Menu Close

Tag: Singapura

Apa yang Membuat Salut dengan Negara Lain

Mengingat kembali saat-saat dimana saya dan teman-teman sekelas ke beberapa negara (Malaysia, Singapura dan Thailand) membuat saya kembali ingin menulis beberapa hal yang menarik sewaktu berada disana. Pada umumnya, fasilitas-fasilitas yang ada di negara-negara tersebut sedikit berada diatas negara kita, Indonesia.

Indonesia-Menyenangkan

I <3 Indonesia

Negara tetangga kita, Malaysia khususnya Malaysia bagian barat (hanya sempat kesana) memiliki sarana dan prasarana yang baik. Jalan-jalan raya yang mereka miliki kondisinya mulus, dan sejauh perjalanan di jalan utama, semua nya highway (jalan tol)! Jadi bisa dibayangkan, kalau waktu tempuh antar satu tempat ke tempat lain tidak memakan waktu yang lama. Sarana transportasi lain yang tidak/belum ada di Indonesia adalah monorail nya. Kurang lebih sama dengan yang ada di Singapura. Di sana lah saya untuk pertama kalinya menumpangi monorail. Rasanya agak terguncang-guncang juga sih. Apalagi pas masuk tikungan, keretanya juga ikut miring! :mrgreen:

Kalau di Singapura, selain dengan monorail nyaris semua fasilitas lebih baik dari negara kita. Secara, mereka jauh lebih disiplin daripada kita. Hukum di negara mereka sangat ketat, dan untung saja saya tidak tertangkap kamera sewaktu meludah di pekarangan sebuah mall di kawasan Orchard. Hampir saja saya kena denda ratusan dollar atau bahkan ditahan disana. Singapura memang tidak seluas ibu kota Jakarta, tapi penataan ruang nya jauh lebih baik! Mereka punya ruang terbuka (hijau dan non-hijau) yang lebih banyak. Dan penduduk Singapura, tidak bisa tebang pohon meskipun ada di wilayah rumah mereka sendiri. Harus ada izin dari pemerintah untuk itu.

Kepemilikan tanah di Singapura sepenuhnya adalah milik negara. Warga hanya memiliki hak pakai.

Lain lagi dengan Thailand, berhubung karena saya tidak lama disana. Dan belum sempat ke Bangkok (waktu itu lagi banjir disana) jadi saya tidak bisa bicara banyak 🙂 . Tapi, satu hal yang membuat saya salut dengan Thailand adalah, mereka begitu menghargai. Menghargai rajanya (foto beliau dipajang dimana-mana!),  alam nya, sampai dengan budayanya.

Tujuan saya untuk menulis ini bukan untuk merendahkan negara sendiri. Negara kita juga punya banyak kelebihan daripada negara lain. Dan terkadang saya bergumam sewaktu berada diluar negeri:

Sebagus-bagusnya negara lain, tapi masih lebih menyenangkan berada di negara sendiri.

Love you, Indonesia! Get well soon!

Hari Kedua di Singapura, Fun and Fool

Setelah hari pertama mengunjungi beberapa tempat wajib, seperti KBRI Singapura, Merlion Park, Esplanade, hari kedua kami menjadi lebih bebas untuk berkeliling Singapura. Tentu tetap dalam satu grup. Hari kedua ini lebih banyak dimanfaatkan untuk berbelanja, yah hitung-hitung masih ada dollar Singapura di dompet. Masih bisa dipakai untuk beli souvenir buat keluarga dan teman-teman di Indonesia.

