Kadang saya bertanya kepada diri sendiri: “kemana nenek-nenek itu?”, entah kenapa saya sampai berfikir seperti itu. Sadar atau tidak sadar, saya sendiri sadar kalau saat ini sudah jarang melihat penampakan nenek-nenek. Apakah karena saya jarang keluar rumah? Tidak. Atau kah semua nenek-nenek yang ada di Indonesia sudah meninggal semua? Juga tidak. Aha! atau kah nenek-nenek sekarang lebih memilih jadi nenek rumahan? Mungkin saja. Atau kah nenek-nenek jaman sekarang lebih memilih untuk berinteraksi via hp, atau internet, jadi mereka tidak perlu keluar rumah lagi untuk panggil cucu nya pulang kerumah untuk makan? Hahahah…. that’s a joke.

Belum pernah saya melihat nenek-nenek yang punya nafsu online sekaliber anak muda jaman sekarang. Mereka lebih fokus untuk menghadapi datang nya malaikat maut sepertinya. Saya masih ingat almarhumah kedua nenek saya dari kedua belah pihak orang tua saya yang sangat rajin beribadah dihari tua nya. Nenek saya yang dijemput duluan oleh malaikat maut menghabiskan waktu-waktu terakhir nya di rumah saja. Beliau sering terlihat memegang tasbih sambil memperhatikan cucu-cucunya yang nakal-nakal. Tapi bukan saya tentu nya. Sepupu-sepupu saya yang masih kecil pelakunya. Nenek saya yang terakhir dijemput apa lagi. Beliau sangat rajin shalat di mesjid, 5 waktu lagi. Jauh dari anak-anak dan cucu-cucu nya yang ke rajin mesjid kalau bulan Ramadhan saja atau waktu shalat Jum’at dan shalat Ied saja.

 nenek-nenek

Tentu saja sangat sedih kehilangan nenek. Beliau kan bisa jadi salah satu role model untuk kita. Bagaimana mereka mendidik kedua orang tua kita yang kemudian menurunkan nya kepada kita generasi selanjutnya. Saya sendiri sangat senang “bergaul” dengan nenek-nenek. Saya selalu merindukannya. Banyak hal yang bisa didapat dari “pergaulan” dengan nenek-nenek. Bagaimana mereka berjuang hidup dulu, bagaimana kenakalan mereka dahulu kala, bagaimana mereka mendapatkan cinta nya, bagaimana mereka mendidik bapak-ibu kita waktu mereka kecil dulu, dan masih banyak lagi.

Nenek-nenek buka hanya tinggal di rumah merenung atau beribadah saja. Mereka juga punya selera humor yang asik. Pernah nenek saya bertanya waktu pertandingan sepak bola ditayangkan di televisi. “Kenapa semua pemain capek-capek berebut bola yang jumlahnya cuma satu itu. Bukannya lebih mudah kalau bola nya ditambah jadi lebih banyak, kan tidak usah lagi capek-capek lari-lari terus untuk berebut bola?” Waduh, kalau begini saya jadi bingung menerangkan jawabannya. “Peraturannya memang begitu, nek” saya pikir itu sudah cukup. Dipertandingan bola yang lain, beliau juga bertanya seperti itu, dengan wajah yang agak kesal, kurang lebih raut wajah nya mengatakan “bodoh sekali pemain bola itu”. Grandma’s.

nenek-nakal
Bukan Nenek Saya

Nah, sekarang dengan populasi nenek-nenek yang semakin langka ini, saya jadi sedikit ilfill. Apa kah kita sudah cukup belajar dari nenek kita? Sebelum terlambat menyesali waktu yang pasti tidak akan terulang. Beruntung juga bagi kita yang sudah sempat menghabiskan waktu-waktu yang berkualitas bersama nenek-nenek kita.

*tulisan ini terinspirasi saat saya mengendarai motor sambil mencoba menghitung nenek-nenek yang sedang nongkrong dipinggir jalan. Ternyata jumlahnya memang sudah semakin sedikit kalau saya bandingkan dengan beberapa tahun lalu, saat masih kecil.

*NB: Bagi teman-teman yang melihat nenek dengan perilaku tak terpuji, sebaik nya diperingati untuk berhenti melakukannya. Karena sesungguhnya waktunya sudah tak lama lagi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *