Menu Close

Tag: Sidrap

Hari Kedua, Survey Sidrap

Beralih ke sapi

Setelah melakukan survey mengenai pengolahan padi pada hari pertama (belum selesai ternyata), survey Kawasan Perekonomian Terpadu di Kab. Sidrap di hari kedua kami lanjutkan dengan survey peternakan sapi. Kami melakukan survey ini langsung di pusat nya. Sentra peternakan sapi ini terletak di Kecamatan Pitu Riase, yang letaknya lebih jauh lagi dari lokasi survey kami pada hari pertama. Kurang lebih membutuhkan 30 menit untuk tiba disana.

Baru menginjak daerah itu

Pitu Riase baru kali ini saya datangi. Karena nya kami harus bertanya untuk mengetahui jalan menuju kesana. Perjalanan kesana cukup menyenangkan lah. Meskipun kondisi jalannya tidak 100% mulus. Memasuki daerah itu, kami langsung menanyakan kepada penduduk lokasi peternakan sapi. Kata mereka lokasi nya masih jauh, perjalanan kesana menjadi semakin menanjak. Pitu Riase ini punya pemandangan yang indah. Dikelilingi oleh perbukitan yang ditumbuhi tanaman-tanaman yang tumbuh subur. Kebanyakan dari tumbuhannya memang hanya rumput dan pepohonan yang saya juga kurang tahu namanya apa.

Mengenai jenis rumputnya, ada satu jenis yang sudah sering saya dengar tapi baru kali itu saya lihat langsung. Namanya rumput gajah. Sama dengan namanya, ukurannya memang besar. Tebakan saya pertama kali, saya yakin kalau itu adalah tebu. Tapi tidak sebesar tebu juga, pasti tebu nya masih muda, pikir saya waktu itu.

Terus melanjutkan perjalanan hingga ketinggian 180 meter dari permukaan laut

Setelah melalui padang rumput yang begitu luas menghampar diperbukitan, akhirnya kami melihat sapi yang sedang merumput. Aha! Pencarian sepertinya sudah menemukan jalan keluarnya. Tapi kenapa sapi nya sangat kurang, pikir kami waktu itu. Padahal daerah ini adalah sentra peternakan sapi. Kami berinisiatif untuk menelusuri jalan lebih jauh, dan akhirnya menemukan gerbang PT Berdikari United Livestock (BULI) Bila River Ranch. Melihat kata “Ranch” pada besi melintang itu, saya semakin yakin kalau kami akan segera menemukan banyak sapi disana.

Perjalanan terus kami lanjutkan sampai melewati kantor PT BULI, kata teman saya, kami harus terus melanjutkan perjalanan untuk memperoleh sebanyak mungkin data. Sampai dengan saat itu, saya hanya sempat mengambil beberapa gambar yang sapi nya masih sedikit. Kami harus menemukan peternakan lain. Sampai jauh, berkilo-kilo meter perjalanan mendaki dengan sepeda motor bebek saya, medan menjadi semakin menantang. Jalan yang tadinya mulus beraspal menjadi tanah berlumpur, ditambah pendakian lagi. Berulang kali kami singgah bertanya menanyakan peternakan sapi didaerah itu. Penduduk disana cukup bersahabat menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, tapi jawaban nya itu kadang tepat, dan kadang malah menyesatkan. Contohnya waktu kami bertanya lewat jalan mana, yang kiri atau yang kanan, ada yang bilang lewat kiri saja, ada yang bilang sebaliknya. Jadi kami yang pendatang ini harus memasukinya satu per satu, melewati tanah yang becek plus menanjak. Sehinga parner saya, Dana harus berulang kali turun dari motor supaya tidak jatuh.

Ketinggian tanah menjadi semakin menanjak, dilihat dari indikator ketinggian tanah GPS kami. Ketinggian tak terasa sudah mencapai 180 meter lebih. Baru satu rumah yang memiliki sapi yang kami singgahi (sebenarnya ini tidak perlu kami survey, karena jumlah sapi yang diternakkan cuma 1 ekor) tapi karena ini merupakan narasumber kami yang pertama, kami tanyakan saja pertanyaan-pertanyaan sesuai kuesioner. Sekalian untuk mengecek sejauh mana kesiapan kami untuk survey peternakan sapi ini. Masih mencari pola interview yang paling tepat lah, kurang lebih.

Masih dengan kondisi jalan yang kurang bersahabat, kami terus melanjutkan perjalanan yang semakin mendaki. Beberapa pendakian berhasil kami lewati. Diujung mata nampak sebuah pendakian dengan jalan becek yang sangat curam. Saya menjadi ragu untuk melanjutkan perjalanan. Kutanyakan ke Dana, dia juga berpendapat sama dengan saya.

Kembali ke PT BULI

Hari sudah semakin siang, kamera sudah mengabadikan beberapa hal yang harus kami abadikan. Jembatan, jalan, peternakan sapi, irigasi, sumber air peternakan, jaringan listrik, dll. Kami harus kembali lagi kejalan menuju PT BULI, yang merupakan peternakan sapi terbesar disana (mungkin juga di Sulawesi Selatan). Kami langsung menuju kantor nya untuk meminta beberapa informasi. Tidak banyak yang bisa kami lakukan waktu itu, karena pegawai sedang tidak berkantor. Karena hari itu adalah hari Sabtu. Hanya beberapa orang yang terlihat duduk sambil berbincang-bincang. Meskipun tanpa surat, kami cukup berhasil untuk mendapatkan beberapa data penting soal peternakan tersebut. Beruntung karena salah seorang diantara mereka cukup baik ditanyakan bebrapa pertanyaan. Beliau juga membawa kami pada maket peternakan. Luas peternakan tersebut kurang lebih 6000 Hektar, sekali lagi, enam ribu, bukan enam ratus. Jadi anda dapat membayangkan betapa luas lahan yang disiapkan untuk memelihara sapi-sapi Brahman mereka. Jumlah sapi yang mereka ternakkan juga sangat banyak, mencapai 9-11 ribu ekor.

Kandang-Sapi-BULI-Ranch-4

Sapi-sapi Impor

Kami diperbolehkan untuk pergi ke kandang besar sapi mereka. Dari jalan raya, kami memang hanya melihat beberapa ekor sapi saja, namun masuk ke kawasan kandang besar mereka, barulah kami lihat betapa banyak sapi yang mereka ternakkan. Mulai dari yang kecil sampai dengan yang tingginya hampir mencapai 2 meter. Punuk nya juga besar-besar. Makanan mereka juga beragam, ada dedak dan juga ada rumput gajah yang sudah diperhalus. Mereka makan sesuka hati, dan buang air pun demikian. Kandangnya memang terlihat kotor, karena mereka tidur diatas kotoran mereka sendiri.

Bertemu dengan si penunggang motor trail

Ditengan perjalanan kami mengambil gambar di kandang, kami didatangi seorang pemuda yang menunggangi sebuah motor trail Kawasaki KLX 150, ya saya hafal betul tipenya, karena saya juga penggemar motor itu. Dia kelihatan tergesa-gesa mendatangi kami. Dia menanyakan “kami dari mana?” Kami bilang “dari Unhas”, “kenapa mengambil gambar?” Kami jawab “ini tugas kuliah”. Dia tanya lagi, “dosen siapa yang suruh?” Kami tidak menjawab. Dia tanya lagi, “kalian angkatan berapa?”, kami jawab “angkatan 2008”. Lanjut lagi, “Jurusan apa?”, kami jawab, “Arsitektur”.

Hampir saja kami “dapat bagian” saat itu. Untung kami bukan anak peternakan Unhas. Dia sendiri notabene adalah alumni peternakan Unhas angkatan 2003, yang bekerja di PT BULI (namanya tidak usah disebut :)), seandainya kami anak peternakan, mungkin sudah dia sikat. Karena dia bilang kami terlihat sombong, ambil gambar tanpa seizin dia lagi.

Setelah melalui percakapan singkat, dia bersedia membawa kami keliling peternakan untuk melihat beberapa kandang sapi. Dia sendiri mengatakan, untungnya kami anak Unhas, kalau bukan, kami tidak akan diizinkan untuk mengelilingi kandang. Dia cukup baik, menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, berbagi cerita mengenai perkuliahan, mengenai pengalamannya, dll.

Dia juga meminta kami untuk menyampaikan kepada teman-teman di jurusan Arsitektur supaya dapat merancang kandang sapi yang baik yang bisa diterapkan di PT BULI ini, melihat keadaan kandang mereka yang kurang baik penataannya, kami sih manggut-manggut saja, dia terlihat sangat detail dalam menjelaskan apa-apa yang harus diperbaiki di desain kandang sapi mereka.

Lanjutkan perjalanan mencari sapi

Lokasi peternakan yang punya banyak sapi juga kami temukan di Desa Lagading, berdasarkan info dari penunggang motor trail tadi serta penduduk setempat. Peternakan disana tidak seluas milik PT BULI, dan ternaknya juga tidak sebanyak milik PT BULI. Kami langsung menuju salah satu peternakan disana. Dari peternakan itu, kami juga memperoleh beberapa informasi seputar peternakan mereka. Dan kami juga sempat berfoto-foto diatas bukit peternakan yang pemandangannya luar biasa indah nya. Dari sana kami dapat melihat danau Sidenreng dari kejauhan. Aksi foto-foto kami harus terhenti karena baterai kamera kami lemah, kami harus mencari masjid untuk mengisi ulang baterai. Masjid sudah ditemukan, baterai sedang diisi, kami shalat, setelah itu kami tertidur dalam masjid. Meskipun baterai tidak sampai penuh, kami segera meninggalkan masjid dan melanjutkan perjalanan.

Perjalanan kami lanjutkan lebih jauh kedalam desa Lagading, mencari peternakan sapi lainnya, dan akhirnya kami mendapatkan peternakan milik H. Laugu. Meskipun tidak bertemu dengan H. Laugu, kami sempat menemui istri beliau, dan bersedia untuk memberi beberapa informasi seputar peternakannya, meskipun beliau tidak mengetahui semua apa yang kami tanyakan. Kami juga sempat turun ke sumber air peternakannya didekat sawah, yang kami lalui melewati penurunan yang cukup curam.

Hari sudah semakin gelap, kami berinisiatif untuk segera pulang, meskipun survey peternakan sapi belum selesai. Kami memutuskan untuk menyelesaikannya esok hari, sekalian merampungkan survey pengolahan padi yang juga belum selesai sehari sebelumnya. Kami berangkat pulang menuju Amparita setelah shalat maghrib di desa Lagading. Perjalanan setidaknya membutuhkan waktu 30 menit sebelum sampai di tujuan.

Survey Sidrap, Perjalanan Hingga Hari Pertama

Sedikit bercerita tentang dinamika survey lapangan pengembangan wilayah dan kota

Berangkat dari Kota Makassar kurang lebih pukul 9 malam menuju Kab. Sidrap yang jaraknya kurang lebih 170 km membutuhkan stamina yang prima. Bukan saja karena gelapnya malam yang harus ditembus, faktor lain yang membuatnya lebih berat adalah kondisi fisik yang sudah cukup terkuras karena cukup padatnya kegiatan yang saya lalui mulai dari pagi sampai malam harinya.