Hari itu kami sempat makan di Mr Teh Tarik, semacam food court yang menjajakan beragam makanan dan minuman halal. Makanan yang saya santap adalah nasi lemak (nasi uduk dalam bahasa Indonesia). Rasa nya lumayan lah. Hari itu agak mendung. Perjalanan yang kami tempuh menyusuri arena balap Formula 1 sampai dengan kawasan pulau Sentosa. Oh iya, kebetulan waktu itu (11 Oktober 2011) beberapa minggu sebelumnya (25 September 2011) baru saja diadakan ajang balap F1, masih terlihat sisa-sisa peralatan yang digunakan saat balapan berlangsung. Beberapa properti balap seperti tiang lampu, rangka tribun penonton masih dalam proses knocking down.

singapore flyer

Singapore Flyer

Kami juga pergi ke Singapore Flyer yang letaknya berada di kawasan waterfront (tepian air). Disana lah pertama kalinya saya melihat langsung mobil Ferrari dan Lamborghini, yang parkir dihalaman Singapore Flyer. Cuaca menjadi gerimis.

Ada juga Bugis di Singapura

Hari itu kami menyempatkan diri ke Bugis Junction, di Bugis Street. Saya sangat penasaran melihat tempat itu, mau mencari tahu apa hubungannya Singapura dan Bugis? Sampai disana yang terlihat adalah kawasan perbelanjaan yang terdiri dari banyak gedung-gedung. Cukup elite juga kawasannya. Bangga juga rasa nya jadi orang bugis. Meskipun disana mungkin saja tidak ada orang yang bisa berbahasa bugis, ataupun ber darah bugis.

Bugis-Junction

Bugis Junction

Fool again

Salah satu kejadian yang berkesan juga terjadi di Bugis Junction. Rasa nya cukup menakjubkan melihat kawasan perbelanjaan di kawasan tersebut, konsep mall nya juga sangat bagus. Sangat banyak pilihan. Semua nya dapat ditempuh hanya dengan bejalan kaki. Aha, saya punya misi rupanya. Sebuah misi yang sudah lama kurencanakan. Saya ingin melihat langsung toko retail apple yang keren itu (kalau ada di Singapura). Saking penasarannya saya, celingak celinguk mendongak keatas, saya tidak melihat kalau ada papan kuning (yang menandakan lantai licin). Tidak sadar, saya menendang nya. Suaranya sangat keras. Dan banyak orang yang terkejut. Saya baru sadar ketika teman saya juga berbalik kearah saya. Sebuah kebodohan lagi terjadi, saudara-saudara! Teman-teman yang bersama saya waktu itu tidak berhenti tertawa. Saya tidak terlalu peduli, orang-orang Singapura juga tidak peduli. Mereka tetap melanjutkan perjalanan mereka. Go Ahead!

Meski tidak menemukan toko retail resmi apple. Beberapa toko juga menjual barang-barang apple, seperti iPad, iPod, iPhone, dan Mac. Mereka juga menyediakan beberapa barang yang bisa di uji coba langsung. Rasa nya asik juga sempat memainkan iPad 2.

Ke toko buku

Saya dan beberapa teman juga menyempatkan diri ke toko buku, nama nya Kinokuniya. Wow, banyak juga koleksi buku nya. Tapi? Kebanyakan bahasa Inggris, ya iya lah. Ada juga bahasa lain, tapi bahasa mandarin dan Jepang. Banyak buku yang keren, dan salah satu buku yang saya incar dan sulit sekali ditemui di Indonesia ada disana, “4 Hour Work Week” karya Timothy Ferriss. Tapi kendala nya selain buku berbahasa Inggris, adalah harga nya. Kalau dirupiahkan sekitar 200 ribu lebih. Lagian saya juga sudah punya dalam bentuk ebook. Tapi juga dalam bahasa Inggris.

Happy Deepavali (Diwaali)

Selanjutnya kami pergi ke kawasan little India. Cukup semarak juga, ada semacam pasar dadakan yang diadakan disana, untuk merayakan hari Deepavali. Berjejer hiasan-hiasan jalan yang berwarna-warni bermotif kembang-kembang. Indah.

