Kegiatan Action Planning di Rotterdam

Sudah hampir seminggu ini saya terlibat dalam sebuah kegiatan Action Planning di Feijenoord, Rotterdam. Ini merupakan salah satu bagian dari proses perkuliahan saya disini. Saya bersama sekitar 70 orang mahasiswa master lainnya disibukkan dengan berbagai kegiatan, mulai dari pembekalan materi dari dosen, pengumpulan data, wawancara dengan penduduk setempat, sampai dengan presentasi dan pembuatan poster.

Jadwal kegiatan Action Planning ini hanya dialokasikan selama seminggu, sejak hari Rabu yang lalu. Cukup dan bahkan sangat melelahkan juga, karena pertama, kami harus sering mengunjungi lokasinya, di De Dam, Feijenoord sana, dan kedua proses perkuliahan juga biasanya sampai malam hari. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja, untuk menuju kesana kami harus menyeberang sungai dulu. Jadi, paling tidak harus naik ferry ataupun harus lewat jembatan, yang mana lebih jauh.

So, Action Planning, apa sebenarnya AP ini? Sejauh yang saya tangkap, kegiatan ini berupaya untuk mengidentifikasi keadaan dari suatu lingkungan, kemudian mengambil tindakan untuk mengatasi permasalahan yang ada pada lingkungan tersebut. Boleh jadi terkait dengan masyarakatnya, dan juga tentu saja bisa terkait dengan keadaan fisik dari lingkungan tersebut (misalnya ruang terbuka,dll), tapi tidak menutup kemungkinan, kita juga dituntut untuk bisa mengatasi masalah yang sifatnya intangible (tidak terlihat secara langsung). Seperti halnya yang saat ini terjadi di Feijenoord, yang sering diinterpretasikan sebagai lingkungan yang rawan kriminal, dan tertinggal. Secara umum, “orang-orang” selalu beranggapan negatif terhadap lingkungan ini.

Biasanya kegiatan ini dimulai sejak pagi, dan selesai dimalam hari, sekitar jam 6-7, dan kemudian dilanjutkan esok harinya. Kalau ditanya, tentu saja kegiatan ini sangat menyita waktu, dan tentu saja melelahkan. Kemarin hari Minggu saja, kami kembali menuju lokasi untuk bertemu dengan penduduk setempat terkait dengan program yang kami ajukan. Dan sayangnya hanya ada sangat sedikit orang yang datang.

Respon warga setempat bisa dibilang kurang, dan dari proses wawancara yang kami lakukan beberapa hari yang lalu, kami sangat terkendala dengan sedikitnya orang yang bersedia untuk ditanyai beberapa pertanyaan. Beberapa orang tidak bersedia, beberapa orang tidak bisa berbahasa Inggris (kami tidak bisa berbahasa Belanda dan bahasa Turki/ Arab), dan beberapa orang awalnya bersedia, tapi kemudian harus pergi, karena ada jani. Ada orang yang bersedia memberitahukan namanya, dan ada juga yang tidak, dia meminta untuk menggunakan nama acak.

Meskipun prosesnya tidak mudah, dan sering kali harus berdebat (karena ini kegiatan per kelompok), tapi Insha Allah sangat banyak pelajaran yang bisa saya dapat dari kegiatan ini. Ini pertama kalinya saya terlibat dalam kegiatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat di Belanda, dan juga tantangan lainnya adalah bagaiamana bisa bekerja dengan mahasiswa yang berasal dari latar belakang dan asal yang sangat beragam seperti ini. Kami berasal dari puluhan negara yang berbeda dari benua yang berbeda juga. Semoga dua hari kedepan kegiatan ini bisa kami lakukan dengan baik, dan tentu saja kami bisa lebih tahu lagi mengenai kegiatan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *