ada yang bertanya soal Kinderdijk, jawabannya adalah: kalau anda sering melihat gambar atau foto kincir angin tradisional dari Belanda, beberapa diantaranya ada di Kinderdijk, letaknya di Zuid Holland (Provinsi Belanda bagian Selatan). Read more

Sepeda Malam

Dua malam terakhir ini saya pulang ke flat dimalam hari dengan naik sepeda. Cuacanya dingin, angin kencang dan hujan. Sebenarnya saya lebih senang naik tram dengan kondisi seperti ini, tapi berhubung karena besok mau pakai sepeda, dan demi menghemat cadangan Euro yang masih tersisa di rekening, saya memilih untuk naik sepeda saja. Read more

Saya dan Sepeda #Bagian2 – Mustang Merah

Sejak kecil saya punya keinginan untuk memiliki sepeda sendiri. Meski ketika pindah tinggal bersama kedua orang tua kandung saya, bapak saya sudah punya sepeda. Tapi sayang, bukan sepeda yang cocok dikendarai anak seusia saya waktu itu. Kadang saya juga mengendarainya, tapi dengan menyesuaikan posisi tubuh saat mengendarainya. Dan itu tidak mudah.

Semuanya menjadi sedikit lebih baik ketika nomor undian bapak saya naik dan mendapatkan sebuah sepeda. Sebuah sepeda Mustang dengan rangka yang lebih mudah dikendarai. Sepeda ini kemudian menjadi sepeda saya. Tapi sebenarnya sepeda ini bukanlah sepeda yang “bisa diandalkan”, namanya juga sepeda hasil menang undian. Beberapa bagian pada rangka nya penyok dan stir nya juga sering mengalami masalah. Secara keseluruhan sepeda ini memang bisa dikatakan sepeda dengan kualitas rendah. Tapi biar bagaimana pun, itu lah sepeda pertama saya (selain sepeda tiga roda waktu masih balita).

Sepeda Mustang merah inilah yang selalu menemani saya. Ke sekolah, ke lapangan, atau pun ke tempat main game. Pernah suatu ketika, saya terkejut ketika sepeda ini tidak saya temukan ditempat dimana saya memarkirnya waktu main game. Saya sangat khawatir waktu itu, pasalnya kalau sepeda itu hilang, bagaimana dapat gantinya? Untungnya beberapa menit kemudian, sepeda itu kembali. Dan memang ada yang sempat pakai, tanpa minta izin. 🙁

Waktu SD saya sangat ingin memiliki satu sepeda custom, sebuah sepeda bermodel BMX, meskipun sepeda bekas. Tapi, uang saya tidak pernah cukup waktu itu, entah tabungan saya habis karena belanja apa. Mungkin karena dulu pas musimnya mobil Tamiya, jadi banyak uang dipake buat ongkosi mobil-mobilan itu.

BMX-Idaman

BMX

Sepeda BMX tidak kesampaian, akhirnya sisa masa-masa SD sampai SMP sepeda saya cuma si Mustang merah itu. Tapi terus terang, saya sudah jarang mengendarainya. Beberapa bagian rusak, dan saya kesulitan memperbaikinya. Jadi kira-kira, tinggallah dia di dalam rumah menjadi sarang laba-laba. Dan beberapa lama kemudian, sepeda ini berpisah dengan saya dalam damai. Paman saya membawanya ke kampung.

Sudah tidak punya sepeda lagi, masa SMP berjalan lancar-lancar saja. Alhamdulillah, sekolah SMP saya tidak jauh dari rumah. Saya bisa kesana dengan berjalan kaki sekitar lima menit saja.

Sampai dengan SMA, keluarga saya tidak pernah melakukan pembelian sepeda lagi, atau menang undian sepeda, atau mendapat pemberian sepeda. Singkatnya, waktu itu saya sungguh “bikeless”. Jauh didalam lubuk hati saya, saya merindukan sepeda. Sepeda, I missed you so much.

Saya dan Sepeda #Bagian3 – Teenage

Jaman SMA, sudah pasti semua anak laki-laki tidak menempatkan sepeda sebagai tunggangan favoritnya. Anak SMA berfikir bahwa sudah saatnya beralih ke sepeda motor. Lebih cepat, lebih bertenaga, lebih bergengsi, dan juga pastinya lebih mahal.

Motor sudah pasti tidak akan dibelikan waktu itu. Mau minta dibelikan sepeda, mau juga sih. Tapi pikir-pikir dulu, harga sepeda juga makin mahal, dan kalau naik sepeda ke sekolah, parkirnya dimana? Dan yang naik sepeda ke sekolah itu cuma terhitung jari. Jadinya, rencana untuk kembali punya sepeda sendiri kembali pupus.

Sorry

Motor tidak punya, sepeda juga demikian. Sekolah lancar-lancar saja. Alhamdulillah.

Jreng….. kemudian, tiba lah masa-masa sebagai mahasiswa. Setelah lulus dan berhasil lolos tes UMB pada salah satu perguruan tinggi negeri, orang tua saya akhirnya memberikan hadiah sebuah kuda besi alias sepeda motor kepada saya. Sebuah Suzuki Shogun SP 125cc. bukan main senangnya saya waktu itu. Disitulah saya sadar, orang tua saya tidak salah ketika memutuskan bahwa saya tidak akan dibelikan sepeda motor waktu SMA.