Malam hari nya kami menonton pertunjukan Song of the Sea di pulau Sentosa. Perjalanan kesana cukup asik juga. Menggunakan moda transportasi yang unik. Tapi kami harus menunggu beberapa saat, karena waktu pertunjukan untuk kami adalah puku 08.40 malam waktu setempat, kami harus menunggu kurang lebih satu setengah jam sebelum masuk. Saya sempat terkejut dengan sepasang orang mandarin yang menawarkan kepada saya dan beberapa teman saya tiket pertunjukan secara cuma-cuma. Sepertinya mereka terburu-buru sehingga tidak sempat menonton pertunjukan tersebut. Tiket pertunjukan yang mereka berikan lebih cepat satu jam dari jadwal kami, tapi kami memilih untuk menunggu giliran kami.

Bye bye, Singapore. Next, Thailand!

OK, kami sudah selesai dengan Singapura. Perjalanan selanjutnya ke Thailand! Yeeahh…. Sebenarnya, tidak ada rencana ke Thailand dalam rencana yang sudah kami susun, tapi karena ada waktu luang satu hari, maka kami putuskan untuk kesana. Sempat terancam batal juga, tapi kami semua sudah terlanjur ingin kesana. Dan Alhamdulillah, malam itu juga kami ke Thailand. Dengan menggunakan bus travel kami tentunya. Perjalanan dari Singapura ke Thailand melintasi wilayah Malaysia dan beberapa kali kami harus singgah untuk pemeriksaan passport. Perjalanan itu kurang lebih menempuh 800 km lebih. Cukup melelahkan, tapi akan sangat menyenangkan! 🙂

Suatu Waktu di Singapura

Perjalanan dari Kuala Lumpur, Malaysia berlanjut ke Singapura. Malam itu juga kami menempuh perjalanan kurang lebih 350 km dengan bus menuju Singapura. Ditengah perjalanan kami sempat singgah beberapa kali untuk makan (maklum, kami semua lapar waktu itu) 😯 . Disini lah kami melihat sebuah konsep baru dalam bidang transit perjalanan darat.

Di Malaysia, berhubung karena jalan nya rata-rata highway (tol) sangat jarang ditemukan pedagang-pedagang makanan yang lazim ditemui di Indonesia. Pedagang-pedagang yang bebas menjual makanan dipinggir jalan. Mereka mengusung konsep food court (kantin) yang terintegrasi dengan beberapa fasilitas pendukung lain, seperti Mushallah (Melayu: Surau), toko grosir, hingga Pompa bensin. Sejujurnya, beberapa tempat di Indonesia juga begitu. Tapi kebanyakan yang saya temui masih berada di pulau Jawa. Daerah Indonesia timur (kebetulan saya tinggal di Provinsi Sulawesi Selatan) belum mengadopsi sistem seperti itu. Jalan pun masih banyak yang rusak. 😯

Kesan pertama menyantap makanan setempat

Tiba di food court, kami memesan makanan. Beberapa menu menjadi pilihan, yang saya pilih adalah nasi dan ayam sebagai lauk nya, tambah sayur tentunya. Dari penampilan saja sudah cukup asing menurut saya. Warna nya dominan kehijau-hijauan. Tapi tak apa lah, ini mungkin hanya tipuan warna saja, siapa tau rasa nya enak. :mrgreen:

Tempat duduk sudah dapat, saatnya makan! Dari suapan pertama pun lidah saya sudah merasa beda rasanya. Rasa makanan nya mirip makanan India! Rempah-rempah nya sangat terasa dilidah. Go ahead! Perut harus terisi cukup, perjalanan ke Singapura masih jauh.