Salah satu faktor yang membuat stamina ku cukup menurun adalah, belum makan, saudara-saudara skalian. Dalam perjalanan (masih dalam perjalanan) saya dan rekan saya merencanakan untuk singgah dulu untuk makan malam. Akhirnya kami singgah disalah satu warung makan Sari Laut di daerah Tamalanrea, Makassar. Sebelumnya saya dan rekan survey saya di Sidrap (Dana) singgah sejenak didepan gerbang perumahan BTP untuk berangkat bersama teman-teman lain (2 orang) yang juga survey, namun mereka di daerah Kab. Pinrang yang jaraknya juga cukup jauh, kurang lebih sama dengan jarak lokasi survey saya.

Makan malam nya lumayan enak, sekali-sekali makan di Sari Laut. Lagian makannya juga sudah termasuk kedalam pendanaan survey kami. Setelah makan, kami bergegas melanjutkan perjalanan ke daerah survey masing-masing. Perjalanan Tim Survey saya dan Tim Pinrang kami lakukan beriringan. Kami juga sempat singgah di salah satu pompa bensin Pertamina di daerah Kab. Barru, Mallusettasi’. Selain mengisi bahan bakar motor, kami juga menyempatkan diri untuk minum dan cuci muka untuk menghilangkan rasa kantuk. Sempat juga mengambil foto disana. Perjalanan dilanjutkan kembali, sampai di kota Pare-Pare, barulah kami terpisah, karena untuk menuju ke Sidrap, saya harus berbelok ke arah ke kanan, sedangkan Tim Pinrang lurus saja.

Tiba di Sidrap

Kurang lebih empat jam perjalanan, akhirnya tim saya sampai di rumah nenek rekan saya (Dana) di daerah Amparita, Kab. Sidrap untuk menginap sebelum turun ke lokasi survey pagi harinya. Kedatangan kami sudah ditunggu-tunggu oleh tuan rumah sejak malam hari. Tiba disana, kami segera beristirahat untuk persiapan survey esok hari yang pastinya membutuhkan stamina yang OK.

Pagi harinya, meskipun agak terlambat bangun, kegiatan dimulai dengan shalat subuh dahulu. Setelah shalat subuh, makan kue, minum teh dan briefing kecil-kecilan dengan tuan rumah yang jauh lebih tahu lokasi survey kami. Tentu saja mereka tidak ikut ke lokasi, karena mereka sudah berusia lanjut. Mereka menjelaskan bagaimana untuk sampai di lokasi survey (Kec. Sidenreng untuk survey Persawahan dan Kec. Pitu Riase untuk survey peternakan sapi), diperjelas dengan menunjukkan nya di peta Sulawesi Selatan yang saya bawa dari Makassar.

Berangkat ke lokasi survey

Setelah persiapan sudah lengkap, GPS, kamera digital, HP, kertas kuesioner, peta, dan peralatan menulis lainnya sudah siap, kami segera berangkat ke lokasi survey dengan motor Shogun SP hitam saya tentunya. Kami sempat singgah dirumah keluarga Dana yang berada di Kec. Pangajene, Sidrap untuk bertamu sejenak, tuan rumah juga menawarkan untuk menginap dirumah nya. Setelah dari rumah keluarga Dana, kami singgah juga di toko untuk membeli bekal makanan dan minuman.

Memulai survey

Sampai di Kec. Sidenreng, Sidrap. Kami mengawali survey dengan mencari pabrik/gudang beras, yang ternyata jumlahnya sangat banyak. Dapat dilihat dari letaknya yang cukup berdekatan, kurang lebih hanya berjarak beberapa ratus meter dari yang lain. Masya Allah, pabriknya saja sudah banyak, apalagi sawah nya. Pokonya, sejauh mata memandang, sawah terbentang luas didepan. Betapa subur nya daerah ini. Tidak heran kalau Kab. Sidrap menjadi lumbung padi Sulawesi Selatan, bahkan nusantara.