Terus terang, kehadiran sepeda motor ini sangat berguna bagi saya. Dan juga orang disekitar saya. Dan saya punya banyak kenangan bersamanya.

Meski sudah punya sepeda motor, rasa rindu untuk kembali bisa memiliki sepeda tetap ada. Dan semakin lama saya semakin merindukan yang namanya sepeda ini. Apalagi setelah event Bike to Campus yang diselenggarakan teman-teman saya sekitar tahun 2011 lalu. Saya bahkan rela meminjam sepeda keponakan saya dan membawanya ke kampus yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Apalagi ditambah padatnya lalu lintas yang beresiko untuk pengendara sepeda seperti saya.

Melelahkan? Ya memang melelahkan mengendarai sepeda dipagi hari sejauh beberapa kilometer ke kampus, berkeliling kampus, dan sorenya kembali mengayuh sepeda ke rumah pemiliknya sejauh beberapa kilometer. Tapi, saya sangat antusias. Kembali saya ingat perasaan senangnya bersepeda ketika masih kecil, belasan tahun yang lalu.

Saya sempat ingin merealisasikan rencana membeli sepeda ketika tahun 2009-2010. Ketika itu, saya sempat dapat beasiswa untuk jangka waktu satu tahun ajaran. Tapi, tidak terealisasi. Uang nya habis untuk hal lain, seperti untuk perawatan sepeda motor, dan juga kebutuhan hidup lainnya.

Ah, hidup ini indah… sepeda, kita pasti bertemu lagi 😀

Saya dan Sepeda #Bagian1 – Childhood

Masa kanak-kanak

Dari semua benda yang ada di dunia ini, sepeda adalah salah satu yang paling sukai. Saya masih ingat betul kenangan-kenangan semasa kecil saya dengan benda ini. Masih saya ingat pertama kali belajar mengendarai sepeda. Waktu itu saya terjatuh bersama sepeda kedalam selokan, juga bersama dengan sepupu dan beberapa teman yang membantu mendorong sepeda. Saya tidak menangis, malah saya sangat senang, karena itulah pertama kalinya saya menunggangi sepeda. Meski belum mahir.

Saya masih ingat waktu-waktu itu, ketika saya tinggal di rumah nenek selama beberapa tahun untuk mengaji di guru mengaji setempat. Sambil tentunya bersekolah TK sampai dengan kelas 2 SD. Itu adalah masa kecil yang tidak akan pernah saya lupakan.

Ilustrasi

Sepeda yang pertama kali saya kendarai adalah sebuah sepeda kuno, dengan model kurva berbentuk U. bentuk tersebut memudahkan saya dan beberapa sepupu saya untuk mengendarainya, karena kami waktu itu masih kecil-kecil. Dan sepeda yang cocok untuk kami hanya satu, sepeda berbentuk kurva U itu. Saya dan seorang sepupu saya yang laki-laki sering berlomba untuk mengendarainya.

Namanya Muhammad Fajar Awal, biasa dipanggil Awal. Dia adalah sepupu, sekaligus sahabat saya sejak kecil. Kami banyak melakukan hal bersama-sama. Sejak kecil kami berada dalam satu kelas, mulai dari mengaji, TK sampai dengan kelas 2 SD. Setiap pulang sekolah saya dan dia pasti berlomba secepat mungkin untuk sampai ke rumah untuk mengambil sepeda dan mengendarainya kemana-mana.

Melihat persaingan itu, paman saya berinisiatif untuk menambahkan boncengan untuk sepeda itu. Jadi kami bisa bersepeda bersama-sama dengan satu sepeda. Hanya sepeda berkurva U itu. Kami tidak minta dibelikan sepeda, karena tahu itu bukan permintaan yang mudah dikabulkan.

Sepeda, bagi kami waktu itu adalah segalanya. Sepeda membuat saya ingin cepat bangun pagi, sekolah dengan semangat dan mengaji sebaik-baiknya. Saya selalu tidak sabar untuk bersepeda. Karena sepeda membuat saya bisa berkeliling ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Sejauh kaki bisa mengayuh, sejauh jalan masih terbentang, dan yang penting orang-orang tua tidak tahu sejauh mana kami bersepeda. Sepeda membawa kami ke tempat-tempat mengagumkan.

Suatu saat saya, sepupu dan beberapa orang teman bertualang dengan sepeda, dan menemukan satu tempat yang dinaungi pohon-pohon besar, beralas rumput-rumput lebat, juga ditambah semilir angin sepoi-sepoi. Tempat yang indah untuk melepaskan kepenatan sepulang sekolah. Kami sering kesana untuk bermain atau bahkan belajar. Seperti surga kecil yang kami kuasai. Kami menamakannya tempat bertamasya, lucu juga kalau difikir :mrgreen: . Tapi itulah anak kecil, tempat itu adalah tempat terbaik yang pernah saya datangi.