Hal yang menarik lainnya di food court ini adalah peminta sumbangannya. Kalau di Indonesia peminta sumbangan identik dengan pakaian seadanya, di Malaysia mereka berpakaian santun, rapi, tidak bisa dibedakan dengan warga biasa lainnya, dengan pakaian corak bunga-bunga tentu nya. Pada awal nya saya ragu, tapi melihat tingkah laku nya yang sopan, saya memutuskan untuk memeberi nya ringgit. 🙂

Selanjutnya, kami shalat di surau yang tersedia di area food court tersebut, dan melanjutkan perjalanan ke Singapura. Yeee….  😀

Tiba juga di Singapura, tapi…

Pagi-pagi sekali (10 Oktober 2011), kami tiba di imigrasi Tuas untuk pemeriksaan sebelum masuk ke Singapura. Kami melintasi jembatan yang menjadi batas Malaysia dan Singapura. Kantor imigrasi ini sangat luas, mirip dengan gate antrian di bandara. Barang-barang kami bawa turun untuk pemeriksaan. Masih pagi betul, tapi terlihat banyak sekali orang yang mengantri untuk masuk Singapura melalui kantor Imigrasi Tuas ini. Mereka kebanyakan adalah para pekerja dan pelajar yang bermukim di Malaysia.

Satu per satu teman saya sudah melewati proses pemeriksaan paspor, mendapatkan stempel dari petugas imigrasi. Namun tidak semua nya berjalan mulus, belasan dari kami harus mendapat pemeriksaan lebih intensif di kantor imigrasi tersebut. Semua nya adalah laki-laki.

Barang-barang diperiksa, saya agak khawatir dengan pemeriksaan ini. Karena saya membawa satu bungkus rokok (bukan rokok saya). Petugas wanita imigrasi tersebut meminta saya membongkar tas saya dan menemukan rokok, segera dia memerintahkan untuk membuka bungkus rokok itu. Dia menanyakan lagi, apakah masih ada lagi rokok yang saya simpan? Saya bilang tidak ada lagi. Saya fikir dia akan mengamankan rokok itu dan mendenda saya, saya sangat khawatir, bagaimana tidak, denda nya ribuan dollar Singapura! 🙄 Beruntung, ini tidak melanggar peraturan, karena hanya satu bungkus rokok saja. Fiiuuh….

Tiba di KBRI Singapura

Setelah beres dengan ke-imigrasian, kami melanjutkan perjalanan ke KBRI Singapura. Perjalanan kami disambut dengan hujan yang cukup deras. Sebelum kesana, kami diharuskan untuk berbusana batik (kami sudah mengganti baju saat subuh hari di Malaysia) dan juga jas almamater kami. Tiba di KBRI, kami disambut seorang petugas KBRI. Beliau mengajak kami berkeliling di beberapa bagian kantor KBRI. Disana kami diperlihatkan bagaimana proses pengurusan berkas kependudukan, seperti paspor dan lain-lain. Kebanyakan orang yang datang adalah TKI, pelaut dan pelancong yang akan ke Indonesia.

Selanjutnya kami dibawa ke basement untuk menerima sambutan KBRI. Kami tidak disambut di hall atau semacamnya. Maklum, katanya persuratan kami kurang lengkap, dan saat itu juga ada rombongan pengunjung lain yang berkunjung kesana. Tapi, that was fine. Yang penting, beberapa gambar sudah kami abadikan disana. Walaupun beberapa teman-teman bertingkah lucu. Beberapa teman berfoto didepan mobil-mobil mewah di parkiran kantor KBRI. Mungkin untuk keperluan foto profil Facebook atau semacamnya. Claim again! 😎

Aha, Merlion Park! Jangan lupa Esplanade dan Marina Bay

Di Singapura tidak lengap rasanya kalau tidak ke Merlion Park. Ini lah salah satu landmark Singapura. Sebuah patung singa bertubuh mermaid (putri duyung) yang menyemburkan air dari mulut nya. Patungnya besar sekali rupanya!. Disini kami melihat pemandangan waterfront yang sangat tertata. Ada perahu wisata juga, dari kejauhan nampak Marina Bay, hotel dengan bangunan perahu raksasa diatasnya. Juga gedung Art Science Museum yang bentuknya seperti telapak tangan yang menghadap keatas. Akhirnya bisa melihatnya langsung. 😆