Sawah-Jl.-Salo-Mekko-dkat-PB-199

Sawah di Sidrap

Pabrik pengolahan padi ini sangat penting untuk kami survey, untuk menggambarkan alur, mulai dari sawah sampai kepada konsumen, sehingga tujuan dari survey ini yaitu untuk memperlihatkan potensi kawasan ekonomi terpadu kepada investor dapat tercapai dengan baik. Jadi survey nya memang harus mantap.

Mengawali survey cukup membuat nervous, karena kami masih mencari cara yang tepat untuk memperoleh data yang kami butuhkan seperti: Nama pabrik, koordinat, nama pemilik, luas area, jumlah produksi, biaya produksi, daerah distribusi, dll. Dan ini membutuhkan sedikit proses tanya jawab dengan pemilik pabrik. Dan sayangnya tidak semua pemilik pabrik beras (PB) ada ditempat, kebanyakan yang kami peroleh hanya pekerja nya saja. Dan tidak semua yang kami tanyai dapat memberi jawaban yang kami butuhkan. Karena ada yang masih baru bekerja disana, dan info lebih lengkapnya hanya diketahui oleh pemilik PB. Ada juga PB yang memiliki penanggung jawab, yang dapat ditanyakan soal PB tersebut.

Selain proses tanya-jawab dengan orang-orang di PB, kami juga harus mengambil koordinat tempat itu. Yang ini sih tidak terlalu susah. Cukup melihat di GPS berapa koordinat nya. Dan mudahnya lokasi nya yang berada disitu saja. Nah, berbeda dengan PB, sawah ini lah yang cukup sulit menentukan yang dibagian mana yang akan diambil koordinat nya, melihat luas sawah yang sejauh mata memandang tadi. Bisa keok kami kalau harus mengambil semua titik di area sawah yang batas nya jauh sekali. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil koordinat sawah disekitar PB saja. Gambar-gambar tak lupa saya abadikan untuk kelengkapan data survey, gambar pabrik, jalan, sawah, peralatan PB, irigasi, juga jembatan.

Kendala-kendala

Kendala lain yang cukup mengganggu proses pengambilan data yaitu adalah soal izin. Izin dengan birokrasi meskipun tingkat kecamatan ini ribet sekali, mereka minta surat ini lah, harus ada tembusan kepada itu lah, dibuat oleh siapa lah, dan lain-lain, yang semua nya memberatkan itu. Begini lah rumit nya birokrasi di negara kita. Daerah mereka mau diperkenalkan untuk investor, malah mereka yang mempersulit diri sendiri. Dan juga kami tentunya.

Terus terang, kalau soal izin ini, pengalaman pahit sudah banyak saya alami selama berkuliah. Kami, program studi PWK (Pengembangan Wilayah Kota) memang harus berhadapan dengan para Satuan Kerja Perangkat Kerja Daerah (SKPD) yang bertugas di kantor-kantor, khusunya di kantor kepala desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Yang semua nya membutuhkan proses surat-menyurat yang bertele-tele. Kalau tidak punya surat, yah dapat datanya juga susah.

Akhirnya kami memutuskan untuk tidak perlu meminta data sama pak Camat, langsung terjun ke lapangan saja.

Survey tak berhenti sampai disini

Hari sudah menjelang malam, kami memutuskan untuk segera pulang ke Amparita untuk beristirahat. Tidak semua data yang diharapkan terlengkapi. Kurang lebih masih berkisar 20-30 % dari keseluruhan. Namun ini sudah banyak menguras energi, karena kami harus berkeliling ke tempat-tempat yang memang belum pernah kami kunjungi sebelumnya.

Malam harinya, kami menginventarisir data-data yang kami peroleh selama hari pertama survey, sambil menanyakan kepada teman-teman yang juga survey di beberapa kabupaten lain. Cerita senang, dan sedih kami bagikan satu sama lain. Begini lah dunia survey, tapi ambil hikmah nya saja. Pengalaman lah yang paling saya utamakan dalam proyek ini.