Merlion-in-front-of-Esplanade-0

Merlion

Dari merlion park, kami menyeberang jembatan ke Esplanade, gedung yang diselimuti seperti kulit durian diluarnya. Gedung ini dipakai untuk konser dan juga teater. Konsep bangunan ini unik juga, dari esplanade terdapat jalan bawah tanah menuju mall (juga bawah tanah). Luar biasa! Luar biasa juga capek nya berkeliling disana. 😯

Bermaskud untuk mencari jalan keluar menuju bus, kami malah semakin tersesat. Berulang kali kami harus naik turun eskalator, bolak balik dijalan yang sama dan ini sangat melelahkan. Beruntung kami dapat menemukan jalan keluar dan berhasil menemukan bus.

Selanjutnya kami bergerak ke kawasan Sultan, semacam kawasan Arab. Disini kami santap siang di sebuah restoran makanan Indonesia. Akhirnya ketemu makanan Indonesia juga. Makanan nya lumayan enak. Setelah makan kami ke masjid sekitar untuk shalat.

Setelah shalat, waktunya belanja! Di kawasan tersebut banyak penjual barang-barang souvenir, seperti gantungan kunci, baju kaos, tas, barang elektronik (kamera, iPhone, iPod, iPad, dll) sampai mainan anak-anak. Dollar demi dollar Singapura dilepas untuk mendapat barang yang diinginkan. Harganya? Lumayan terjangkau lah. Tapi harus pintar-pintar menawar juga.

Selanjutnya kami ke URA (Urban Redevelopment Authorization). Ini harus kami datangi, mengingat tujuan kami adalah untuk memperdalam ilmu kami dibidang urban and regional development. Mereka punya sumber daya yang sangat lengkap. Mulai dari maket yang luar biasa luas nya. Mereka punya miniatur Singapura! Lengkap dengan bangunan-bangunannya. Teknologi nya juga maju, sangat interaktif dengan interface layar sentuh. Tidak lupa, foto-foto juga, gan! 😎

Subway, mari kita coba!

Tidak lengkap juga rasanya kalau ke Singapura tidak mencoba moda transportasi nya seperti apa. Disana kami juga sempat mencoba menumpangi Subway di Orchard Road. Rasanya seperti di film-film Korea dan Jepang saja (aiih….. Korea – Jepang mode: on) karena biasanya pemandangan tersebut hanya saya lihat di film-film kedua negara tersebut. 😛

singapore-subway

Subway

Setelah mencoba Subway, kami pergi ke tempat lain untuk mencari makan. Kami makan malam di Mr Teh Tarik Eating House.  Menu yang saya pilih adalah Mie ayam. Rasanya lagi-lagi mirip makanan India! Harus membiasakan lidah dengan makanan India nih. Minumnya teh saja. :mrgreen:

Check in di Hotel 81 Geylang

Setelah makan di Mr Teh Tarik, kami bergegas menuju hotel untuk menginap. Kami menginap di Hotel 81 di Geylang. Oh yeah! Belakangan saya ketahui bahwa Geylang adalah sebuah kawasan Red Zone! Disekitar hotel banyak ditemui penginapan-penginapan ‘esek-esek’, dan ini mengundang perhatian kami, mahasiswa-mahasiswa yang penasaran. Hanya untuk bahan pembicaraan dan lelucon saja lah. 🙂

Kamar sudah dikelompokkan, dan diisi dengan maksimal 4 orang per kamar. Saya bersama tiga orang teman saya yang lain di sebuah kamar berukuran sedang, double bed. Fasilitas nya lumayan lengkap lah. Ada AC, TV, dan WC juga pemanas air serta Hair dryer.

Saatnya beristirahat, tapi sebelumnya jalan-jalan dulu, berkeliling melihat keadaan sekitar. Tugas laporan awal juga harus dikerjakan! 😉